Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Serangan Di tengah Kebahagiaan


__ADS_3

Kebahagiaan yang Rasyid rasakan saat ini tidak bisa ia ungkapkan dengan Kata-kata. Meskipun beberapa kali Nadin memintanya untuk melepaskan pelukan, tapi Rasyid tetap kekeh. Ia tak mau kehilangan moment super bahagia ini.


"Aku nggak tau mesti ngomong apa, Yang. Aku terlalu bahagia. Tuhan kasih aku rezeki yang luar biasa. Akhirnya Tuhan kasih aku kepercayaan buat jadi seorang ayah.Yang benar-benar seoarang ayah," ucap Rasyid, sembari terus menempelkan wajahnya tepat di lengan wanita cantik ini.


"Aamiin.. aku do'ain, setelah ini kamu bisa lebih dewasa lagi bersikap. Jangan pernah lari dari tanggung jawab. Apa lagi sesuatu yang harus kamu jahat adalah sebuah pernikahan. Itu sangat sakral. Kamu ngerti kan?"


Rasyid menatap penuh kekaguman pada Sang istri. Hatinya terasa sangat sejuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir wanita yang telah berhasil mengaduk jiwanya ini. Sungguh, Rasyid tidak menyangka bahwa gadis barbar yang sering bertengkar dengannya, ternyata adalah wanita lemah lembut yang sukses memberinya kebahagiaan.


"Apakah kamu tau? Aku hampir menyerah mengejarmu. Tapi, ketika aku tahu bahwa di dalam rahim ku ada seseorang yang tidak boleh aku jauhkan darimu, aku berpikir ulang untuk kembali mengejarmu," ucap Nadin sedih.


"Maafkan aku, Sayangku. Seharusnya aku tidak bertindak sebodoh itu. Harusnya aku terus mengengam tanganmu. Sampai kapanpun. Sampai maut memisahkan," ucap Rasyid sedih.


Nadin menatap mata sang suami. Begitupun Rasyid. Mereka saling menatap penuh cinta. Nyatanya cinta yang pernah berusaha mereka tolak itu, nyatanya tubuh semakin subur di hati keduanya.


"Besok, kalo periksa ke dokter, aku ikut ya. Aku ingin melihat sebesar apa bayi kita," pinta Rasyid, manja.


"Bayimu masih sangat kecil, Sayang. Sebesar biji kacang mungkin. Terakhir periksa, mungkin sehari sebelum aku jadi sekertaris mu," jawab Nadin.


"Benarkah? bolehkan besok kita pergi periksa lagi. Aku ingin melihatnya," pinta Rasyid lagi. Manja dan manja.


"Sekarang kamu juga bisa melihatnya. Sini aku ambilkan videonya. Tapi lepasin aku dulu."

__ADS_1


"Oke, tapi aku ikut masuk ke kamar."


Nadin tersenyum. Rasyid bertingkah seperti seseorang yang sedang terserang virus bucin. Kemanapun Nadin melangkah, rasanya sama sekali ia tak ingin kehilangan.


Di kamar pribadi mereka...


Nadin mengambil ponsel dan buku periksa untuk ibu hamil yang ia miliki. Lalu menjelaskan usia dan keadaan bayi mereka sekarang.


"Ini calon bayi kita?" tanya Rasyid semangat.


"Ya, suamiku. Itu calon bayi kita. Masih sangat kecil. Jadi harus benar-benar dijaga. Aku nya nggak boleh stres. Harus jaga makan. Jaga kesehatan. Banyakin istirahat sama jangan telat minum vitamin. Itu sih kata dokter!" ucap Nadin menjelaskan.


Bukannya membalas ucapan itu, Rasyid malah menatap sang istri dengan tatapan gemas ingin segera melawan bibir manis itu.


"Nggak sih! kamu manis. Boleh cium!" pinta pria ini manja.


"Boleh," jawab Nadin pasrah.


Rasyid memeluk sang istri lalu memberikan kecupan di kening. Di pipi dan beberapa kali ia mengecup bibir sang istri.


Kali ini tidak arogan, tetapi lembut sangat lembut. Karena Rasyid tak ingin menyakiti wanita yang ia cintai dan juga bayi mereka.

__ADS_1


"Mulai hari ini, jangan kerja, lakukan apapun yang kamu mau. Yang penting kamu jaga diri dan calon bayi kita. Aku nggak akan maafin diriku sendiri kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu dan bayi kita. Kalian hidupku, Honey! Aku bisa gila tanpa kalian," ucap Rasyid sungguh-sungguh.


Entah ini benar atau tidak, tapi Nadin berusaha menghargai perubahan yang ada di dalam diri suaminya.


Mau bagaimanapun kita kita bisa menyalahkan sebuah perubahan. Sebab perubahan lah yang menjadikan kita menjadi lebih dewasa. Dengan catatan kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian.


Sedang asik bercengkrama, Nadin dan Rasyid di kejutkan dengan suara teriakan seseorang.


Violeta sudah berangkat ke pengadilan karena hari ini Yoga akan menghadapi sidang perdananya.


Terpaksa Rasyid dan Nadin keluar rumah untuk melihat siapa yang datang tidak sopan ke rumah mereka.


Betapa terkejutnya Nadin dan Rasyid, yang datang kerumah mereka adalah Anisa. Wanita itu terlihat habis minum. Ia mengacungkan senjata tajam ke arah Nadin dan Rasyid. Lalu ia juga berteriak mengancam, "Aku sudah bilang kan ha... kalo aku nggak bisa dapetin Rasyid, maka kamu juga nggak j*lang!" teriak Anisa, tanpa basa basi wanita itu pun langsung melakukan penyerangan terhadap Nadin.


Gugup sebab tanpa persiapan, Rasyid pun menghadang serangan itu. Sehingga serangan yang di tujukan untuk Nadin malah menancap tepat di perut Rasyid.


"Rasyid... tidak!" teriak Nadin.


Anisa yang ketakutan langsung menjatuhkan pisau yang ia pegang. Setelah itu ia pun kabur.


Kini tinggalah Nadin yang kebingungan kerena darah terus mengalir dari perut sang suami.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, Nadin pun membantu Rasyid masuk ke dalam mobil dan membawa pria itu ke rumah sakit.


Bersambung


__ADS_2