
"Brengsek! Mereka ngikutin kita!" ucap Rasyid
Tak ingin tertangkap oleh kawanan preman yang mengejar mereka, Rasyid dan Nadin pun mempercepat langkahnya. Hingga sampailah mereka di depan gang. Tepat di mana Yoga menunggu sesuai perintah Rasyid.
"Ayo, Nad, cepat naik!" seruh Rasyid sambil membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Ia pun ikut naik ke dalam.
"Makasih, Ga. Sudah mau berbaik hati menolong kami!" ucap Rasyid.
"Santai, Syid," jawab Yoga sembari tersenyum. Tak menunggu persetujuan dari Rasyid, Yoga pun langsung mengajak pedal gasnya dan melaju meninggalkan kawasan berbahaya ini.
Di dalam mobil, Nadin tidak banyak berbicara. Tak banyak bertanya. Hanya mendengarkan dua obrolan pria itu.
"Sekali lagi terima kasih, Ga. Kamu udah mau bantu kami!" ucap Rasyid sembari memberi kode pada Yoga. Agar Sang asisten tidak keceplosan akan identasnya.
"Santai Syid. Kayak sama siapa aja!" jawab Yoga sembari tersenyum menahan tawa.
"Oke!" Rasyid juga tersenyum, meski batinnya ingin memukul kepala pria yang sudah lama bekerja padanya ini.
"Kita ke mana, Syid?" tanya Yoga.
"Tolong antar kita ke rumah cewek ini. Alamatnya udah aku share barusan," jawab Rasyid, tenang.
"Oke, laksanakan!" jawab Yoga, masih dengan senyuman menahan tawa.
Tak ada lagi perbincangan di antara mereka. Yoga fokus pada jalanan yang ada di depannya. Sedangkan Rasyid terus mencuri pandang pada gadis yang saat ini ada di sampingnya.
Yoga tersenyum gemas melihat tingkah aneh Sang big bos. Bagaimana tidak? ini adalah sikap bucin pertama yang Yoga lihat selama lima tahun terakhir ini.
Ya sejak Anisa pergi, inilah pertama kalinya ia melihat sinar mata Rasyid menunjukkan cinta. Cinta yang mungkin berbeda dengan cinta yang pernah pria itu rasakan pada wanita lain. Mungkin sekarang, Cinta ini adalah cinta dewasa. Sebab Rasyid terlihat lebih menjaga. Tidak melulu n*fsu seperti ketika dia masih muda.
__ADS_1
Tak ingin salah menilai, Yoga pun memeriksa sinar mata itu lagi melalui spion tengah. Dan benar saja, Rasyid kembali melirik gadis di sampingnya dengan penuh cinta. Yoga bisa merasakan adanya cinta itu. Yoga bisa merasakan kehangatan tatapan itu. Yoga tersenyum.
"Jangan takut, aku nggak bakalan nganterin kamu sampai rumah!" ucap Rasyid.
"Terima kasih, anda baik sekali," jawab Nadin sambil fokus pada ponsel yang kini ada di tangannya.
"Kenapa? ada apa? sepertinya kamu mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Rasyid, terkesan peduli.
"Oma masuk rumah sakit lagi," jawab Nadin, gugup.
Rasyid tercengang.
Pantas saja Nadin terdiam. Ternyata dia ada masalah.
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Kita ke rumah sakit aja, Ga!" ucap Rasyid, sedikit kesal.
Yoga langsung balik arah. Melajukan kendaraan yang menuju rumah sakit milik Rasyid.
Nadin diam. Gemetar.
Rasyid melirik Nadin. Khawatir.
"Sudah jangan sedih, omamu pasti baik-baik saja," ucap Rasyid.
"Heemmm," jawab Nadin singkat. Sebab ia gak tahu harus menjawab apa. Hatinya berkecamuk tak karuan. Ia ketakutan. Takut jika omanya tidak sanggup bertahan. Bagaimana dengan dirinya jika kondisinya menjadi demikian. Sungguh, saat ini Nadin tak tahu harus berbuat apa.
Di hati Rasyid juga tak kalah takut. Andai saat ini tidak ada Nadin di sampingnya, ia pasti sudah menghubungi dokter jantung terbaik untuk memeriksa nenek dari gadis incarannya ini.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan," gumam Rasyid, berpikir keras untuk menghubungi dokter kenalannya. Tanpa sepengetahuan Nadin.
__ADS_1
***
Di rumah sakit, Violeta mondar mandir menunggu kedatangan nona mudanya. Berkali-kali ia tidak bisa menghubungi Nadin. Bukan hanya Nadin, ia juga tidak bisa menghubungi orang-orang yang ia tugaskan untuk menjaga gadis itu.
Pikirannya bertambah semrawut mengingat kabar terakhir yang ia terima perihal Nadin.
Berberapa jam yang lalu, sebelum Zarin pingsan. Beliau sempat mendengar bahwa Nadin dalam bahaya.
Gadis itu sedang dikejar oleh Emelda dan juga pria yang kini sedang tergila-gila dengan dengan Nadin. Seorang pria yang dikenak sangat keji dalam dunianya. Dan dia adalah salah satu langganan Emelda di club miliknya.
"Ayo nona, angkat telponnya," ucap Violeta terus berusaha menghubungi Nadin. Namun hasilnya nihil.
Ponsel milik Nadin berada diluar jangkauan. Membuat Violeta semakin ketakutan.
Violeta lelah, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan majikannya dan
"Nyonya, please... bertahanlah. Saya mohon, Nyonya! Saya berjanji akan ungkap semua yang saya ketahui. Asalkan nyonya mau membuka mata nyonya, sekali saja. Demi nona muda, Nyonya. Ayolah bangun," ucap Violeta sembari terus mencium tangan wanita yang ia kasihi ini.
Zarin sebenarnya bisa mendengar apa yang diucapkan oleh asistennya itu. Tetapi raganya tak mau di ajak kompromi.
Netraya ingin terbuka, tetapi tidak bisa.
Zarin hanya mampu mengeluarkan air mata. Seolah mengisyaratkan ada ketidakrelaan di dalam hatinya ketika harus pergi sekarang. Mungkin dia belum tega meninggalkan Nadin sendirian di dunia ini. Apa lagi mengingat, ayah gadis itu sudah tidak mau peduli lagi padanya.
Di samping ranjang Zarin, Violeta terus menijat kaki wanita itu. Berharap Zarin merasakan sentuhannya dan bersemangat untuk bangun.
Sedangkan di dalam hati Zarin, wanita itu terus bertanya-tanya, apa sebenarnya yang disembunyikan oleh asistennya itu.
Zarin penasaran dalam tidurnya.
__ADS_1
Bersambung...