
Sebelum pergi, tak lupa Rasyid meminta beberapa orang untuk menjaga kamar di mana Zarin di rawat. Bukan hanya itu, ia juga meminta beberapa petugas medis untuk tetap menjaga secara intensif wanita itu.
Entahlah, mengapa ia bisa seposisif ini pada Zarin atau pada keselamatan Nadin. Ah, begitulah sekarang Rasyid. Penuh misteri. Penuh teka-teki. Tak mudah di tebak.
Kini kedua pria yang punya masalah sendiri-sendiri itu terlihat begitu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Di ruang kerja Rasyid...
"Aku mau kamu jujur, kamu kenal sama gadis itu?" tanya Rasyid, penasaran.
"Gadis yang mana?" kilah Yoga.
"Ah, udahlah... orang bodoh juga tau kalo kalian pasti ada sesuatu?"
"Nggak ada, aku nggak kenal sama tu cewek, Bos. Gadis itu memang gila. Nggak usah di dengerin," jawab Yoga kesal.
"Nggak, kali ini aku nggak mau denger kebohongan apapun. Katakan padaku, apakah dia mantanmu atau kekasihmu atau mungkin istrimu?" cecar Rasyid kesal.
"Istri? Istri dari mana? kalo aku kawin, pasti bos orang pertama yang tau lah. Lagian aku ogah Bos punya istri barbar kek dia," jawab Yoga, masih mencoba menutupi apa yang telah terjadi antara dirinya dengan nona Vio.
"Oke, aku percaya. Tapi, apakah dia mantanmu?" tanya Rasyid lagi.
__ADS_1
Yoga diam. Enggan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Karena mau tak mau, dia pasti akanmengingat masa menyakitkan itu.
"Ayolah, Ga! Jangan tambah masalahku. Setidaknya kalo aku tau, aku bisa menghadapi kalian kalo pas kalian lagi bareng. Kalo aku nggak tau apa-apa, berasa ikut meeting tapi nggak masalah apa yang sedang dibahas dan itu kamu tau kan rasanya kek mana?" punya Rasyid, kali ini serius.
"Baiklah-baiklah... aku ngaku, dia mantan pacarku waktu masih sekolah, Bos. Kamu satu SMA. Dia adik kelasku. Dia sahabatnya Klara," jawab Yoga jujur.
Rasyid tercengang. Spontan, tawa pun meledak memenuhi ruangan di mana mereka berada saat ini.
"Diam ah, Bos! Nggak lucu tau," ucap Yoga, kesal.
"Ah nggak, tapi sudah ku duga!" jawab Rasyid, lalu tawa kembali menggema di ruangan itu.
"Dah ah, jangan diingat lagi. Dia itu gadis paling bodoh di dunia ini. Gadis paling menjengkelkan di muka bumi ini, Bos. Sampai kapan pun aku nggak akan mengakui kalo aku pernah kenal sama tu cewek," ucap Yoga kesal.
"Apa dia gadis itu?" pancing Rasyid. Kali ini, Rasyid berusaha menjadi sahabat yang baik untuk asistennya ini.
Yoga menatap sang sahabat. Lalu ia menundukkan kepala. Sedetik kemudian ia mengangguk mengiyakan.
"Oke. Cantik. Pantas kamu nggak bisa move on." Rasyid berdecak mengerti.
"Gimana aku bisa move on, Bos. Dia selalu ada di sini. Ganggu terus kek hantu. Atau dia memang hantu kali," jawab Yoga ketus.
__ADS_1
Rasyid tersenyum. Antara senang dan sedih. Karena jujur, baru kali ini ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, seorang Yoga bisa terseok-seok karena perempuan.
"Sepertinya dia masih jomblo loh, Ga. Mungkin dia masih nungguin kamu!" ucap Rasyid, sedikit bercanda.
"Mana mungkin. Dia begitu membenciku dan aku pun sama. Aku pun benci bener sama dia, Bos. Andai nggak ada hukum, sudah ku cekik tu perempuan," jawab Yoga kesal.
"Iya iya iya, oke. Serah kamu aja, Ga, Ga. Aku sih berharap sekaligus berdoa, kalian memang berjodoh. Seru juga lihat kalian ribut. Benci dan cinta itu jaraknya tipis baget lo, Ga. Hati-hati, takutnya kamu memang terlalu cinta sama dia. Jadinya gini deh, benci-benci gemes," jawab Rasyid, kemudian ia pun terkekeh.
Yoga tak menimpali. Yoga masih bergelut dengan pikiran kalutnya. Kesal saja, Vio begitu berani mematahkan sayap-sayap cintanya. Lalu sekarang gadis itu datang lagi. Meski dengan versi yang berbeda. Tetap saja, namanya benci ya tetap benci.
***
Tak ubahnya seperti Yoga, Violeta juga sama. Gadis ini tak bisa tidur sejak pertemuannya dengan pria yang pernah menghancurkan harapannya itu.
Violeta berjanji tak akan mengampuni pria itu, jika sampai berani mengusik kehidupan nya lagi.
Bersambung...
Terima kasih yang masih setia... Jangan lupa like komen n Votenya yes๐๐๐๐Love sekebon jangung buat kalian semua๐๐๐๐
sambil nunggu, kalian bisa tongkrongin karya temen emak yang lain ๐๐๐
__ADS_1