Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Surat Cerai


__ADS_3

Seminggu Kemudian...


Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Rasyid sama sekali tak pernah memberinya kabar. Pria itu menghilang bak di telan bumi.


Nadin tidak bisa mencari keberadaan Rasyid karena ia tidak tau cicle pria itu. Bohong jika Nadin tidak khawatir. Namun Nadin tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan menunggu.


Nadin tersentak dari lamunan ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Orang tersebut tak lain adalah asisten rumah tangga yang ada di rumah itu.


"Ya," ucap Nadin.


"Maaf, Nyonya, ada tamu," ucap wanita paruh baya itu.


"Oh, oke!" jawab Nadin seraya beranjak dari tempat duduknya. Kemudian melangkah menuju ruang tamu.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadin pada dua orang berpakaian rapi itu.

__ADS_1


"Selamat siang, Bu... perkenalan kami adalah pengacara pak Rasyid. Kami datang ke sini mewakili beliau untuk menyampaikan surat ini," ucap salah satu dari mereka.


Nadin menerima amplop itu. Dengan jantung berdebar, Nadin pun membuka amplop itu, lalu membacanya.


Nadin tercengang ketika di dalam lembar yang kedua ada kata CERAI. Sungguh, Nadin tidak percaya ini.


"Tunggu! Saya tidak mengerti dengan ini. Bagaimana bisa dia menceraikan saya? Apa salah saya?" tanya Nadin pada kedua pria itu.


"Maaf, Nyonya, tuan hanya ingin hidup damai. Beliau juga sudah menuliskan detail alasan beliau menggugat anda," jawab pria itu.


"Maaf, Nyonya, tuan tidak ingin bertemu siapapun saat ini. Beliau hanya meminta anda untuk kooperatif saja. Jangan memperkeruh suasana!" balas pengacara itu.


"Bagaimana bisa dia memintaku kooperatif? kita ngomongin pasal ini juga nggak. Kalian tahu nggak, sikap kooperatif itu jika kedua belah pihak sudah mendiskusikan ini sebelumnya dan jedanya sepakat. Gila aja aku disuruh kooperatif tapi nggak diajak bicara dulu. Terserah kalian, aku nggak mau cerai. Aku mau ketemu dia dulu. Aku bau bicara sama dia dulu. Kalo dia nggak mau ketemu, minimal suruh dia telpon aku Dia masih nyimpen kan nomer aku," tolak Nadin tegas.


Kedua pria itu saling menatap. Mereka heran dengan ketegasan istri bos mereka ini.

__ADS_1


"Baik, Nyonya... keinginan anda akan kami sampaikan," jawab pria itu.


"Sampaikan sekarang, aku mau bicara dengannya," balas Nadin.


"Baik, Nyonya!" jawab pria itu.


Tak berapa lama pria itu pun menghubungi Rasyid. Beruntung Rasyid tak menolak panggilan itu. Sehingga Nadin bisa berbicara dengan pria itu.


"Yang, ini nggak bener loh... kalo aku ada salah aku minta maaf. Tapi kalo langsung cerai gini, apa bedanya kamu lari dari masalah!l," pinta Nadin lembut, agar Rasyid mengerti bahwa langkah yang ia ambil ini sangat tidak masuk akal.


"Yang, bicaralah... kita berdua sana-sama pernah merasakan hidup nggak enak. Aku habis kehilangan oma dan juga papa. Masak harus kehilangan kamu lagi. Di dunia ini aku hanya punya kamu, Yang. Masak kamu tega sih ninggalin aku!" ucap Nadin. Entahlah, andai saat ini Rasyid berpikir bahwa dirinya mengemis cinta, terserah... yang penting dia bisa mempertahankan rumah tangga ini.


Rasyid hanya mendengarkan apapun yang istrinya ucapkan. Tanpa berani membalas ucapan itu. Sebab di sana, ia juga menderita. Melawan rindu yang menggerogoti sanubari nya.


Namun, rasa kecewa yang ia rasakan saat ini, jauh lebih besar dari rasa percaya yang ia miliki untuk orang-orang itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2