
Hati siapa yang tak remuk redam, ketika wanita yang dicintai dirundung duka. Rasyid adalah pria yang terkenal arogan di circle-nya. Namun, ia begitu lembut pada permaisurinya. Membuat Yoga dan Bima yang sudah lama mengenal Rasyid, jadi tercengang dibuatnya.
"Napa lu?" tanya Yoga pada Bima yang masih tertegun tak percaya melihat sikap lembut sang sahabat pada istrinya.
"Ah, nggak! Hanya heran aja," jawab Bima, jujur.
"Heran sama siapa?" balas Yoga.
"Itu bos lu, beneran sama istrinya. Seriusan dia?"
"Entah! Sepertinya sih serius."
"Syukurlah! Takutnya cuma kasihan aja. Nanti setelah si cewek udah baikan, ditinggalin pula. Kasihan! Takutnya terlanjur baper," jawab Bima, dengan raut wajah prihatin.
"Semoga saja sih enggak. Gue sih nglihatnya Rasyid serius sama Nadin. Cuma kita sama-sama tau, ada seseorang yang masih Rasyid sembunyikan. Takutnya, seseorang itu tidak bisa Nadin terima. Tau sendiri kan, tak mudah bagi seorang wanita menerima kebohongan," jawab Yoga, sedih.
"Lu benar, Ga. Semoga aja Nadin bisa nerima bocah itu. Mau bagaimanapun anak itu butuh pengakuan. Eh, si Anisa udah balik tau, lu udah ketemu belum ama doi?" tanya Bima, serius.
"Iya, gue tau. Dia nelponin gue terus. Tapi gue masih repot, Bim. Nggak enak juga nanti kalo ngajak ketemuan, tapi guenya nggak bisa."
"Ya, gue tau lu orangnya kek mana. Gue cuma berharap, Rasyid nggak main-main sama istrinya. Jangan sampai dia berpaling gara-gara lihat mantan. Di tambah sekarang Anisa udah cerai sama lakinya. Kan repot nanti urusannya, Ga," ucap Bima.
"Ya, begitulah. Keputusan ada di tangan Rasyid, Bim. Kita sebagai temen, hanya mengingatkan. Gue sendiri juga nggak bisa berbuat apa-apa. Mau bagaimanapun Anisa dan Rasyid punya peran penting dalam hidup gue. Mereka ya g ngulurin tangan ketika gue jatuh. Jadi mau gimana?! Gue ada di tengah-tengah Bim. Gue nggak bisa memihak satu di antara mereka," jawab Yoga jujur.
"Lu bener, Ga. Ya sudahlah. Gue pun nggak mau terlalu ikut campur. Gue cuma bisa do'ain yang terbaik buat Rasyid. Begitupun untuk Anisa. Mereka harusnya nggak boleh egois. Harusnya mereka bisa kasi partner yang baik, demi Xian," balas Bima.
__ADS_1
"Bagaimana bisa baik, Bim? Rasyid masih menyimpan luka yang ditinggalkan oleh Anisa. Anisa memang keterlaluan. Tapi, kita pun nggak bisa menghakimi dia. Kita sama-sama tau bagaimana keluarganya, kan?"
"Lu benar, Ga. Anisa hanya ingin melindungi putranya. Tapi Rasyid sama sekali nggak bisa memahami itu. Kita sama-sama tau bagaimana kerasnya kepribadian Rasyid. Makanya aku heran, kok tiba-tiba saja dia bisa selembut itu ngadepin Nadin. Apakah sudah terjadi sesuatu di antara mereka?" Bima menyunggingkan senyum, senang.
"Entahlah!" Yoga menyerah dengan percakapan mereka. Jujur, Yoga tak bisa menilai isi hati Rasyid. Sebab bos sekaligus sahabatnya itu adalah pria yang punya sejuta misteri.
***
Apa yang dibicarakan oleh Bima dan Yoga, ternyata bukanlah isapan jempol belaka.
Kini, di kamar pribadi milik Nadin, Rasyid begitu telaten membantu istrinya itu membersihkan diri dan mengganti pakaian yang lebih pantas.
"Keluarlah, aku bisa sendiri," pinta Nadin dengan mata sebamnya.
"Tidak, Honey. Kamu baru saja pingsan. Mana mungkin aku tega ninggalin kamu. Udah nggak pa-pa. Jangan malu. Lagian aku udah sering lihat kamu telanjang," jawab Rasyid jujur.
Rasyid ikutan terkejut. Spontan ia pun panik. Sebab ia keceplosan dan akhirnya ketahuan. "Sorry, maafkan aku, Honey. Aku sering melihatmu ganti pakaian. Maaf, tolong jangan salah paham," jawab Rasyid, lembut. Hati-hati jangan sampai ia membuat Nadin marah. Karena ia tahu, saat ini emosi Nadin sedang tidak stabil.
"Aaaaa, kamu nakal sekali. Kamu mesum, Rasyid. Selalu begitu!" jawab Nadin merajuk.
"Maafkan aku, maaf kalo aku nakal. Tapi aku nggak ada niat buruk sama kamu, Sayang. Demi Tuhan," jawab Rasyid seraya memeluk wanita yang ia cintai ini.
"Berapa kali kamu melihatnya?" Nadin menatap serius ke arah sang suami.
"Emmm, tiga atau empat kali, mungkin."
__ADS_1
Nadin tersenyum sebel. "Lalu, apa yang kamu pikirkan?"
"Emmm, suka aja!"
"Sudah berapa wanita yang pernah kamu lihat dalam kondisi seperti itu?" pancing Nadin.
"Aku nggak mau bohong sama kamu. Aku sering melihatnya. Tapi aku tidak tertarik!"
"Kenapa tidak tertarik? apa kamu penyuka sesama jenis?"
"Eh, nggak ya. Aku normal. Tapi aku tidak ingin merusakmu. Aku ingin kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Aku ingin mengambil hakku ketika kamu ikhlas. Aku nggak ingin nyakitin kamu, Honey. Demi Tuhan!" jawab Rasyid.
"Benarkah?"
"Ya!"
"Aku nggak percaya, pasti kamu punya rencana buat maksa aku. Aku sudah hafal dengan pria-pria sepertimu. Suka mengintip, berarti mesum," jawab Nadin.
"Aku nggak akan melakukannya tanpa persetujuan mu, Sayang. Percayalah!" jawab Rasyid, dengan suara sedikit bergetar. Karena saat ini, seperti kata Nadin, ia sedang menahan hasrat yang mulai menggebu. Seakan ingin mengguji pria itu, Nadin mulai membuka kancing demi kancing kemejanya.
"Yakin, kamu nggak ada niat untuk mengambil paksa milikku?" pancing Nadin lagi. .
"Tidak, Sayang. Aku tau kamu belum siap," jawab Rasyid, gugup.
Nadin tersenyum. Lalu, tanpa berpikir panjang, ia pun melepaskan seluruh pakaiannya. Menatap Rasyid dengan tatapan menggoda. Bukan apa! Nadin hanya ingin membuktikan kesungguhan ucapan pria itu terhadapnya.
__ADS_1
Nadin tahu, ini bukan saatnya ia tebar pesona. Hanya saja, ia penasaran dengan kesungguhan Rasyid menjaganya.
Bersambung...