
Ancaman yang dilontarkan Rasyid bukanlah isapan jempol belaka. Selepas pertemuannya dengan Horison, ia meminta beberapa pengawalnya untuk menyeret Emelda ke hadapannya, saat ini juga.
Rasyid tak ingin kalah cepat dengan wanita itu. Rasyid yakin, jika ibu tiri istrinya itu pasti akan nekat. Apa lagi banyak tekanan yang ia hadapi dari para koleganya. Termasuk tekanan dari Horison.
Sedangkan Yoga, pria tampan itu memastikan bahwa Horison mau menandatangani surat perjanjian, tidak akan pernah melibatkan Nadin dalam urusan apapun. Termasuk urusannya dengan ibu tiri gadis cantik itu.
"Saya harap anda tidak mengingkari perjanjian ini, Tuan. Anda tau benar bagaimana bos saya," ucap Yoga pada Casanova itu.
Bosmu memang bajingan brengsek, lihat saja nanti!
Horison tidak menjawab sepatah kata pun peringatan dari Yoga. Tetapi jika boleh jujur, ia juga berpikir seribu kali jika ingin melangkah jauh. Sebab nyawa dan bisnisnya adalah taruhan terbesarnya.
Namun, Horison adalah horison, pria dengan kelicikan hakiki. Meski diam, dia tetap memikirkan cara untuk melumpuhkan dinding pertahanan Rasyid. Agar dia bisa menyerang dengan mudah.
Tak ingin berlama-lama berasa di lingkup orang-orang sakit ini, Yoga pun memutuskan untuk hengkang dari tempat ini.
Selesai dengan urusannya, Yoga segera melangkahkan kakinya menuju restoran di mana ia meninggalkan Violeta.
Terlihat, gadis itu masih setia menunggu sembari memainkan ponselnya.
"Hay, sorry... lama ya?" ucap Yoga lembut.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Violeta gugup.
Yoga sedikit menyunggingkan senyum. Karena kalimat aku baik-baik saja, selalu menjadi andalan seorang Vio ketika ia bertanya apapun. Padahal, Yoga tahu, bahwa sebenarnya gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
"Sudah makan?" tanya Yoga lagi.
__ADS_1
Violeta mengangguk sembari tersenyum sekilas.
"Ya udah kalo gitu, yuk jalan. Mobil kamu udah aku kirim ke rumah nonamu. Mari aku antar kamu ke sana," ajak Yoga.
"Makasih banyak ya, beli bensin sama nyuruh orang, bayar berapa? Nanti aku tranfer," tanya Violeta sambil melangkah mengikuti langkah Yoga.
"Nggak usah, kamu simpan saja uangnya. Lagian nggak banyak kok," jawab Yoga.
Violeta ingin menolak, tapi dia sangat tahu bagaimana Yoga. Menolak kebaikan pria itu, sama seperti membangunkan singa yang sedang tidur. Yoga bisa marah besar jika Violeta berani melakukan itu. Imbasnya, ia pasti akan ditinggalkan di tempat ini. Bukankah itu mengerikan?
Di dalam mobil...
"Emmm, Ga, kamu tau kan rumah nonaku?" tanya Violeta, sedikit takut.
"Hemmm!"
Ingin Yoga menjawab demikian, namun itu tak mungkin. Karena jawaban itu pasti akan menimbulkan tanda tanya di benak Violeta.
"Astaga, hujan turun lagi. Kita jalannya pelan nggak pa-pa kan, Vi?" tanya Yoga (Padahal dia modus, pengen lama-lama bareng mbak mantan, hemmm dasar Yoga)
"Iya nggak pa-pa, yang penting nyampek dengan selamat," jawab Violeta.
Suasana hening sejenak. Yoga lebih sering melirik mencuri pandang. Sedangkan Violeta sibuk dengan pemandangan yang ada di samping kirinya.
"Ibu kamu apa kabar, Vi?" tanya Yoga, Tiba-tiba.
"Ibu udah nggak ada, Ga. Udah lama, setahun setelah kita udahan," jawab Violeta.
__ADS_1
"Hah? Serius? Kok kamu nggak ngabarin aku?"
"Ya kan aku nggak tau kontak kamu, aku diblokir kan? Aku pikir kamu udah sama Safa, ya udah lah... lagian kan udah nggak ada sesuatu juga sama kita." Violeta masih belum mau menatap Yoga.
"Siapa sih, Vi yang sama Safa? Orang kami cuma temanan. Malam itu Safa cuma minta di anterin ke kosan. Soalnya motor Zaki mogok. Udah sih, gitu aja. Kalo yang kamu denger and kamu lihat, itu nggak bener, Vi. Aku sama Safa nggak ada main. Demi Allah, Vi!" jawab Yoga, jujur.
"Apa aku harus percaya sama pria playboy kek kamu. Dasar badboy menyebalkan,"balas Violeta kesal.
"Badboy apa sih, Vi? Aku nggak pernah selingkuh. Demi Tuhan! Malam itu hujan, aku nggak bawa mantel, makanya aku tidur di kostan Safa, lagian nggak cuma aku. Ada Farel, ada Gibran juga. Terus Safa nya tidur di kamar Vivi. Kenapa kamu langsung ngejudge begitu? Kamu bisa tanya ke Zaki. Zaki juga tau kok soal itu. Kamu tu kebiasaan, Vi. Apa-apa nggak mau cari tau dulu. Nggak mau nanya dulu, langsung marah. Langsung menilai," jawab Yoga, membela diri.
"Gimana aku nggak langsung nilai, kalian berduaan di kamar. Safa pakek baju begituan. Kamu juga nggak pakek kaos kan? Siapa yang nggak berpikir kalian habis ngapa-ngapain." Violeta tak mau kalah.
"Ya waktu itu baju kami basah. Masak iya kami pakek baju basah."
"Iya, tapi nggak ganti barengan juga kali!"
"Astaghfirullah, Vi. Serah kamu kamu. Mau percaya apa nggak. Kalo kamu masih nggak percaya, kamu boleh tanya ke Gibran. Sekarang dia yang jadi suami Safa. Masak iya, Safa habis itu ama aku, Gibran mau. Yang bener aja kamu," ucap Yoga, ikutan kesal.
Violeta enggan menjawab. Hatinya terlalu lelah untuk mengingat kejadian menyakitkan itu baginya. Sedangkan Yoga sendiri juga kesal dengan sikap masa bodoh Violeta. Gadis itu terlalu tertutup untuk mau mendengar dan mencari tahu suatu kejadian.
Mereka sama-sama keras kepala.
Bersambung..
Hay hay kalian, thank banget udah sudi ninggalin jejak kalian di sini😍😍Bagi kalian yang baru kenal sama aku, kalian bisa tongkrongin karya saya yang lain😍😍😍Nggak kalah seru n bisa bikin emosi kalian meledak-ledak loh😘😘😘Stay tune...
__ADS_1