
Rasyid masih berdiri di belakang Nadin yang mulai membubuhkan sabun ke seluruh tubuh. Lalu membilasnya secepat mungkin. Sedangkan Rasyid masih setia menunggu wanita itu membersihkan diri. Sembari menahan hasrat yang terus menyerang sanubarinya. Sekuat tenaga pria itu berusaha melawan, demi membuktikan apa yang telah ia ucapkan.
Nadin tersenyum dalam hati. Sebab Rasyid lolos membuktikan ucapannya. Ternyata pria itu bisa dipercaya. Rasyid sama sekali tak memaksa. Pria itu tetap diam di tempat sembari menunggunya selesai membersihkan diri.
Kini, Nadin sudah memakai handuk. Lalu ia pun keluar dari pintu kaca, mendekati Rasyid yang masih setia menunggunya.
"Sudah?" tanya Rasyid.
"He em," jawab Nadin, kali ini ia sedikit malu. Karena Rasyid memperlakukannya seperti seorang tuan putri.
Nadin melangkah menuju ruang ganti. Sedangkan Rasyid setia mengikutinya seperti seorang ajudan.
"Aku sudah nggak pa-pa. Keluarlah, biar aku ganti sendiri. Aku malu, sungguh!" pinta Nadin. Kali ini ia memohon.
"Baiklah, aku ada di depan pintu, panggil saja aku kalo butuh sesuatu," jawab Rasyid.
"Oke, terima kasih," jawab Nadin sembari tersenyum sekilas.
Meski tak tega, Rasyid tetap menuruti keinginan Nadin untuk meninggalkanya sendiri di ruang ganti. Kali ini, Rasyid percaya, jika Nadin sudah mulai tegar.
Sepuluh menit berlalu, Nadin pun keluar dari ruang ganti. Memakai gaun panjang berwana hitam. Lalu memakai hijab senada. Nadin terlihat berbeda. Sungguh. Nadin terlihat sangat anggun dan manis. Membuat Rasyid terdiam tanpa kata.
"Ayo turun, kenapa diam?" tanya Nadin sembari menyentuh lengan Rasyid.
"Ah, tidak. Kamu terlihat manis," jawab Rasyid jujur.
"Terima kasih," jawab Nadin, sedikit tersipu. Rasyid pun tersenyum senang.
__ADS_1
Namun, ketika mereka melangkah, Rasyid teringat sesuatu. Satu kabar lagi yang mungkin akan membuat Nadin kembali kehilangan senyuman.
"Yang!" panggil Rasyid sembari menahan tangan sangat istri.
Nadin membalikkan tubuh. Menatap heran pasa sang suami.
"Ada satu hal lagi yang perlu kamu tau," ucap Rasyid.
"Apa itu?" tanya Nadin, penasaran.
"Sini," ajak Rasyid sembari menarik tangan sang istri ke sofa.
"Aku nggak mau nyembunyiin apapun sama kamu, Yang. Aku tau ini sangat berat untukmu. Tapi kamu wajib tau," ucap Rasyid, mulai membuka obrolan.
Nadin menatap pernah pertanyaan pada sang suami. Dadanya berdebar. Sungguh, ia takut jika Rasyid sudah mulai dengan mode seriusnya. Sebab pria itu selalu bisa membuatnya spot jantung.
"Ada apa, Syid? Kenapa kamu kelihatan tegang begitu? Ada kabar apa lagi?" cecar Nadin.
"Tentu saja. Meskipun aku belum mengenalmu lebih dalam, tapi aku percaya," jawab Nadin, jujur.
"Perihal papamu, beliau... "
"Ya, kenapa dengan papaku?" tanya Nadin, mulai tak nyaman.
"Melihat kondisi jasad beliau, sepertinya beliau meninggal karena keracunan, Nad," jawab Rasyid, pelan.
Nadin diam. Menatap Rasyid dengan tatapan bingung. Rasyid sendiri tahu, Nadin pasti tidak begitu paham dengan penuturannya.
__ADS_1
"Dan, kemungkinan lain adalah papamu dibunuh dengan cara diracun. Untuk sementara, kecurigaan polisi menjurus pada ibu tirimu. Sayangnya, ibu tirimu melarikan diri," ucap Rasyid lagi, sedikit berbohong. (Kenyataannya, Emelda saat ini berada dalam genggamannya. Disekap di tempat rahasia)
Nadin masih tak mampu berucap. Hanya air mata yang tiba-tiba saja mengalir tanpa dapat ia cegah.
"Jangan menangis, Sayang. Aku janji. Aku pasti akan menuntut keadilan untuk papamu. Heemm," ucap Rasyid berjanji.
Nadin tak berani mengiyakan ucapan Rasyid. Nadin takut kecewa. Bukan dia meremahkan, tetapi Rasyid hanya seorang satpam. Mana mungkin dia bisa melawan kelicikan Emelda. Benarkan?
"Satu lagi, Yang. Ini soal omamu. Sepertinya kematiannya juga tak biasa."
"Maksudnya?"
"Maksudku, kita memang sama-aama tau, kalo oma punya penyakit jantung. Tapi, menurut dokter Bima, Oma dalam keadaan stabil. Tapi, hasil itu ia keluarkan hanya selang beberapa jam lalu. Tapi kenapa Oma tiba-tiba dikabarkan meninggal. Bahkan bersamaan dengan kepergian putranya. Bukankah ini seperti sudah direncanakan? Ditambah, ponsel oma hilang. Terbaca niat pelaku untuk Menghilangkan barang bukti. Hanya saja kita belum tahu, siapa pelaku pencurian ponsel itu. Aku curiga, Nad, di dalam rumah ini ada penghianat," ucap Rasyid lagi.
Nadin menatap sang suami. Ia sama sekali tak menampik dugaan itu. Namun, Nadin tak menimpali ucapan itu sama sekali.
Nadin paham, apa yang dikatakan sang suami cukup masuk akal. Hanya saja, mereka tak memiliki bukti untuk membuktikan kecurigaan ini. Apa lagi, Emelda dikabarkan menghilang. Bukankah kasus ini nantinya akan sangat rumit.
"Untuk saat ini, aku sama sekian nggak bisa mikir, Syid. Kali ini aku hanya bisa berdoa, semoga ada keadilan untuk papa dan oma, hanya itu," jawab Nadin, pasrah.
Rasyid mengerti. Tapi ia lega, setidaknya ia sudah menyampaikan apa yang saat ini mengganjal di hatinya.
***
Di lain pihak, Emelda berteriak sekuat tenaga. Meminta orang-orang yang menculiknya untuk melepaskannya. Sayangnya, tak anda satupun orang yang berada di sana mendengar suaranya. Karena ruangan tempatnya di sekap, kedap suara.
Ya, Emelda di sekap di sebuah ruangan dengan sistem keamanan yang cukup canggih. Ruangan di desain mirip freezer raksasa itu, cukup menyiksa Emelda. Sehingga wanita itu pingsan karena kedinginan.
__ADS_1
Bersambut...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes. Hari ini emak crazy up.. Stay Tune😘😘😘