Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Jadi Tabrakan Rasa


__ADS_3

Hari berganti hari, Anisa semakin kesulitan menghadapi Nadin. Wanita itu selalu banyak akal untuk melawannya. Ingin rasanya Anisa menembak mati saja Nadin, agar ia lebih leluasa mendekati Rasyid.


"Ya... sebaiknya ku lenyapkan saja wanita itu. Jika tidak, dia akan terus membalasku. Membuatku sakit kepala saja," ucap Anisa.


Tak ingin kalah cepat dengan Nadin, Anisa pun meminta anak buahnya untuk mencintai gerak-gerik wanita itu. Kali ini, Anisa serius. Ia tak akan memaafkan Nadin karena telah berani mempermainkannya.


***


Di sisi lain, Rasyid semakin merasakan tak nyaman pada perut dan ulu hati. Sebab setiap pagi ia mengalami morning sickness. Anehnya, kejadian itu terjadi setiap pagi dan di siang hari sampai sore dia bisa sehat dan baik-baik saja. Membuat pria ini bingung dengan keadaannya.


"Sebaiknya aku ganti dokter saja, obat yang doktermu kasih ke aku nggak mempan sama sekali. Tiap hari masih aja mual muntah kek gini," ucap Rasyid pada Nadin.


"Ya yang sabar to, yang penting siangnya kamu masih bisa aktivitas. Dinikmati aja, lagian bagus kan buat ngurangi berat badan kamu. Nggak perlu susah-susah diet," jawab Nadin tersenyum sembari menahan tawa. Bagaimana tidak? Ternyata seorang Rasyid bisa kalah ketika istrinya hamil begini. KO tanpa perlawanan.


"Hari ini aku mau ke penjara, Yang," ucap Rasyid tiba-tiba.


"Ke penjara, mau ngapain?" tanya Nadin, heran.


"Mau mengunjungi Yoga."


"Oh,ya udah. Mau ditemenin?" tanya Nadin.


"Nggak usah, Yang. Di sana bahaya. Aku nggak mau kamu kenapa-napa!" jawab Rasyid


Kenapa-napa konon, ke penjara cuma berkunjung ma nggak ada apa-apa nya di banding masuk ke sangkarmu!"


Nadin mengangguk. Pertanda ia mendukung niat Rasyid.


"Mau bagaimanapun Yoga sudah seperti abang bagiku. Aku tau di salah, tapi aku pun tak bisa tutup mata dengan kebaikannya selama ini," jawab Rasyid sembari menerima segelas air hangat yang diberikan oleh sang istri.

__ADS_1


"Iya, sebaiknya memang begitu. Marah boleh, tapi dendam jangan. Dendam itu ngotorin hati, aku bangga sama kamu. Kamu disakiti tapi kamu mudah memaafkan," ucap Nadin.


"Aku belajar dari kamu, Yang. Aku begitu tega nyakitin kamu, tapi kamu begitu mudah maafin aku. Tapi aku sedih, Yang. Kamu masih belum ngizinin aku buat masuk kamar kamu. Kan nggak enak,Yang, masak punya istri tidur sendiri. Sedih aku tu, Yang," ucap Rasyid, memelas.


"Sabar ya, tunggu yang di sini gede dulu, kuat dulu, aku tau gimana kamu kalo kita sekamar," jawab Nadin seraya menatap perutnya.


"Yang di sini siapa, Yang. Di sini hanya ada kita nu. Emang ada yang lain selain kita di sini?" tanya Rasyid, sembari menatap sekeliling.


"Ada," Nadin tersenyum.


"Siapa?"


"Rasyid junior!" Nadin tersenyum. Namun Rasyid malah terlihat kebingungan. Tidak paham dengan ucapan sang istri.


"Rasyid junior, mana ada. Rasyid ya cuma satu ini. Mana ada yang ju.... " Rasyid hendak meneguk air yang ada di tangannya, namun dengan cepat ia menghentikan aksi itu. Lalu menatap sang istri dengan penuh tanya.


"Kenapa tersenyum?" tanya Nadin.


Rasyid tak menjawab, namun ia malah menarik tubuh sang istri dan menundukkan ratunya itu di pangkuannya.


"Wait... hayo mau ngapain?" tanya Nadin berusaha memberontak dan menolak perlakuan nakal Rasyid.


Rasyid tak menghiraukan penolakan itu, justru ia semakin kuat memeluk sang istri.


"Ih, kamu ini kenapa?" tanya Nadin lagi, berusaha terus melepaskan diri dari cengkraman pria bakal ini.


"Katakan padaku, apakah di rahimmu sudah ada Rasyid junior, heemm?" tanya Rasyid, kali ini serius.


Nadin tak memberontak lagi. Namun ia juga tak kuasa menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba saja rasa sakit menjalar ke ulu hatinya. Tak dipungkiri bahwa saat ini rasa sakit atas perlakuan Rasyid kepadanya, kembali terlintas di benaknya.

__ADS_1


"Jangan diam, Honey, katakan sesuatu, please!" pinta Rasyid.


"Aku bakalan bilang, tapi turunin!" pinta Nadin.


"Nggak jawab dulu."


"Nggak mau, kamu arogan."


"Nggak, aku janji jadi suami manis!"


"Iya, tapi turunin!"


"Nggak pokoknya, kasih tau dulu, apa benar di sini ada Rasyid junior?" tanya Rasyid lagi. Kali ini ia memegang perut Nadin yang sedikit keras menurutnya. Dan Rasyid yakin, saat ini istrinya pasti dalam keadaan hamil.


"Yang, please... kasih tau aku. Jangan buat aku mati penasaran!" bujuk Rasyid lagi.


"Tidak, aku udah janji, bayi itu milikku." tolak Nadin serakah.


"Bayi.... jadi bener? di sini ada bayi? udah sebesar apa dia, Yang, haaa?" tanya Rasyid girang.


"Ihhhh, bayi ini milikku. Lepas nggak?" tolak Nadin lagi. Kali ini ia memeluk kuat perutnya Agar Rasyid tidak bisa mengelus perutnya.


"Sayang, maafkan aku, ya... " bujuk Rasyid. Rasyid tau dan bisa merasakan bahwa saat ini sang istri pasti sedang diserang rasa sedih. Sebab mengingat apa yang pernah dia lakukan dan dilalui oleh sang istri. Pasti rasanya berat sekali.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan suami bodohmu ini. Harusnya aku menjagamu, menjaga kalian, bukannya malah berniat ninggalin kalian. Aku minta maaf, Sayang. Mas minta maaf," ucap Rasyid sembari membenamkan wajahnya di dada sang istri. Berharap mendapat pengampunan dari wanita yang ia cintai ini.


Nadin tak menjawab tangisan permohonan maaf dari sang suami. Sebab saat ini ia sibuk menetralkan perasaannya. Rasa ingin marah, kesal dan ingin disayang pria ini bertabrakan tanpa bisa ia kendalikan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2