
***Terima Kasih banyak atas antusias kalian dengan novel ini😍😍Terharu😥😥Emak lagi sakit gaes, tapi demi nggak ngecewain kalian, Emak usahakan untuk selalu update😍Oke! Makasih buat jejak kalian🥰Lope sekebon Anggur😘😘***
****
Malam itu juga, tanpa berpamitan pada Nadin, Rasyid pergi meninggalkan Singapore. Namun, Rasyid bukan pria yang tidak bertanggung jawab. Ia tetap menyiapkan apapun yang Nadin butuhkan termasuk tiket untuk kembali ke Jakarta.
Nadin yang saat itu asik menenangkan Xian, tiba-tiba tertidur karena kelelahan. Hingga ia terjaga ketika terdengar alarm di ponselnya.
Nadin langsung bangun dan membersihkan diri, lalu melangkah meninggakan kamar Xian. Tentu saja untuk mencari pria yang saat ini sedang gundah gulana akan masalah yang ia hadapi.
Nadin melangkah dengan senyum bahagia, ia yakin saat ini Rasyid pasti jauh lebih tenang di banding malam tadi.
Tanpa mengetuk pintu telebih dahulu, Nadin pun masuk ke dalam kamar besar nanti mewah itu. Namun, saat ia masuk, kamar itu terlihat begitu sepi, rapi dan wangi. Seperti belum digunakan.
Tak dipungkiri bahwa saat ini perasaan Nadin bergelut tak nyaman. Namun, Nadin masih berusaha keras untuk berpositif thingking. Mau bagaimana pun, saat ini Rasyid sedang dalam keadaan kacau balau. Bukankah wajar jika dia ingin menenangkan diri.
__ADS_1
Namun begitu, Nadin tak bisa membiarkan kekasih hatinya itu terlalu dalam larut dalam kesedihan. Meskipun ia tak tahu masalah apa yang sebenarnya di hadapi oleh suaminya itu, setidaknya ia masih menunjukkan kepedulian.
Nadin mengambil ponselnya, mencoba menghubungi pria itu. Namun sayang, ponsel Rasyid di luar jangkauan.
Nadin tak kehilangan akal, ia pun mengirim pesan. Dan Nadin yakin, pasti nanti Rasyid akan membaca lalu membalasnya.
"Honey, kamu di mana? Kok pergi nggak bilang-bilang!" pesan pertama yang Nadin tulis.
Tak ada jawaban, lalu Nadin pun mengulang menulis pesan yang berbeda, "Mas, nggak lucu main ngilang-ngilang begini. Kita udah sana-sama dewasa ya, harusnya mas tetap di rumah dan kita bicarakan masalah kita."
aNadin terduduk lemas di ranjang besar itu. Pikirannya berputar tentang apa yang pernah Yoga katakan. Tentang ketidakpedulian Rasyid terhadap siapapun. Terlebih pada orang-orang yang membuatnya kecewa.
"Mungkinkah dia menilai semua orang sama? Mungkinkah dia pergi karena tak ingin bersamaku lagi?" gumam Nadin.
Meskipun ia mencoba menepis prasangka buruk yang hadir dalam benaknya, tetap saja melihat sikap Rasyid yang menghilang tanpa kata membuat Nadin memiliki pemikiran buruk atas hubungan mereka. Entahlah, semoga saja ini hanya prasangka Nadin semata.
__ADS_1
***
Sesuai janjinya pada Rasyid dan Violeta, Yoga pun menyerahkan diri ke polisi. Yoga tidak menyesal hidupnya berakhir seperti ini. Setidaknya ia membuktikan kesungguhannya untuk menjadi lebih baik.
"Jaga diri baik-baik ya, Yang. Maafkan aku karena udah bikin kamu kecewa," ucap Yoga sesaat sebelum Yoga dimasukkan ke dalam tahanan.
"Aku akan jaga diriku dengan baik. Kamu nggak usah khawatir." Violeta tersenyum, meski hatinya tersakiti perih.
"Aku titip ibu, ya. Ini tabungan aku, tolong kelola ya. Aku titip restoran dan kontrakan ku juga. Insya Allah itu nggak ada sangkut pautnya dengan kasus ini." Yoga mencium tangan Violeta, ia yakin dan percaya jika Vio pasti bisa menjalankan amanatnya.
"Kamu percaya padaku, Ga?" tanya Violeta.
"Insya Allah aku percaya, Vi. Kalopun kamu nipu aku, ya terserahmu. Kamu kan udah tahu apa hukuman untuk seorang penipu. Ini contohnya," jawab Yoga dengan senyuman terikhlas yang ia miliki. Violeta juga membalas senyuman itu. Membuat Yoga gemas. Andai Vio tahu, Yoga memiliki keinginan untuk menjadikannya istri. Andai hukuma itu tidak di depan mata. Yoga tak mau egois. Ia tak ingin mengikat Violeta dalam hubungan pernikahan yang salah.
Begitupun dengan Vio, gadis ini juga memiliki keinginan yang sama namun tak berani mengutarakan nya. Sungguh, andai Yoga tau, saat ini, detik ini, Violeta siap jika seandainya Yoga memintanya untuk menjadi istri.
__ADS_1
Bersambung...