Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Mengumpulkan Bukti


__ADS_3

Nadin kembali dikejutkan dengan tingkah aneh Rasyid. Bagaimana tidak? Ia tak diizinkan membawa selembar pun baju ganti. Rasyid mengatakan, bahwa keperluannya sudah disiapkan di sana.


Hah ... Disiapkan? Di sana? Kapan? batin Nadin.


Bukankah ini perjalanan pertama mereka setelah menjadi suami istri? Tapi ya sudahlah, Nadin tak ingin banyak bertanya. Karena ia memang sengaja tidak ingin membuat pikiran Rasyid bertambah ruwet dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia ajukan. Di samping itu, Nadin juga ingin menyelidiki sendiri, siapa sebenarnya suaminya ini.


Nadin terus saja bungkam. Hanya menurut apapun yang Rasyid katakan. Sedangkan Rasyid sendiri seperti tidak menaruh curiga dengan sikap sang istri yang sebenarnya sedang memata-matainya. Sepertinya Rasyid juga lupa, bahwa selama ini ia menyembunyikan identitasnya pada istrinya ini.


Di detik berikutnya, Rasyid pun mengajak Nadin segera berangkat. "Ayuk, Yang. Mobil yang jemput kita udah dateng. Oiya, jangan lupa paspor!" ucap Rasyid seraya mengulurkan tangan, meminta Nadin untuk menyambut tangannya.


"Oke!" jawab Nadin seraya menyambut uluran tangan itu.


Tak menunggu waktu lagi, mereka berdua pun langsung melangkah keluar rumah. Menuju mobil yang terparkir di depan rumah, yang sengaja Rasyid panggil untuk menjemput mereka.


Nadin kembali dikejutkan dengan situasi yang ada di depan mata. Mobil yang menjemput mereka bukanlah mobil biasa. Mobil yang menjemput mereka terhitung mobil yang cukup mewah. Di samping itu, sang sopir yang membukakan pintu juga memanggil Rasyid dengan sebutan 'Tuan', bukankah hal ini perlu dipertanyakan.


Nadin tetep meneguhkan hatinya untuk tidak berucap apapun. Ia tetap bersikap anteng dan sengaja menghitung keanehan yang ditunjukkan oleh seorang Rasyid. Nadin sengaja tak mau menganggu Rasyid.

__ADS_1


Terlebih, Rasyid begitu sibuk berbincang dengan beberapa orang. Entah siapa saja yang ia hubungi. Bukan hanya itu, Rasyid juga begitu fasih berbicara bahasa asing. Membuat Nadin ingin tertawa.


"Pak, nanti tolong bilang Yoga, aku pergi ya. Tolong bilang sama dia juga, tunda aja meetingnya. Sepertinya aku bakalan lama di Singapore," ucap Rasyid pada sopir yang kini sedang mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.


"Baik, Tuan!" jawab pria paruh baya itu.


Nadin mencebikkan bibirnya. Meremehkan keteledoran suami penipunya ini.


Tak lupa, Nadin terus mengumpulkan bukti penipuan yang dilakukan oleh Rasyid, di otaknya. Mengelist, keanehan-keanehan Rasyid, dalam pikirannya. Agar nanti, bisa dengan mudah dia mengobrak-abrik suami menyebalkannya ini.


"Maaf, Tuan... saya ingin menyampaikan sesuatu," ucap pria paruh baya itu lagi.


"Saya mau izin pulang, Tuan. Insya Allah seminggu lagi putri saya mau menikah, Tuan," ucap pria itu dengan senyuman bahagia.


"Oh ya, selamat, Pak. Ya udah nanti bapak bilang saja sama Mita. Sekalian saya nitip sedikit hadiah buat putri bapak. Saya minta maaf nggak bisa datang, Pak. Semoga acaranya lancar," jawab Rasyid, sembari terus sibuk dengan ponselnya.


Yes, satu poin lain. Namun, Nadin tetap tidak mau mengeluarkan suaranya. Sampai mobil yang membawa mereka sampai ke bandara.

__ADS_1


Nadin masih berusaha menjaga sikap, tetap menunjukkan bahwa dia adalah istri bodoh yang penurut. Padahal, hatinya berkecamuk ingin marah pada pria menyebalkan ini. Ya, Nadin ingin sekali mengeluarkan uneg-unegnya. Tapi tidak di sini. Ia ingin memilih tempat yang meledakkan bom atom yang ada di hatinya. Agar pria yang ada di samping ini sadar. Bahwa dia bukanlah wanita yang mudah untuk bodohi.


Tepat pukul 10.30 waktu Indonesia bagian barat, pesawat yang mereka tumpangi sudah lepas landas.


Di sini, di dalam pesawat, Nadin masih diam. Namun sesekali ia menatap Rasyid dengan tatapan mengintimidasi. Sayangnya, Rasyid masih belum menyadari, bahwa istrinya ini sedang mengumpulkan bukti. Mengumpulkan bukti untuk membuatnya mengakui siapa sebenarnya dirinya.


***


Di lain pihak... sebagai seseorang yang kini sedang dekat, Vio pun siap mendampingi Yoga melewati masa terberatnya.


Violeta siap mengantarkan Yoga ke Singapore untuk menyusul Rasyid. Tentu saja untuk mengakui, kesalahan yang ia perbuat selama ini.


Di dalam mobil menuju bandara...


"Jika nanti aku di penjara, kamu boleh Vi cari pria lain yang lebih baik dari aku. Nggak pa-pa, aku ikhlas! Kamu berhak dapet pria yang lebih baik dari aku. Aku telalu kotor untukmu, Vi, " ucap Yoga, terdengar menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah kenyataan yang harus mereka jalani.


"Tenang aja soal itu, Ga. Bukankah rezeki, jiosh dan maut itu udah ada yang ngatur. Kalo pun kita nggak jodoh, setidaknya kita bisa temenan. Ya kan! Udah, untuk saat ini nggak usah mikir macam-macam. Pokoknya kamu fokus aja. Fokus sama masalahmu sekarang. Semoga Rasyid berbaik hati mau memaafkanmu," ucap Violeta lembut.

__ADS_1


Sungguh, saat ini Yoga tak mampu berucap apapun. Penipuan yang ia lakukan pada Rasyid tidak memang tidak main-main. Demi uang, ia tega menjebak sahabat karibnya ini. Hingga mau tak mau, pria itu harus bertanggung jawab pada anak yang sebenarnya buka darah dagingnya.


Bersambung...


__ADS_2