
Jangan ditanya bagaimana Nadin bertahan menahan amarah yang kini mendesak di dada. Berkali-kali wanita ini menghela napas dalam-dalam. Terus menekan perasannya. Agar jangan sampai marah di sembarang tempat.
Kini, dirinya dan sang suami sudah berada di dalam sebuah mobil yang bisa dikatakan sangat mewah. Lengkap dengan sopir pribadi yang ramah.
Nadin masih bersikap sama. Diam dan membiarkan Rasyid bersikap semaunya. Namun begitu, Rasyid selalu menjaganya. Menjaganya bak ratu. Membuat Nadin sedikit luluh.
Nadin begitu setia mendampingi sang suami ke mana pun pria itu membawanya. Ke rumah sakit, ke area perkantoran yang cukup elit di sana, entah itu kantor siapa, ke restoran, mengajaknya makan. Lalu sekarang, mereka sudah sampai di sebuah rumah yang bisa dikatakan sangat mewah.
Nadin kembali mencebikkan bibirnya, kesal. Ternyata apa yang ia curigai benar adanya, suaminya ini bukan orang sembarangan. Bukan seorang satpam biasa. Dia sangat kaya raya. Tetapi, kenapa Rasyid menutupi Identitas diri darinya. Entah apa maksudnya?
Sayangnya, Nadin tidak peduli dengan kemewahan yang ditunjukkan oleh Rasyid. Justru ia merasa geram. Sebab Rasyid tak kunjung menjelaskan siapa dirinya.
"Ini rumah siapa?" pancing Nadin, sembari menunjukkan rasa tidak suka.
"Rumah kita lah, Yang. Rumah siapa lagi?" jawab Rasyid santai. Matanya masih terfokus pada ponsel yang ada di tangannya. Membalas setiap pesan yang masuk. Membuat Nadin merasa diabaikan sekarang.
"Oh, Rumah kita ya? Oke!" jawab Nadin santai.
"Yuk masuk!" ajak Rasyid, sembari mengulurkan tangan pada dang istri.
Sayangnya Nadin menolak. Menatap Rasyid dengan tatapan kesal. Lalu ia pun melangkah terlebih dahulu, meninggalkan Rasyid yang melongo karena penolakannya.
Spontan Rasyid tersadar. Tersadar sedang melakukan kesalahan terbesar. Sebuah keteledoran hingga mengakibatkan sang permaisuri menolaknya. Bahkan Rasyid juga tersadar, mengapa Nadin lebih banyak diam, seharian ini.
__ADS_1
"Sayang, sorry... maafkan aku!" ucap Rasyid sembari berlari kecil mengejar Nadin yang emosi terhadapnya.
"Sorry untuk apa? Maaf untuk apa? Untuk penipuanmu ini? Hebat banget kamu heemmm, dapet bakat dari mana bisa menipu serapih ini?" sindir Nadin.
Jlep...
Hati Rasyid tertampar. Ini bukan perihal apa yang ia punya. Tetapi lebih pada kejujuran yang Nadin pertanyakan.
"Menipu serapi ini, apa sih, Yang? Aku nggak nipu siapa pun kok. Sungguh! Justru aku yang sedang tertipu sekarang," jawab Rasyid, pura-pura tak berdosa.
"Kamu jangan playing Victim ya, Pak Rasyid!"
"Aku deg-degan, Yang," ucap Rasyid.
"Kenapa?"
Sayangnya apa yang ia lakukan justru membuat Nadin semakin kesal. Rasyid gagal, nyatanya Nadin sudah melapisi jiwanya dengan labirin anti tertipu yang ia bangun berjam-jam lamanya.
"Please, ini perihal lain! Aku tau kamu mau mengelak, Rasyid. Katakan padaku, apa tujuanmu menipuku. Menipu keluargaku. Apakah Oma tau siapa sebenarnya dirimu?" cecar Nadin.
"No, baik oma maupun asistennya tidak tahu siapa aku. Aku minta maaf kalo udah nipu kamu Tapi demi Tuhan, aku nggak ada niat buat nipu kamu, Yang. Sungguh!" jawab Rasyid, sungguh-sungguh. Ia pun mencoba meraih tangan Nadin, ingin meminta pengampunan.
Namun, Nadin menolak dan kembali menatap tajam ke arah Rasyid.
__ADS_1
"Kamu pikir, setelah menipuku seperti ini, aku akan percaya lagi padamu, heh! Jangan harap!" Nadin mundur satu langkah, sedangkan Rasyid hanya bisa memelas.
"I am sorry, Honey. Please... tolong jangan marah sekarang. Aku membutuhkanmu untuk menenangkanku, Sayang. Aku membutuhkan mu untuk melawan peperangan ini, aku mohon!" bujuk Rasyid, kembali memelas.
"Aku tidak sekejam itu mencampur adukkan masalah Pak Rasyid yang terhormat. Sebagai istrimu, aku akan tetap ada di sampingmu, apapun yang terjadi. Tapi... tapi ingat, jangan berpikir untuk meminta jatahmu sebagai suami sampai aku benar-benar memaafkanmu. Penipuanmu ini membuatku sangat marah. AS kamu tau itu!" jawab Nadin tegas.
"Astaga, Yang. Tega amat. Nanti kalo aku pengen gimana?" Rasyid kembali memasang wajah memelas.
"Kamu pikir aku peduli. Ini konsekuensi yang harus kamu pertanggungjawabkan, Bapak. Aku mencintaimu tanpa melihat status sosialmu. Aku mencintaimu tulus dari sini (Nadin menunjuk hatinya), tapi apa yang aku dapat. Kamu begitu tega mempermainkan aku. Bukankah kamu sendiri yang bilang, pernikahan kita harus di dasari kejujuran. Tapi apa? Kamu malah menipuku. Apa kamu pikir dengan kekayaan yang kamu punya saat ini, terus aku happy. Ohhh... tidak semudah itu, Bapak. Aku bukan wanita yang mendewakan harta. Aku pernah berada di titik ini. Dan kamu sudah tau kan, apa yang aku pikirkan soal itu. Jadi aku harap, sebaiknya kamu renungkan penipuanmu ini. Kamu salah orang kalo niatmu cuma mau menguji aku," jawab Nadin kesal.
"Tidak, Yang. Jangan begitu! Aku nggak ada niat buat nguji kamu. Demi Tuhan, aku udah memahami sifatmu sejak kamu nolak aku dan memilih kerja jadi cleaning servis. Aku tahu kamu nggak matre. Aku punya alasan lain nglakuin itu. Aku minta maaf!" jawab Rasyid mencoba menjelaskan kesalahpahaman yang ada di hati sang istri.
"Ahhh, serah lah.. apapun alasanmu. Pokoknya ingat, jangan mepet-mepet. Jangan ngrayu-ngrayu minta jatah. Jangan sok memelas. Jangan sok sakit kepala. Pokoknya jangan banyak alasan, aku sudah hapal tingkahmu kalo lagi pengen. Awas maksa," ucap Nadin, enggan meneruskan perdebatan mereka.
"Nanti kalo karatan gimana, Yang?" rengek Rasyid.
"Apanya yang karatan?"
"Itunya!" Rasyid tersenyum sembari memberi kode nakal.
"Astaghfirullah... bisa ya mikir sampek sana! Dasar gila! Dah ah... mana Xian?"
"Tunggu dulu, jadi aku udah dimaafin ni?" tanya Rasyid.
__ADS_1
Nadin tak menjawab pertanyaan konyol itu. Ia memilih melangkah meninggalkan suami koyolnya itu.
Bersambung...