Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Akal Licik


__ADS_3

Di balik kebahagiaan yang Rasyid rasakan saat ini, ada duka yang tidak ia sadari. Sebuah penghianatan yang sama sekali tidak ia sadari. Penghianatan yang dilakukan oleh sahabat karibnya sendiri. Beserta orang yang pernah berarti dalam hidupnya.


Lika liku kehidupan Rasyid tidak hanya sampai di situ. Di balik sikapnya yang garang, ternyata terselip sebuah kisah yang tidak mengenakan. Meski curiga, ia tetap tidak berani mengulik kebohongan itu.


Bukan apa, ternyata Rasyid takut kecewa. Takut kehilangan.


Dan sekarang, semua terbukti... Penghianatan dalam hidupnya, ternyata nyata adanya.


***


Di sebuah restoran elit di salah satu hotel terkenal di Jakarta. Di mana Yoga dan Anisa membuat janji temu...


"Jangan menekan ku, atau aku akan bongkar semua kebusukanmu pada Rasyid," ancam Yoga kesal.


"Bongkar saja, aku tidak peduli. Yang aku inginkan hanya Xian. Aku mau Xianku," jawab


"Aku menghargai persahabatan kita, karena kamu pernah menolongku di saat aku benar-benar hancur. Tapi jangan lupa, Rasyid juga berperan penting dalam hidupku. Aku bisa saja membongkar perlakuan busukmu karena telah memanfaatnya, ingat itu!" ancam Yoga kesal.


"Silakan, kamu pikir aku takut. Ingat Pak Yoga yang terhormat, kartu As mu ada di tanganku, katakan saja padanya. Katakan apa yang kamu ketahui tentang ku dan aku pun akan berbuat yang sama. Kita sama-sama kotor, Honey. Jangan mencoba mengancam!" jawab Anisa, santai.

__ADS_1


"Jika aku tau kamu adalah ular, sudah sejak awal awal aku kasih tahu Rasyid, jika Xian bukalah darah dagingnya." Yoga menatap marah pada wanita yang telah tega mempermainkan perasaan sahabatnya ini.


"Salahmu sendiri." Anisa tertawa, lalu ia kembali menyambung ucapannya, "Ngomong-ngomong, makasih ya, berkatmu Xianku ada yang jagain. Xianku bisa hidup enak meskipun nggak sama ibu bapaknya." Anisa kembali tertawa. Membuat telinga Yoga teras panas.


"Kita lihat nanti, siapa di sini yang dipercaya Rasyid. Aku tidak peduli meskipun karirku hancur, yang pasti aku lelah boongin dia. Kamu keterlaluan, Nis!" ucap Yoga, kesal.


"Sudah ku bilang, silakan kamu mengumpat sesukamu. Aku tidak peduli. Tugasmu sekarang hanya satu, dekatkan kembali aku pada Rasyid atau aku akan menghancurkan hidupmu! Itu saja, mudah kan?" ucap Anisa lagi, kembali melancarkan tujuannya.


"Kamu gila, Nis!"


"Emang, kalo nggak gila mana aku bisa hidup enak. Please Yoga, jangan muna... kita sama-sama manfaatin Rasyid. Kamu pikir aku nggak tau, banyak uang Rasyid yang udah kamu gelapkan. Heeemmm! Please Yoga, kita sama-sama ular. So, kita kerja sama yang baik aja lah," jawab Anisa, senang. Karena sekali lagi, dia menang. Menang bisa membuat Yoga kembali tak berkutik.


"Oh, ya.. bagaimana dengan ini?" tanya Anisa sembari mengeluarkan beberapa lembar bukti pembayaran rumah sakit ibu Yoga yang menderita kanker paru dan sekarang sedang berobat ke Singapura.


Yoga diam, tak menampik itu.


"Kenapa diam? Takut ya, kalo selama ini kamu udah banyak menggelapkan uang Rasyid untuk ini. Ayolah Honey, kamu pasrah aja, atau pengobatan ibumu akan berhenti, hemmm!" ucap Anisa, mengancam halus.


"Aku memang salah dan aku akan mengakui itu, tapi tidak jika membantumu mendekati Rasyid lagi. Cukup sudah aku diperalat oleh wanita ular sepertimu," jawab Yoga tegas.

__ADS_1


"Oke, kita lihat nanti. Siapa yang akan menang di sini, aku atau kamu," tantang Anisa.


"Hah, oke, aku siap dengan resiko apapun yang akan aku hadapi. Tapi ingat, aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh Rasyid lagi. Aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan dia lagi," jawab Yoga, tegas.


Anisa mencebikkan bibir, meremehkan. Sebab ia yakin, Yoga tidak akan siap dengan konsekuensi yang menantinya.


***


Di sisi lain, Rasyid sedang memerhatikan istrinya bersiap. Memakai baju stelan atas bawah yang menurut pria itu, sedikit tidak sopan.


"Jangan pakai itu lah, Sayang. Ini terbuka, kelihatan dadanya," ucap Rasyid sembari menunjuk dada mulus sang istri.


"Astaga, Mas.. lalu aku mesti pakai yang mana?" tanya Nadin sedikit kesal.


"Ganti lah, yang lebih tertutup. Kalo nggak yang tadi aja, tapi jangan pakek rok. Ganti celana," tawarnya, sembari merengek seperti anak kecil.


Tak ingin berdebat, Nadin pun menuruti keinginan sang suami. Merapikan baju-baju itu dan mengambil baju yang diinginkan sang suami.


Rasyid tersenyum, sebab akal liciknya tak di sadari oleh Nadin. Peraturan-peraturan yang ia buat, ternyata hanya akal-akalan saja, agar sang istri telat berangkat kerja. Sebenarnya Rasyid hanya enggan ditinggal kerja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2