Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Dalam Pengawasan


__ADS_3

"Aaaaaagggrrrhhh.... kenapa sih?!" teriak Nadin kesal.


"Ahhh... sorry," jawab Rasyid sambil mengelus pantatnya yang sakit.


"Sejak ketemu elu, hidup gue selalu sial. Dasar satpam jelek pembawa sial!" Nadin menatap penuh amarah pada pria yang masih duduk di sampingnya itu.


"Mana ada, tampan begini pembawa sial." Rasyid malah tersenyum bahagia, seakan senang dengan kekesalan gadis itu.


"Tampan elu bilang, mimpi!"


Rasyid masih bertahan dengan senyuman manjanya.


"Harusnya kerjaan gue udah kelar. Udah bersih semua. Tinggal pulang. Kalo kek gini, gue mesti mulai lagi dari awal. Dasar!" Nadin menghentak-hentakkan kakinya kesal.


Rasyid malah terkekeh.


"Tawa aja terus. Dasar satpam gila!" umpat nya lagi sembari merapikan peralatan kebersihannya.


"Dasar terus perasaan! Nggak punya kosa kata yang lain ya?" ledek Rasyid.


Nadin melirik kesal.


"Makanya, siapa suruh melawan tadi. Janji adalah janji, Nona! Mana bisa lari dari janji," ucap Rasyid sembari mendekatkan wajahnya, tepat di depan mata Nadin.


"Ihhhhh... jangan deket-deket. Bau tau!" Nadin mendorong dada pria iseng itu.


"Pokoknya kalo kamu nggak mau nepatin janji, aku bakalan bikin hidup kamu jauh lebih sengsara dari ini. Mengerti!" ancam Rasyid senang.


"Bodo amat! Dasar penindas gila. Jerapah menjengkelkan. Satpam jelek! hufff.... " balas Nadia sembari memulai pekerjaan barunya.

__ADS_1


Umpatan kemarahan dari yang keluar dari bibir mungil itu sama sekali tidak membuat Rasyid gentar. Ia malah terlihat sangat bersemangat menggoda gadis itu.


"Sepertinya membuat pekerjaanmu lebih berat, akan sangat menyenangkan!" ucap Rasyid sembari menuangkan sabun ke lantai yang basah itu.


"Rasyiiddddd...... " teriak Nadin, sangking tak tahan dengan perlakuan pemuda menjengkelkan ini.


Rasyid menutup telinga, teriakan itu serasa menjebol gendang telinga miliknya.


"Sttt, nanti disangka orang kamu aku aku apa-apain!" larang Rasyid.


"Bodo amat!"


Benar saja, selepas Nadin diam, segerombolan orang datang ke tempat di mana mereka berada. Tanpa terkecuali pengawas yang menjadi atasan Nadin di tempat kerja.


"Ada apa ini?" tanya pria bertubuh agak gemuk itu.


"Ini ni, Pak. Satpam gila ini gangguin," jawab Nadin.


"Kamu bener, Pak Satpam. Gadis ini baru sehari bekerja di sini, tapi sudah ceroboh dan tidak hati-hati. Sebaiknya kamu segera bersihkan. Kalo tidak, kamu akan kami skors!" ucap pengawas itu.


"Astaga, Pak. Dia yang salah. Kenapa jadi saya yang diskor?" protes Nadin.


"Ini adalah kerjaan kamu, mana bisa orang lain yang salah. Harusnya kamu bisa jaga hasil kerjaan kamu. Bukan nyalain orang lain. Paham!" balas pria itu lagi.


"Baik, Pak!" jawab Nadin.


"Bagus, segera selesaikan kerjaan kamu. Jangan pulang sebelum tempat ini bersih. Pastikan kering. Jangan bikin kesalahan lagi. Mengerti!"


"Baik, Pak!"

__ADS_1


"Sudah bubar semua. Biar dia selesaikan kerjaannya. Bubar, bubar!" perintah pria itu lagi, lalu kerumunan orang yang ada di sana pun bubar.


Sedangkan Rasyid masih bertahan. Bertahan dengan senyum dan tawa, menertawakan gadis cantik itu.


Makin merasa dipojokkan, semakin Nadin kesal pada Rasyid yang diam-diam menertawakannya.


"Udah sana, ngapain masih di sini?" pinta Nadin, kali ini dia benar-benar kesal. Terlihat matanya berkaca-kaca.


"Eh, kamu nangis?"


"Nggak!" bentaknya.


"Iya, iya, aku bantuin. Gitu aja sih!" jawab Rasyid seraya mengambil alat kebersihan itu. Nadia tidak menjawab ataupun menolak. Sepertinya dia sangat lelah dengan perdebatan mereka hari ini.


***


Di lain pihak, kebersamaan mereka tak luput dari pengawasan Zarin dan Laras. Mereka terlihat bahagia melihat pertengkaran menggemaskan dua anak manusia itu.


"Sepertinya cucumu sudah jatuh cinta dengan gadisku," ucap Zarin bangga.


"Sepertinya begitu, pertengkaran mereka sangat menggemaskan. Aku menyukainya. Ahhh, jadi pengen muda lagi," balas Laras dengan senyum manisnya.


"Kamu ini, mana bisa begitu?"


Laras tersipu malu.


"Sudah nggak sabar pengen lihat mereka di pelaminan," ucap Laras.


"Tenang aja, pasti nggak akan lama lagi!" jawab Zarin yakin.

__ADS_1


Laras tersenyum senang. Ia sangat bahagia, sebab Rasyid terlihat sudah bisa move on dari mantan kekasihnya.


Bersambung...


__ADS_2