
Bima tahu, Violeta pasti terpukul dengan kejadian tak disangka ini. Itu sebabnya, ia pun berinisiatif memberi kabar pada sahabatnya. Baik Yoga maupun Rasyid.
"Kamu udah sampai mana, Syid?" tanya Bima.
"Nggak jauh dari rumah oma Zarin," jawab Rasyid.
"Kamu yang kuat ya, Syid. Kamu juga harus lebih tegar. Demi istrimu," ucap Bima lagi.
Di seberang sana, Rasyid sedikit bingung dengan ucapan sahabatnya. Di tambah, kenapa Bima yang menelponnya. Kenapa bukan Vio?
"Di mana nona Vio? Aku ingin bicara!" pinta Rasyid, mulai curiga.
"Dia ada, Syid. Tapi untuk sementara, dia tidak bisa diajak bicara. Dia shock, Syid! Aku harap kamu bisa memahami kata-kata ku!" jawab Bima, serius.
"Tunggu, Bim. Kami ngomong kek gini, seolah.... " Rasyid menerka-nerka cemas.
"Ya, Syid. Seperti yang kamu pikirkan!" jawab Bima.
"Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun... Bim!" terdengar suara Rasyid menginjak rem mendadak.
"Syid, kamu oke?" tanya Bima.
Rasyid shock. Pria tersebut tercengang. Tekejut tanpa kata.
"Syid, Syid! kamu aman?" tanya Bima, ikutan spot jantung.
__ADS_1
"Ya... astaghfirullah hal azim, aku... sebentar, Bim! aku... " jawab Rasyid dengan suara tertahan oleh napas yang sulit ia kendalikan.
"Sabar ya, Syid. Ingat, ada seseorang yang mesti kamu jaga. Saat ini, istrimu membutuhkanmu. Jadi kamu harus lebih kuat dari dia," ucap Bima lagi.
"Ya, aku tau itu... tapi ... astaghfirullah!" beberapa kali terdengar Rasyid berucap istighfar. Dia benar-benar shock, sangat sangat shock.
"Kami menunggumu, Syid. Hati-hati!" pinta Bima.
"Baik, Bim. Tapi, kepergian beliau, adakah tanda-tanda tak wajar?" tanya Rasyid.
"Kamu tau beliau sakit apa? Tapi sejak cucunya menikah denganmu, keadaan beliau cukup stabil. Takutnya, memang ada yang membuat beliau seperti ini. Memberinya kabar mengejutkan, mungkin," jawab Bima.
"Oke! Aku paham. Hufff... tolong bantu aku sekali lagi Bim. Tolong cari ponsel beliau. Siapa tau kita bisa dapet petunjuk dari barang itu," pinta Rasyid.
Sambungan telpon terputus. Rasyid melanjutkan perjalanannya. Sedangkan Bima mencari waktu yang pas untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh sahabatnya.
Bima kembali duduk di samping Violeta. Menunggu gadis itu tenang. Agar bisa ia aja berdiskusi perihal kecurigaan Rasyid, atas kematian Zarin.
Violeta duduk lemas menatap jenazah wanita yang begitu baik dan selalu bermurah hati padanya. Wanita itu menangis membayangkan betapa menderitanya hidup Zarin selama ini. Dia adalah saksi hidup kesulitan wanita itu selama ini. Violeta sangat menyesal. Rasanya belum puas membuat Zarin tersenyum. Tetapi wanita itu sudah berpulang.
Saat itu, Violeta hanya di temani Bima. Dokter muda itu memang sengaja tidak pulang. Karena Rasyid dan Yoga memintanya untuk menemani wanita itu. Sedangkan mereka dalam perjalanan menuju rumah ini.
"Nona, apakah kamu mencurigai sesuatu?" tanya Bima, sesaat setelah melihat Vio sedikit tenang.
Violeta menghapus air matanya. Lalu menatap dokter muda itu dengan segudang pertanyaan.
__ADS_1
"Maksud, Dokter?" tanya Violeta.
"Emmm, kabarnya, putra beliau juga meninggal hari ini. Takutnya, ada seseorang yang sengaja mengejutkannya. Atau... entahlah, saya rasa anda sudah paham maksud saya," jawab Bima.
Violeta kembali mengingat ucapan Yoga padanya. Tentang pesan yang diberikan Rasyid kepadanya. Agar menjaga Zarin dari akses semua orang yang dapat membahayakan nyawanya.
"Ya, Dokter, saya ingat. Haruskan kita periksa ponsel berliau?" tanya Violeta.
"Sepertinya harus, Nona, siapa tau kita menemukan petujuk. Bukan mau suudzon, hanya saja saya sedikit curiga dengan kematian ibu Zarin. Bahkan Rasyid juga berkata demikian. Hanya saja, saya tidak berani Takut nona nilai saya lancang," jawab Bima.
Kali ini, Bima bukan berbicara sebagai seorang dokter, tetapi ia berbicara sebagai saudara dan orang awam.
"Baik, Dokter, sebaiknya kita cari ponsel beliau," ajak Violeta, kemudian mereka pun melangkah menuju kamar pribadi wanita tua itu.
Violeta mencari ponsel itu dengan menyambungkan panggilan. Tetapi tidak bisa, tidak ada tanda-tanda ponsel itu ada di tempat ini. Terpaksa ia dan Bima mulai mencari dengan cara manual. Mencari di segala celah, yang memungkinkan Zarin menaruh ponsel itu dan mudah dijangkau.
"Nggak ada, Dok, nggak ketemu. Biasanya ibu nyonya menaruhnya di sini." ucap Violeta.
"Kamu yakin?" tanya Bima.
"Ya, Dok. Tapi, kenapa bisa tidak ada ya. Mungkinkah?" tanya Violeta menerka-nerka.
Violeta dan Bima saling menatap. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing. Namun, apapun itu, dugaan mereka tak lepas dari kemungkinan soal kelicikkan Emelda. Bisa jadi, wanita itu menyusup ke rumah ini untuk menyakiti nyonya Zarin.
Bersambung...
__ADS_1