
Selesai mengobati sang istri, Rasyid menjadi posesif. "Duduk diam di sini, biar aku aja yang masak. Aku nggak mau kamu terluka lagi, mengerti!" ucap Rasyid, tegas.
Nadin tersenyum. Sedangkan Rasyid masih menunjukkan rasa marah karena khawatir.
"Oke, tapi tunggu dulu!" pinta Nadin seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Apa?" tanya Pria tampan itu.
"Di bibirmu ada darah," jawab Nadin, lalu tanpa izin ia pun menyentuh bibir pria tampan itu. Mengelapnya perlahan. Membuat Rasyid diam terpana. Terpana oleh kedekatan mereka. Terpana oleh apa yang dilakukan sang istri.
Sungguh, andai Nadin tahu bahwa K
kepedulian antara mereka saat ini, serasa menambah semangat Rasyid untuk menerobos dinding pertahanan Nadin. Dindin pertahanan untuk menutupi rasa yang ada di antara mereka.
"Sudah, sudah nggak ada," ucap Nadin, sedikit membuyarkan angan Rasyid tentang kekegumannya pada wanita yang kini hapir tak berjarak dengannya.
Jarak tubuh mereka begitu dekat, sehingga menciptakan debaran jantung yang sulit di artikan. Mata Nadin menatap mata pria tampan itu. Seakan meminta Rasyid memberikan sesuatu yang berarti untuknya. Agaknya, sang pria pun paham. Perlahan, Rasyid mendekatkan bibirnya, hendak mencium Nadin. Namun, ketika jarak bibir itu hanya tinggal beberapa senti saja, seseorang datang mengagetkan mereka.
"Aaaaa, sorry, sorry, sepertinya aku menganggu!" ucap Yoga, spontan.
Rasyid dan Nadin pun terkejut. Lalu salah tingkah. Nadin hanya terdiam, malu. Sedangkan Rasyid merasa geram.
"Ada apaan? Ngapain pagi-pagi ke sini. Ganggu aja lu!" gerutu Rasyid, sembari melepaskan pinggang sang istri.
Nadin kembali duduk di tempatnya semula. Sedangkan Rasyid langsung bergabung di sampingnya.
__ADS_1
Kini malah Yoga yang salah tingkah. "Sebaiknya aku pergi, nanti saja aku ngomongnya!" ucap Yoga, sebab ia merinding dengan tatapan bos besarnya itu.
"Nggak usah, duduk aja. Ada apaan emang?" pinta Rasyid.
"Oh itu, Bro. Aku ke sini mau ngambil mobil. Ya... mau ngambil mobil!" ucap Yoga, gugup.
"Ohhh, kirain. Ambil aja, itu kuncinya," jawab Rasyid.
"Mana? Di mana?"
"Ada!" Rasyid beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pun menunjukkan tempat di mana kunci itu berada. Sedangkan Yoga mengikutinya dari belakang.
"Bos, siang ini, Horizon mau ketemu bos di hotel Genta," ucap Yoga.
"Jam?"
"Perketat penjagaan, jangan lengah. Aku nggak mau terjadi hal buruk pada istriku!" pinta Yoga.
"Siap, Bos."
"Bagaimana Xian, apakah dia menanyakanku?"
"Ya, kemarin dia menanyakanmu, Bos. Sepertinya dia rindu."
"Sore ini aku mau ke sana. Pastikan putraku tidak dijamah oleh musuh. Aku takut, setelah Horizon tau, sedang berurusan denganku, dia malah mengalihkan target. Kamu paham kan?"
__ADS_1
"Siap, Bos. Semua sudah aku pikirkan."
"Bagus. Siapkan satu asisten rumah tangga untuk menemani istriku. Yang bisa dipercaya. Pastikan orang tersebut juga bisa merahasiakan apapun tentangku, paham!" pinta Rasyid.
"Siap, Bos. Laksanakan!" jawab Yoga, kali ini dengan senyum meledek.
"Ngapain lu senyum-senyum?" tanya Yoga.
"Apakah sudah terjadi sesuatu di antara kalian? Sepertinya obat yang ada di kantong celanaku, udah nggak berguna," canda Yoga.
"Diem lu, gara elu, aku nggak jadi dapet reward... dah sana, pergi. Males lihat mukamu!" gerutu Rasyid, Yoga pun tertawa.
Ternyata sangat menyenangkan bisa melihat bosnya kembali tergila-gila dengan perempuan. Namun, di sisi lain, Yoga juga ketar ketir. Karena Anisa sebentar lagi akan datang ke Indonesia. Wanita itu berniat mengambil Xian dari Rasyid. Dan juga menginginkan pria itu kembali padanya. Meskipun Rasyid bersikeras menolak, Tapi Yoga tetap khawatir Rasyid goyah dan memiliki Anisa, yang notabene adalah cinta pertama. Lalu bagaimana dengan Nadin yang kini mulai terlihat bisa menerima hubungan mereka.
***
Di sisi lain, Emelda ketar-ketir dengan nasibnya sekarang. Bagaimana tidak? Horizon tidak main-main dengan ucapannya.
Saat ini, ruang gerak Emelda serasa di batasi oleh pria itu, sebab hutang yang dimiliki Emelda pada pria itu, jumlahnya juga tidak main-main.
"Dasar gadis brengsek! Gadis sialan!" teriak Emelda marah. Matanya memerah, menahan emosi yang mulai merasuk ke dalam jiwanya.
Dendam yang membara, membuat wanita yang di kenal tega ini, berniat untuk menghabisi sendiri gadis yang membuatnya kecewa itu.
"Awas saja, jika kamu sudah tidak perawan, maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," ancam Emelda. Tak mau menunda lagi, ia pun meraih kunci mobil dan tas tangannya, berniat mencari gadis itu dan menghabisinya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan votenya ya😍😍😍