Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Kaku


__ADS_3

Suasana di ruangan itu tidak seceria biasa. Biasanya, ketika Nadin bertemu Violeta, di mana pun berada, mereka selalu heboh dan saling berbagi apa yang mereka lalui. Begitupun dengan Zarin sendiri.


Zarin dan Violeta tidak pernah kehabisan bahan untuk menjadi subjek ghibahan mereka. Baik itu perihal pekerjaan atau pun perihal pribadi. Tetapi sekarang, mereka terlihat seperti tidak nyaman dengan posisi masing-masing.


"Apakah wanita jahat itu pergi ke tempat tinggal kalian?" tanya Zarin.


"Iya, Oma. Mereka datang tadi pagi dan semalam para preman itu juga datang, hendak menyakiti Nadin," jawab Rasyid jujur.


Nadin diam, karena kenyataannya memang demikian.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Vio... cepat siapkan pernikahan untuk mereka. Jangan tunda lagi. Jika dia tau Nadin masih gadis, maka dia pasti akan terus mengejar bidadari kita!" pinta Zarin, tegas.


"Baik, Nyonya!" jawab Violeta, mencoba menyembunyikan rasa yang saat ini berkecambuk di dalam hatinya.


"Tapi Oma, aku nggak mau sama dia! Nadin nggak mau nikah Oma!" tolak nya.


"Nggak ada jalan lain, Sayang. Mengertilah! wanita itu berkawan dengan para mafia. Dia bisa melakukan apapun. Setidaknya, jika kamu sudah menikah, maka masih ada satu tembok lagi yang menjagamu. Dan Oma percaya, Rasyid bisa menjagamu," bujuk Zarin.


Nadin menatap Rasyid dengan lirikan kesal. Entahlah, ia tidak rela saja menikah dengan pria mesum seperti Rasyid.


"Maaf Oma, apa kita bisa berbicara berdua?" tanya Rasyid.


"Ihhh, ngapain kamu mau bicara berdua dengan omaku. Kamu mau ngrayu dia ya. Dasar pria licik!" tuduh Nadin kesal.


"Sebaiknya anda diam dulu, Nona. Musuh yang kita hadapi bukan orang biasa, asal tendang selesai. Apa anda tau, orang yang menginginkan anda adalah mafia tersohor di kelasnya?" tanya Rasyid, sedikit kesal.

__ADS_1


"Dari mana kamu tau? Apa kamu berteman dengan mereka?" tanya Nadin, curiga.


"Ya nggak lah, masak temenan sama mereka. Sekelas satpam, mana bisa?" jawab Rasyid, kali ini lembut. Agar Nadin mau sedikit mengerti. Bahwa situasi yang mereka hadapi tidak bisa diremehkan.


"Aku nggak percaya sama kamu," jawab Nadin.


"Ayolah, Nad. Situasi ini nggak bisa kita anggap remeh. Maaf, Oma... bolehkah saya minta asisten anda untuk kesuatu tempat. Ada sesuatu yang mesti dia ambil," ucap Rasyid.


"Ke mana?" tanya Zarin.


Rasyid pun mendekati Zarin. Lalu membisikkan sesuatu. Memberi tahu wanita tua itu, bahwa sebenarnya yang mengejar Nadin bukan hanya satu orang. Tapi lebih dari tiga. Karena Emelda telah menandatangani beberapa surat perjanjian dengan lebih dari tiga orang.


"Benarkah?" tanya Zarin, terkejut.


"Dari mana kamu tau?"


Rasyid mengeluarkan ponselnya dan memberikan beberapa foto yang dikirimkan Yoga padanya, tadi malam.


"Ini kan orangnya?" tanya Rasyid.


"Ya." Lagi-lagi Zarin tercengang.


"Wait, kamu tau dari mana?" tanya Zarin, curiga.


"Maaf, Oma, saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi percayalah, info yang saya terima, sangat bisa dipercaya. Saya yakin, ini sangat akurat." Rasyid menatap wanita tua itu.

__ADS_1


"Brengsek, jadi wanita ****** itu serius mau mengobrak-abrik keluargaku. Bagaimana dengan suaminya, apakah dia tidak tau kelakuan nekat istrinya?" tanya Zarin, emosi.


"Soal itu saya tidak tau, setau saya, yang aktif di dunia malam hanya dia!"


"Astaga, apakah Anton masih bodoh dan pasrah saja jadi sapi perah wanita itu. Astaga, dosa apa yang aku lakukan sehingga melahirkan anak bodoh sepertinya?" ucap Zarin menyesal.


"Jangan pikirkan apa yang tidak seharusnya anda pikirkan. Sekarang yang harus kita lakukan adalah jangan sampai Nadin tertangkap oleh salah satu dari mereka. Saya rasa ini adalah keputusan terbaik!" jawab Rasyid.


"Ini sih gila! Apa yang harus kita lakukan?" tanya Zarin.


"Sementara sembunyikan Nadin di tempat yang aman. Pernikahan bukan solusi terbaik untuk saat ini. Saya rasa, membuat wanita itu membayar kejahatannya lebih penting. Bukankah begitu, Oma?" jawab Rasyid.


"Jadi kamu menolak cucuku?" tanya Zarin, takut.


"Bukan begitu, Oma. Pernikahan tanpa di landasi rasa cinta, saya rasa tidak baik."


"Kamu tahu berapa lama lagi aku bertahan, Syid. Aku mohon!" pinta Zarin.


Rasyid diam. Hatinya bimbang. Sedangkan Nadin menatap marah pada Rasyid.


Zarin sendiri menatap Nadin, tak tahu harus bagaimana lagi ia meminta cucunya itu untuk mengerti keinginannya. Masih dalam tatapan penuh permohonan, Tiba-tiba saja keluar darah segar dari hidung Zarin. Semua orang pun panik!


Bersambung...


Jangan lupa like komen n votenya yes..

__ADS_1


__ADS_2