Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Masa Laluku


__ADS_3

Rasyid menatap langit-langit kamar, lalu tersenyum ketika melirik Nadin yang memeluk manja lengannya. Bukan hanya memeluk, wanita itu juga menciumi kadang-kadang menggigit gemas lengannya. Membuat Rasyid ingin membalasnya.


"Ngapain itu? Nanti kalo aku pengen lagi gimana?" tanya Rasyid, sedikit menahan sakit, sebab Nadin beberapa kali mengigitnya gemas.


"Jangan sekarang, masih perih. Besok-besok lagi, ya," jawab Nadin manja.


"Kenapa kamu nggak merem-merem sih? Kamu masih mau cerita sesuatu?" tanya Nadin, ketika menangkap mata Rasyid sedang tersenyum kala menatapnya.


"Aku ingin cerita tentang sesuatu, tapi aku takut kamu marah," jawab Rasyid, jujur.


"Aku memang pemarah, kamu udah tau itu kan, bahkan sebelum kita nikah." Nadin terkekeh.


Rasyid kembali tersenyum mendengar jawaban konyol sang istri. Karena pada dasarnya ia sangat tahu jika istrinya itu memang barbar. Bahkan berani melabraknya di depan umum ketika bekerja.


"Aku pernah patah hati! Aku pernah putus asa. Aku pernah tidak ingin lagi mengenal cinta. Tapi saat melihatmu, pikiranku berubah. Apa lagi setelah dengerin background keluarga kamu. Aku jadi berpikir bahwa, ada yang lebih menderita dibanding aku," ucap Rasyid, kali ini dalam mode serius.


"Setiap manusia punya ceritanya sendiri, Syid. Ya begitulah kehidupan," balas Nadin.


"Kok Syid lagi, tadi udah mas!" protes Rasyid, dengan mode serius.

__ADS_1


Nadin membalas protes Rasyid dengan senyum lalu mengecup bibir suaminya itu, gemas.


"Kalo mode temenan gini, rasanya canggung buat panggil kamu mas," jawab Nadin, terkekeh.


"Ya udah, panggil aku sayang aja. Biar kamu nggak canggung," pinta Rasyid.


"Maunya!"


Rasyid tak membalas candaan itu, namun ia malah berucap sesuatu yang membuat Nadin tercengang.


"Aku ingin serakah perihal kamu. Aku nggak mau kamu seperti dia, yang ninggalin aku dan bayi kami," jawab Rasyid, langsung to the poin dengan masalah yang ia sembunyikan dari khalayak selama ini.


"Apa? Bayi?" tanya Nadin. "Jadi?" tambahnya..


"Ya, masa lalu yang aku sembunyikan darimu, dari kalian dan dari duniaku adalah bayiku. Putra Kami. Putraku dengan wanita tega itu," jawab Rasyid, terbata. Sebab ia harus menahan sesak didadanya yang mendesak air mata agar bisa menunjukkan pesonanya.


Nadin masih diam membisu. Dia masih shock. Pertanyaan demi pertanyaan mengepung relung hatinya. Tetapi melihat Rasyid bersedih seperti itu, sungguh Nadin tidak bisa marah. Justru ia malah mencoba menjadi pendengar yang baik untuk pria yang saat ini sedang menikmati luka batinnya ini.


"Dia ninggalin aku tepat di hari pernikahan kami. Bukan hanya itu, dia juga ninggalin bayi kami di panti asuhan. Kebayang nggak? bayi yang nggak tau apa-apa, harus menanggung kesalahan orang tuanya. Dia seorang ibu, Nad. Tapi mata batinnya buta. Dia sama sekali nggak berpikir bagaimana nanti orang akan memperlakukan anaknya. Dia nggak berpikir bagaimana bayi sekecil itu harus ngadepin dunia, sendiri. Dia sangat kejam, Nad. Aku sangat membencinya," ucap Rasyid lagi.

__ADS_1


Nadin masih diam. Masih menjadi pendengar yang baik.


"Saat itu aku memang belum mempunyai pekerjaan yang bisa dikatakan membanggakan. Tetapi aku sudah berjanji akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka. Sayangnya janji dan usahaku tak mampu mencegahnya pergi dia memilih jalannya sendiri dibanding aku dan bayi kami. Aku sakit, Nad. Sungguh!" ucap Rasyid, kali ini tangisnya tak sanggup ia tahan lagi. Air mata kesedihan bercampur kecewa itu, langsung menyeruak menunjukkan pesonanya.


"Oke, aku tahu.. yang sabar ya. Aku turut bersedih untukmu dan bayimu. Sudah jangan nangis. Aku tahu ini sangat menyedihkan untuk kalian," ucap Nadin, lembut. Sehingga terasa adem di hati Rasyid.


Rasyid diam sesaat. Menatap Nadin yang sama sekali tidak menunjukkan rasa kecewa kepadanya. Justru wanita itu malah menunjukkan rasa empati yang tidak ia duga. Signal kemarahan dan kekecewaan yang Rasyid takutkan, sama sekali tidak terlihat. Bukankah ini sangat membingungkan.


Rasyid menghapus kasar air matanya.


"Kamu nggak marah, Nad. Aku sudah tak perjaka loh waktu nikah sama kamu. Aku punya anak diluar nikah. Aku punya masa lalu yang menyedihkan. Masa lalu yang memalukan. Bagiku ini sangat aneh, Nad. Kamu lagi nggak lagi akting kan?" tanya Rasyid curiga.


Nadin malah tersenyum mendengar kecurigaan suami anehnya.


"Marah itu bikin capek tau. Lagian ngapain aku mesti marah. Aku shock, iya... aku nggak memungkiri itu. Di dalam sini ada rasa kecewa, iya. Aku wanita biasa, Syid, bohong kalo aku nggak cemburu. Bohong kalo aku nggak iri, ada seseorang yang pernah mengandung benihmu selain aku. Cuma ya mau gimana lagi? Aku datang setelah dia, iya kan? Dia yang memiliki hatimu terlebih dahulu. Jadi ya wajar jiwa dia bisa menikmati tubuhmu terlebih dahulu. Tapi ya udahlah, aku nggak bisa menghakimi kamu mau pun dia. Setiap manusia punya masa lalu. Punya sisi buruk. Kita sudah menikah, itu artinya kita harus bisa menerima baik buruknya pasangan. Itu masa lalu kamu, Syid. Aku nggak masalah sih. Asalkan ke depannya kamu nggak nyalahin aku aja. Nggak balikan sama dia aja. Bagiku, itu adalah perjalanan yang memang harus kamu lalui. Sekali lagi, masa depanmu adalah aku. Jadi ya sebaik mungkin kamu harus bisa jaga kepercayaan aku. Baik hati maupun ragaku," jawab Nadin, jujur.


Kini gantian, Rasyid yang tercengang dengan pemikiran dewasa seorang Nadin. Yang notabene ia kenal sangat manja dan barbar. Tetapi, wanita yang ia nikahi ini ternyata punya sisi kedewasaan yang sama sekali tidak disangka. Bukankah ini membingungkan.


Untuk membuktikan kesungguhan ucapannya, Nadin memeluk tubuh Rasyid. Tanpa meminta izin, wanita cantik ini memberinya ciuman terpanas yang tidak Rasyid duga. Sehingga pria itu terlena. Terlena dan langsung melupakan kesedihannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2