Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Berasa Bodoh


__ADS_3

"Saya adalah anak dari selingkuhan suami ibu nyonya, yang artinya saya adalah tante anda, Nona!" ucap Violeta. Jujur. Tak ingin menutupi apapun, sebab menurutnya, sudah tak ada lagi yang harus ia tutupi dari Nadin.


Nadin tercengang. Matanya menatap tak percaya pada Violeta. Entahlah.... di detik ini, Nadin kembali merasakan kebodohan yang hakiki dalam hidupnya.


Nadin terlalu masa bodoh dan terbuai dengan kehidupannya sendiri. Sehingga ia lupa bahwa ternyata ada sesuatu yang harus ia pikirkan. Perasaan omanya, mungkin.


"Serius?" tanya Nadin, penasaran.


Violeta mengangguk, mengiyakan.


"Apa oma tau?"


Violeta kembali mengangguk.


"Kapan?" tanya Nadin lagi.


"Terakhir ketika beliau masuk rumah sakit."


Nadin kembali menatap terheran-heran. Sungguh, kenyataan ini sangat menampar egonya. Nadin benar-benar merasa bodoh.


"Apakah omaku marah?"


"Tidak, beliau tidak marah."


"Kok bisa?" tanya Nadin, heran.


"Entah! Saya tidak tau alasan beliau tidak marah. Tetapi menurut penilain saya, sepertinya beliau sudah tidak perduli dengan perasaanya. Saya rasa beliau sudah kebal dengan berbagai masalah yang hinggap dalam hidupnya. Sepertinya siapa saya, itu juga tak penting baginya," jawab Violeta.

__ADS_1


Nadin diam sesaat. Sungguh, kenyataan ini seperti memberi Nadin kaca. Bahwa kita tidak boleh mempermainkan sebuah hubungan. Apa lagi yang disebut pernikahan. Karena mau tak mau, pengianatan itu imbasnya sampai ke anak cucu.


Seperti apa yang ia alami. Yang menjadi akar dari semua masalah yang menimpanya adalah kakeknya. Kakeknya yang hobi bermain wanita itu. Tapi banyak sekali wanita yang tersakiti. Terutama oma Zarin. Wanita itulah yang paling tercekik.


Benar kata Violeta, bahwa kita tidak bisa menghakimi Zarin. Wanita itu bukan tidak berani melawan ketidakadilan dalam hidupnya. Tetapi, banyak hal yang ia pikirkan.


"Saya sudah meminta maaf pada ibu nyonya perihal kelakuan ibu saya yang berani jatuh cinta pada suaminya. Di tambah, dari kecurangan itu hadirlah saya. Saya memang tidak tau apa-apa, Nona. Tetapi saya berkewajiban meminta maaf pada seseorang yang telah di sakiti oleh ibuku. Agar ibuku mendapat penerangan dalam perjalannya menuju keabadian. Itu yang saya inginkan," jawab Violeta, jujur.


"Mulia sekali hatimu, Nona Vio. Tapi maukah kamu memberiku waktu untuk memahami ini semua. Sungguh, kenyataan ini membuatku tidak bisa berpikir. Emosiku terlalu kacau untuk bisa menerima kenyataan ini, sungguh!" balas Nadin jujur.


Violeta mengangguk. Ia pun paham. Bahwa kenyataan yang mereka hadapi sekarang memang tidak mudah bagi Nadin. Terlebih, kronologi kepergian ibunya ternyata bukan sakit. Tetapi lebih di sakiti.


Setelah ini, Nadin hanya menginginkan keadilan untuk ayah dan ibunya.


Emelda...


Ya, Emelda...


Wanita itulah yang menjadikan dirinya yatim piatu.


Nadin berjanji akan membuat perhitungan dengan wanita itu. Wanita itu harus merasakan hal yang sama yang ia rasakan saat ini. Nadin bersumpah soal itu.


***


Di lain pihak...


Wanita yang masuk ke dalam mobil yang dikendarai Yoga, ternyata adalah wanita yang sedari tadi dibicarakan oleh Rasyid dan juga Yoga sendiri. Wanita yang telah menyakiti Rasyid. Wanita yang Rasyid hindari tentunya.

__ADS_1


"Mbak, ke mana kami harus mengantar anda?" tanya Yoga.


Wanita itu diam. Belum berani menjawab. Sebab ia tau, Yoga tidak sendirian. Yoga pasti bersama mantan kekasihnya.


"Mbak, kita mesti antar mbak ke mana?" tanya Yoga lagi.


Wanita itu masih belum mau menjawab pertanyaan Yoga. Dia masih diam. Yoga pikir, wanita itu pasti masih ketakutan. Tak ingin membuat Rasyid jengkel, Yoga pun memutuskan menghentikan mobil dan melihat siapa sebenarnya wanita yang ada di dalam mobilnya tanpa izin itu.


Yoga menyalakan lampu belakang. Lalu ia pun menengok kebelakang.


Betapa terkejutnya dia, bahwa wanita yang ada di dalam mobilnya adalah dia. Anisa... wanita yang dihindari oleh bosnya.


"Sstttt... " ucap Anisa memberi kode.


Yoga masih tercengang. Tak tahu harus menjawab apa.


Anisa menangkupkan kedua tangannya agar tidak memancingnya untuk mengeluarkan suara.


Agar Rasyid tidak menyadari bahwa wanita yang ia tolong adalah dirinya.


Jika tidak Rasyid pasti akan melemparnya keluar. Sebab Anisa tau, jika Rasyid pasti sangat membencinya. Anisa sangat tau bagaimana Rasyid.


"Oke, saya akan antar anda ke sana,. Anda tenang saja," jawab Yoga sembari kembali memasang seatbelt-nya. Lalu mematikan lampu belakang. Agar Rasyid tidak curiga.


"Kenapa?" tanya Rasyid.


"Tidak, sepertinya mbaknya tuna rungu. Dia hanya memberiku kode untuk mengantarjannya ke hotel terdekat. Ya, hotel terdekat. Seperti itu," jawab Yoga berbohong.

__ADS_1


Rasyid tak mau ambil pusing dengan jawaban itu. Ia juga tak peduli dengan keadaan saat ini. Fokusnya hanya ponsel yang berisi pesan chat jadi permaisurinya. Yang menginginkan dirinya segera kembali.


Bersambung...


__ADS_2