
Di dalam ruang rapat...
Nadin bekerja seprofesional mungkin. Mempromosikan projek mereka yang baru. Rasyid sangat kagum dengan keluwesan Nadin menyampaikan apa yang menjadi tugasnya. Tetapi, tak dipungkiri Rasyid juga curiga, dari mana dia belajar ini semua. Bukankah belum sehari dia bekerja. Lalu dari mana tahu seluk belik perusahaan ini. Seperti seseorang yang sudah lama bekerja di sini.
Di detik berikutnya kekaguman plus kecurigaannya Rasyid buyar oleh tepuk tangan riuh para anggota rapat. Rasyid tersenyum bangga hingga ia lupa dengan kecurigaannya tentang dari mana Nadin tahu banyak tentang proyek ini.
"Sekertaris anda luar biasa, Tuan Hidayat. Saya kagum," ucap salah satu bos yang ikut rapat di sana.
Rasyid tidak menjawab, Ia hanya tersenyum. Karena Rasyid berpikir, bahwa partner kerjanya ini hanya kagum dengan kecerdasan Nadin. Tidak dengan hal lain.
Sayangnya, apa yang dipikirkan Rasyid salah. Pria paruh baya itu malah tertarik pada Nadin perihal lain.
"Boleh lah dikenalin. Jangan disimpan sendiri lah. Dia cantik, cerdas, menarik, saya cocok sama dia, Tuan Hidayat. Saya pengen jadiin dia istri ketiga saya, kalo dia mau," tambah pria bertubuh gendut itu lagi.
What!!! pekik Rasyid dalam hati. Tangannya langsung mengepal, meremas kuat-kuat. Rasyid marah. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras. Ingin rasanya ia melayangkan bogem merah di wajah pria tak tau diri ini. Untung saja Rasyid ingat, bahwa proyek ini sangat berarti bagi kelangsungan binisnya, jika tidak ia pasti sudah melempar pria jelek ini ke samudra Hindia. Biar jadi bulan-bulanan mahluk halus di sana.
__ADS_1
Rasyid tersenyum sekilas. Mencoba meredam amarah yang kini menggebu di dalam dadanya. Beruntung, ketika ia melirik Nadin, wanita yang ia cintai itu sedang tersenyum. Tentu saja, senyuman itu langsung membuat seorang Rasyid senang dan akhirnya bisa meredam amarah yang bergejolak di dalam hatinya.
Dengan sabar, Rasyid pun menjawab pertanyaan itu dengan penuh persahabatan, "Sebenarnya wanita itu istri saya, Tuan Ven, saya mohon maaf karena tidak bisa mengenalkan dia pada anda. Maaf ya." Ekpresi yang ditunjukkan oleh Rasyid sangat datar namun dingin. Membuat bulu kuduk pria yang di panggil Tuan Ven itu pun merinding.
"Oh, i am sorry, Tuan Hidayat. Sungguh, Saya mohon maaf. Karena sudah lancang. Habis saya terpesona melihat penampilan istri plus sekertaris anda. Dia sangat berkelas. Elegan dan manis. Laki-laki normal mana yang tidak tertarik dengan kecerdasan dan bahasa tubuh wanita cantik ini. Wahhh... anda beruntung sekali Tuan Hidayat, bisa memiliki istri semanis ini," ucap pria itu lagi.
Bukannya membalas, Rasyid malah mengumpat dalam hati. Bener, andai saat ini tidak berada di dalam situasi super genting seperti ini, mungkin Rasyid pasti akan menghadiahi pria cerewet ini dengan bogem mentah. Tepat di mata pria itu, agar tidak seenaknya saja menatap istrinya. Bukan hanya itu, Rasyid juga ingin menyobek mulut pria ini, agar tidak sembarangan memuji istrinya.
Aaaiiisshhhhh... sial! umpat Rasyid dalam hati. Tak sabar, Rasyid pun ingin rapat ini segera berakhir. Agar dia bisa segera menegur Nadin. Karena terlalu pandai dan cantik... Ahhh... entahlah, pokoknya Rasyid tidak suka jika ada pria lain yang menatap Nadin selain dirinya.
Di ruang kerja Rasyid...
"Kamu sengaja ya tadi, ngomong manis-manis begitu. Biar bisa godain para bos brengsek itu!" tegur Rasyid tanpa basa-basi.
"Maaf Tuan, apa maksud Anda? Saya tidak mengerti!" jawab Nadin, serius. Sepertinya Nadin lupa, bahwa di sini dia dilarang keras untuk tegang.
__ADS_1
"Apa kamu tau, tadi kamu tu kecentilan. Kamu nggak lihat apa, para bos pada ngiler ngliatin kamu. Atau kamu memang sengaja tebar pesona?" Serang Rasyid tanpa basa-basi.
"Ah tidak, Tuan! Saya rasa, itu cuma perasaan anda saja. Saya ma baik-baik saja. Tadi banyak yang tepuk tangan dan banyak juga yang menyetujui proposal kita, berarti saya berhasil menyakinkan mereka dong, Tuan. Kok malah Tuan nilainya lain sih, kenapa? Tuan ada masalah?" tanya Nadin, sengaja dengan nada lembut, baik-baik, manis-manis, agar Rasyid semakin terlena dan tidak menyadari tujuannya.
"Kamu... isshhh... kamu tau nggak, tadi tu... bos mereka minta dikenalin sama kamu. Katanya kamu cerdas, baik, mempesona, dia puji-puji nggak jelas soal kamu. Minta dikenalin. Bahkan dia mau jadiin kamu istri ketiga, kurang ajar bener tu orang. Kalo nggak ingat aku butuh proyek ini, sudah aku ledakkan kepalanya, detik itu juga. Biar mampus sekalian. Berani sekali dia terpesona dengan istriku!" racau Rasyid kesal.
Nadin tertawa dalam hati. Ia juga tahu jika saat ini, suami bodohnya ini sedang di serang rasa cemburu . Namun ia juga tahu bahwa saat ini Rasyid tidak main-main. Matanya memerah karena menahan amarah. Artinya, pria itu benar-benar emosi.
"Ya, nggak pa-pa lah Tuan, kagum itu kan manusiawi. Lagian wajar lagi kalo dia kagum sama saya. Secara saya manis, cantik, cerdas, seksi dan gemoy gini. Siapa coba yang nggak tertarik. Kayaknya cuma Tuan mahluk di dunia ini yang nolak dan tidak tertarik sama saya. Tapi ya udahlah ya, masak ditolak masih ngemis, memelas, sedih-sedih gitu, kayaknya nggak banget. Iya kan Tuan? Pokoknya, mulai sekarang, tenangkan diri anda. Jangan terpancing dengan apapun. Lagian kita udah end, jadi ya nggak pa-pa lah kalo ada yang mau deketin saya. Apa lagi yang tajir gitu, mayan kan Tuan. Kali aja, bisa dapet lebih nanti," jawab Nadin asal.
Spontan, Rasyid pun melangkah mendekati wanita itu, lalu menarik kasar tangan Nadin. Menangkap tubuh itu. Mendekap dan menatap tajam ke arah wanita itu. Lalu pria arogan ini pun berucap, "Jangan pernah berpikir mau menggantikanku dengan pria rendahan seperti itu. Akan kuhancurkan hidupmu jika kamu berani melakukannya, paham!"
Rasyid melepas kasar tubuh Nadin. Lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya. Meninggalkan Nadin dengan sejuta amarah yang mulai dera. Rasyid kalah. Rasyid tak mampu menahan rasa cemburunya. Namun ia terlalu bodoh. Terlalu munafik untuk mengakui apa yang ia rasakan. Hanya mengancam dan mengatur Nadin sesuka hatinya. Tanpa memikirkan perasaan sang istri sedikitpun.
Sebenarnya Nadin sangat bingung dengan sikap aneh Rasyid. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti alur. Bukankah ini adalah tujuannya. Membuat pria itu mau mengakui perasaannya.
__ADS_1
Bersambung...