
Senyum mengembang di antara tamu yang datang. Rasyid di temani oleh Yoga duduk di depan penghulu. Sedangkan Nadin, duduk cantik dengan kebaya putih dihiasi dengan berbagai manik-manik cantik.
Teriakan kata 'Sah' menjadi pertanda mulai detik ini, Nadin dan Rasyid telah sah menjadi suami istri.
Rasyid menyematkan cincin pernikahan di jari manis sang istri. Begitu pun sebaliknya. Nadin di minta mencium tangan sang suami. Sedangkan Rasyid diizinkan untuk mengecup kening sang istri.
Sungguh, detik itu, ada desiran aneh di hati keduanya. Sekilas, senyum Nadin mengembangkan. Sedangkan dalam hati, Rasyid bersumpah tidak akan menyia-nyiakan istri kecilnya. Rasyid berjanji akan menjaga Nadin sepenuh hatinya.
Meski pernikahan ini terjadi atas sebuah kesepakatan, namun senyum tulus terlihat jelas di bibir Rasyid dan juga Nadin. Apa lagi ketika mereka berkeliling menyambut para tamu. Tangan Rasyid terus menggandeng sang istri. Sedangkan Nadin sendiri sama sekali tidak protes dengan itu.
Di pelaminan...
"Kamu nggak ngundang temen-temenmu?" tanya Rasyid.
Nadia menggeleng.
"Kenapa?"
"Malas saja."
"Aku aja ngundang temen. Kok kamu malas. Kenapa hayo, malu ya suaminya cuma satpam?" canda Rasyid.
"Sebenarnya nggak malu sih. Lagian ngapain malu, aku lagi nggak ngerebut suami orang, kan? Cuma malas aja dengerin ledekan mereka," jawab Nadin, terdengar serius.
"Emang kalo anak orang kaya, gayanya beda ya. Kalo temen dapat yang nggak sepadan, pasti diledek. Apa lagi suami bayaran kek aku!" Rasyid tersenyum, melirik menahan tawa.
"Itu urusan mereka. Ngapain kita pusing. Toh kita nggak minta makan sama mereka ini."
"Gitu ya! Eh tapi ngomong-ngomong aku tetep nggak mau jadi suami boongan loh. Aku tetep mau, di mana pun kamu berada, tetap ngakuin aku sebagai suami. Mau di rumah, di-cicle kamu. Pokoknya di mana pun, aku mau seperti itu," ucap Rasyid.
Nadin diam.
"Diam, tandanya mengiyakan."
__ADS_1
"Kenapa sih kamu ngebet banget mau jadi pasangan aku? Aku aja ogah sama kamu." Nadin cemberut.
"Suka aja, tiap hari bisa bikin kamu marah!"
"Dasar pria gila!"..
" Eeiit, sama suami nggak boleh ngumpat. Dosa lo! Malaikat denger, nggak takut!?"
"Apa sih? Diam ah!" Nadin melirik kesal.
Rasyid tersenyum, nyatanya Nadin nggak seburuk yang orang lain pikir. Nadin hanya sedang mencoba melindungi dirinya dari yang namanya cinta dan laki-laki. Rasyid sangat memahami itu.
"Makanan kesukaan kamu apa sih?" pancing Rasyid.
"Kita lagi ngomongin apa sih sebenernya? Kenapa sekarang jadi ke makanan?"
"Nggak sih, aku cuma pengen tau aja."
"Kenapa emang?"
Nadin menoleh menatap sang suami. Mata mereka bertemu. Entahlah, kalimat yang mungkin tak sengaja Rasyid ucapkan itu seperti sebuah air yang menyiram sanubari gadis ini. Nyatanya tatapan lembut Rasyid, sedikit meluluhkan hatinya. Meski ia selalu berusaha m menepis kenyataan itu.
Nadin enggan melayani candaan Rasyid. Ia lebih memilih menggeser tubuhnya. Agar ada jarak di antara mereka. Nadin tidak ingin, Rasyid tau apa yang sedang terjadi di dalam jiwanya saat ini.
***
Berita pernikahan Nadin akhirnya sampai juga ke telinga ibu tirinya. Tak ayal, wanita ini pun murka kepada suaminya.
"Antoooonn! Sini kamu!" teriak Emelda.
Anton yang saat ini sedang santai di ruang kerjanya, menggerutu kesal.
"Apa lagi sih si nenek lampir sialan itu," umpat Anton, kesal.
__ADS_1
"Apaan?" tanya Anton santai.
"Siapa yang mengizinkanmu pulang ke rumah mamamu dan menjadi wali pernikahan putrimu?" tanya Emelda, langsung pada pokok permasalahan mereka.
Anton tersenyum meremehkan, lalu ia pun menjawab, "Aku pergi ke mana pun bukan urusanmu. Aku sudah muak dengan kelakuanmu. Karenamu aku kehilangan segalanya. Paham!"
"Kau sudah bermain melawan ku sekarang, ha? Jadi siap aku publish berita itu?" ancam Emelda, tak main-main.
"Publish saja, aku sudah nggak peduli! Andai aku tau konsekuensi menikahimu adalah menjadi sapi perahmu, lebih baik aku miskin. Aku kehilangan semuanya karenamu brengsek!"
"Heh, kehilangan segalanya kau bilang? Kau susah menikmati tubuhku, Anton. Maka terimalah konsekuensinya!" Emelda mencoba mempermainkan ego sang suami.
"Itulah kebodohan terbesarku. Andai aku tau kau ular, maka aku tidak akan pernah deketin kamu. Dasar wanita ular!" Anton enggan melanjutkan perdebatan tak bermutu itu. Ia pun memilih pergi
Anton tak akan pernah peduli dengan apa yang akan dilakukan wanita ular itu. Kenyataan yang ia dapatkan dari sang ibu, cukup membuatnya tersadar. Dengan ia memihak pada Emelda, maka keselamatan Nadin adalah taruhannya.
Bersambung...
Sambil nunggu emak Update, kalian bisa tongkrongin karya bestie emak yes😍😍😍
"Jangan terlalu bahagia dengan semua yang kulakukan ini," bisik Syakir yang membuat bulu kuduk Humai merinding. "Ini hanyalah paksaan dan setelah ini, kau akan tahu bagaimana kehidupan yang kau inginkan sebenarnya."
Syakir tetap menatap Humai dengan pandangan rendah. Bahkan dia langsung membuang wajahnya karena tak mau menatap wajah itu lagi. Wajah yang menurutnya merusak segala hal yang ia inginkan.
Wajah dari wanita yang merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Wajah yang merusak masa depan indahnya. Semua itu sudah sirna dan itu karena Humaira dan anak yang dikandungnya.
"Jangan pernah menatapku seperti itu, Wanita bodoh!" seru Syakir saat Humai menatapnya dengan lekat. "Aku sangat membencimu dan aku tak mau melihatmu lagi! Enyahlah dari duniaku bersama anak haram ini!"
Jantung Humai mencelos. Dia menunduk dan tanpa sadar langsung memegang perutnya. Wanita itu merasa sakit ketika kata-kata itu keluar dari bibir Syakir. Namun, Humai tak bisa melakukan apapun.
Saat ini Syakir telah menjadi suaminya. Dia tak bisa melawan balik dan memilih diam. Humai juga tak mau membuat kekacauan disini. Dia tak mau Syakir semakin membencinya saat kedua orang tuanya terus membelanya daripada putranya sendiri.
"Kau mau mengadu? Silahkan!" seru Syakir dengan pelan karena melihat kedua orang tuanya hendak ke arah mereka. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau dan anakmu ini, akan mendapatkan sakit yang lebih dari ini dariku!"
__ADS_1