Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Kesabaran Rasyid


__ADS_3

Nadin berlari ke masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh Rasyid.


Rasyid sengaja tak mau mencegah langkah wanitanya itu. Karena pada dasarnya, Rasyid sendiri juga tak sanggup menyampaikan kabar menyedihkan itu.


Nadin menghentikan langkah ketika sampai di ruang tamu. Diam membisu tanpa kata. Mata wanita cantik itu menatap nanar pada seongok jasad yang terbujur kaku di sana. Jantungnya berdebar sangat kencang. Kakinya gemetar. Suhu tubuh berubah dingin. Nadin shock.


Di belakang Nadin, ada Rasyid yang seakan tanggap. Ia pun langsung merangkul dan memeluk wanita itu. Memeluknya seakan mengatakan bahwa ada dirinya di sini.


"Non!" ucap Violeta ketika melihat Nadin diam terpaku di tempat.


"Kenapa? omaku kenapa?" tanya Nadin dengan bibir gemetar.


"Sstttt, sabar. Kamu harus kuat, Honey," bisik Rasyid tepat di telinga sang istri.


"Kamu bohong, yang meninggal omaku bukan papaku kan? Kamu sengaja kasih kabar salah, biar aku nggak shock kan, ha?!" tanya Nadin sembari mendorong tubuh Rasyid yang menempel kepadanya.


"Tidak, Honey. Bukan begitu. Dengerin aku dulu, heemm," pinta Rasyid, lembut.


"Nggak, aku nggak mau, kamu selalu menipuku. Kamu selalu menipuku! Kamu selalu begitu Rasyid. Kenapa? Salahku apa?" cecar Nadin, seolah hilang kesadaran.


"Tidak, Sayang! Jangan pertanyakan salahmu. Kamu nggak salah apa-apa. Kamu gadis baik. Oke!" bujuk Rasyid, seperti seorang kakak pada adiknya.

__ADS_1


Sungguh, menghadapi Nadin tidaklah mudah. Jiwa wanita ini terlalu banyak tekanan, terlalu banyak goncangan. Apapun yang terucap dari bibirnya, Rasyid bisa menilai, jika selama ini, Nadin selalu menyalahkan dirinya sendiri.


"Sudah jangan menangis lagi. Kasihan oma. Nanti beliau perginya nggak tenang. Oke!" jawab Rasyid lagi. Kembali mengeratkan pelukannya.


Sayangnya, Nadin masih belum menguasai emosinya. Dengan kesal, wanita cantik itu pun mengangkat wajahnya dan berkata, "Kamu jahat! kamu jahat! Rasyid. Kamu selalu bikin aku shock. Kamu selalu bikin aku sedih. Aku membencimu!" ucap Nadin, emosi.


Anehnya, balik semua kata itu, Ia malah memeluk erat Rasyid seakan ingin mengatakan bahwa saat ini, dia sangat membutuhkan sandaran. Sandaran seseorang yang mengerti akan dirinya. Dari pelukkan itu, Rasyid juga bisa merasakan bahwa Nadin sangat takut kehilangan.


"Iya, Sayang, Maafkan aku. Maafkan aku ya. Menangislah. Menangislah sepuasmu. Agar beban di hatimu sedikit berkurang," ucap Rasyid sembari mengelus sayang sambut sang istri.


Benar saja, selepas Rasyid menutup mulutnya, Nadin menangis menjadi-jadi. Menumpahkan segala lara yang kini sedang mengaduk hatinya.


Sedetik kemudian tangis Nadin melemah. Napasnya tersegal. Rasyid juga merasakan pelukan Nadin berangsur terlepas. Nadin diam. Pikirannya kosong. Nadin tak kuasa lagi menahan berat di tubuhnya. Gadis ini lemas, lalu pingsan.


Yoga yang tanggal langsung mengambilkan minyak kayu putih untuk istri bosnya itu. Sedangkan Violeta langsung menggosok kaki Nadin. Agar Nadin segera tersadar.


"Nad... Sayang," panggil Rasyid, khawatir.


Bima langsung memeriksa denyut nadi Nadin. Dokter tampan ini tak bicara apapun. Tapi ia yakin, Nadin dalam kondisi aman.


"Sabar, Syid. Kamu harus lebih tegar dari dia. Kamu harus kuat, demi dia," ucap Bima.

__ADS_1


"Iya, Bim. Makasih banyak lu udah mau datang. Makasih juga buat Vita, yang udah ngrelain lu bantu gue. Salam ya buat dia," jawab Rasyid, berusaha tegar.


"Iya, tenang aja." Bima tersenyum. Lalu ia pun menepuk pundak Rasyid.


Tak berapa lama, Nadin membuka mata. Menatap orang-orang yang saat ini sedang menjaganya.


"Sayang," ucap Rasyid sembari mengecup mesra kening sang istri. Sayangnya Nadin tidak merespon. Bibirnya terlalu berat untuk berucap. Dan itu sangat wajar.


Rasyid membantu sang istri duduk. Lalu memberikannya minum. Lalu mengusap lengan sang istri. Agar wanita itu lebih tenang.


"Kami semua ada untukmu, Non! Jangan merasa sendiri, ya," ucap Violeta sembari bersimpuh di depan Nadia. Memegang tangan wanita yang selama ini ia jaga itu.


"Oma susah pergi, Non Vio. Aku nggak punya siapa-siapa lagi," jawab Nadin dengan tangisan yang terdengar menyayat hati.


"Tidak, Non. Jangan hilang begitu. Ada aku, ada suamimu, ada kami semua. Kami akan selalu ada untukmu. Percayalah!" jawab Violeta sembari memeluk Nadin. Sedangkan Nadin sendiri masih belum bisa menguasai pikirannya.


Tragedi yang terjadi saat ini serasa begitu berat. Sehingga membuat Nadin tak tahu harus bagaimana!


***


Di sisi lain, Anita yang mengetahui sang putra tidak ada di panti, shock. Ia pun menghubungi Yoga berkali-kali. Karena ia yakin, Yoga pasti tahu jawaban atas ketidaksukaannya saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2