Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Sebuah pilihan


__ADS_3

"Papiiii!" teriak seseorang dari salah satu pintu kamar yang ada di dalam rumah tersebut.


Dengan senyum penuh kebahagiaan, Rasyid pun segera menyambut kedatangan sang putra.


"Huuufff, jagoan Papi... Papi kangen, Sayang!" ucap Rasyid penuh kasih sayang.


"Xian juga kangen, Pi!" ucap bocah tampan itu.


Xian dan Rasyid bercengkrama akrab seakan tidak ada masalah apapun yang menghantam hubungan mereka. Xian begitu manja pada Rasyid. Begitu pun Rasyid, pria tampan itu juga terlihat begitu bahagia ketika mendengarkan cerita-cerita menggemaskan sang putra.


"Pi, itu siapa?" bisik Xian ketika melihat Nadin tersenyum sembari memerhatikan tingkah lucunya.


"Oh iya lupa, Papi... itu cewek yang waktu itu kita bahas. Gimana cantik nggak?" jawab Rasyid, berbisik. Tentu saja agar Nadin tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Cantik, Pi.. tapi apa dia baik?"


"Em, entah... soalnya Papi habis kena omel. Coba kamu deketin, siapa tau dia mau maafin Papi," jawab Rasyid seperti biasa, bertingkah tak berjarak dengan Xian. Bersikap seperti sahabat.


"Oke, biar Xian yang deketin, Papi tunggu sini!!" pinta bocah tampan itu sembari melangkah mendekati Nadin yang saat ini sedang berdiri dan tersaenyum ramah padanya.


"Hay..." sapa Xian.


"Ya.... kamu tampan sekali, Sayang!" balas Nadin dengan senyum manisnya.


"Makasih, Nona. Bolehkah kita kenalan?" tanya Xian sembari mengulurkan tangannya pada Nadin.

__ADS_1


Dengan ketulusannya, Nadin pun membalas uluran tangan itu.


"Bolehkah aku tau siapa namamu?" tanya Nadin, ramah.


"Xian Haidar and you?" jawab Xian tanpa malu-malu.


"Nadin.... Nadin Daneswara," balas Nadin.


"Oke, apakah kamu kekasih papi?"


"Emmm, mungkin." Nadin tersenyum.


"Oke, kakak cantik, maukah kakak jadi kekasihku juga?" tanya Xian dengan senym manisnya.


"Kakak mau minum apa? Biar sus buatkan?" tanya Xian, ramah. Sepertinya Xian sudah jatuh cinta pada ibu sambungnya, sampai ia lupa bahwa papinya sedang menunggu sikap manjanya, seperti biasa.


"Eee, boleh. Tapi apakah Xian sudah makan?" tanya Nadin, lembut.


Xian mengangguk, berati dia sudah makan. Xian anak yang cerdas, buktinya ia bisa menjawab setiap pertanyaan Nadin dengan sangat baik. Nadin semakin senang bercengkrama dengan bocah tampan itu, sebab Xian bisa bersikap sangat sopan.


Nadin tidak tau dari mana anak sekecil Xian bisa begitu lembut dan bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Nadin dengan cukup baik.


Rasyid tak ingin mengganggu waktu mereka. Nadin dan Xian sedang membangun bonding di antara mereka. Dan menurut Rasyid, mereka terlihat sangat manis jika bersama. Hingga tanpa sadar, pria itu berdoa, bahwa bocah tampan itu adalah anaknya. Sungguh, Rasyid tidak bisa membayangkan jika seandainya kenyataannya nanti Xian bukanlah darah dagingnya.


Rasyid takut, jika ibu kandung atau pun ayah kandung bocah manis itu mengambil Xian darinya. Rasyid sudah terlanjur mencintai bocah itu. Begitu pun Xian.

__ADS_1


Hampir satu jam Rasyid menunggu Xian dan Nadin bercengkrama, namun tak ada tanda-tanda bagi mereka untuk menyudahi perbincangan itu.


Akhirnya Rasyid pun memutuskan untuk ke kamar. Membersihkan diri dan istrirahat. Sebab ia mulai merasakan lelah, setelah seharian bergelut dengan berbagai macam kegiatan untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.


Namun, ketika ia hendak melangkah, terdengar suara langsh seseorang. Rasyid pun menoleh ke arah suara. Dan ternyata yang datang adalah Yoga dan Vio.


Rasyid menatap kedua insan itu. Menatap mereka berdua dengan tatapan tak suka.


Nadin yang melihat perubahan ekpresi sang suami, langsung meminta Xian masuk ke dalam kamar. Karena ia tau, tatapan Rasyid pada kedua tamunya ini seperti tatapan kemarahan. Entah apa masalahnya, namun Nadin yakin jika masalah yang bersarang di hati Rasyid, pasti ada hubungannya dengan sekertarisnya ini.


"Bos, maafkan aku, aku terpaksa menyusulmu ke sini. Ada sesuatu yang kini aku sampaikan padamu," ucap Yoga sembari menatap Nadin. Sebab ia merasa tak nyaman dengan orang baru yang datang dalam hidup Rasyid ini.


"Oke, silakan duduk. Kamu mau ngomong soal apa, silakan saja," ucap Rasyid, terdengar dingin dan kaku. Membuat Yoga serasa tertampar dengan perubahan sikap Rasyid padanya.


"Maaf, Bos... apa yang akan aku sampaikan ini adalah masalah pribadi. Bolehkah kita berbincang di ruang bos saja," tawar Yoga.


Rasyid menatap sang istri, seolah meminta persetuykuan dengan Nadin. Sedangkan Nadin sendiri pun tak melarang. Nadin siap kapan un Rsyid membutuhkannya.


"Oke, mari!" ajak Rasyid.


Dengan debaran jantung yang sulit untuk ia kendalikan, akhirnya Yoga pun mengikuiti langkah Rasyid.


Kali ini Yoga sangat serius dengan keputusannya. Yoga tak akan mundur. Lebih baik dia di penjara dari pada ia harus menjadi pria busuk seumur hidupnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2