Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Hampir Saja


__ADS_3

Nadin tahu jika suaminya saat ini pasti sedang marah besar padanya. Namun Nadin tidak peduli, sesuai pesan Yoga, apapun yang terjadi ia harus tetap profesional.


Kelemahan Rasyid yang sesungguhnya adalah ketika seseorang itu bisa menghadapi pria itu dengan caranya. Ikuti jejaknya. Bidik pas sesuai yang ia minta. Maka, Rasyid akan tamat. Rasyid tak akan berkutik, ketika seseorang itu bisa tenang ketika menghadapinya. Jangan terlihat goyah. Karena sejatinya, Rasyid hanya menang gertakan. Bukan takut, tapi andai kalian tahu, hati pria itu selembut kapas. Pria itu selalu melo jika berbicara perihal hati. Itu sebabnya ia sangat mudah dipermainkan oleh cinta.


Mungkin saat ini ia sedang belajar. Belajar dari kesalahannya terlalu mengalah dengan hati. Itu sebabnya ia mencobanya dengan Nadin. Sayangnya Nadin tidak terima. Maka terjadilah peperangan ini.


***


Di lift...


Tak ada percakapan apapun antara Rasyid dan Nadin. Mereka sama-sama menjaga profesionalisme masing-masing. Meskipun tidak dipungkiri, saat ini, detik ini, jantung mereka sama-sama berdebar. Rasanya ingin meledak. Virus rindu sedang menggerogoti sanubari. Bagaimana bisa mereka lari dari situ? Bukankah ini menyesakkan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua pun sampai di ruangan Rasyid.


"Tolong tinggalkan aku dengan sekertaris baruku!" pinta Rasyid pada beberapa ajudan yang mengikuti mereka.


Tak ada protes, beberapa ajudan itu pun meninggalkan Rasyid dan Nadin di ruangan itu.

__ADS_1


Rasyid membuka kaca mata. Lalu menatap tajam ke arah Nadin.


"Apa lagi rencanamu kali ini?" serang Rasyid, to the poin.


"Rencana? Maaf Tuan, saya tidak tahu maksud anda," jawab Nadin tegas.


"Jangan bohong kamu! Aku tahu, dengan menjadi sekertaris ku, kamu pasti membawa maksud lain!" tuduh Rasyid penuh emasi.


Nadin tersenyum meremehkan. Lalu ia pun menjawab, "Maaf Tuan, sekarang saya sangat tidak tertarik dengan masalah pribadi di antara kita. Bukankah saya udah mengabulkan apa yang anda minta. Jadi masalahnya di mana? Saya hanya ingin bekerja. Lalu saya coba-coba memasukkan lamaran dan ketrima. Mana saya tau kalo ini adalah perusahaan anda. Anda kan nggak pernah kasih tau saya, kalo ternyata calon mantan suami saya ini pria kaya raya. Kan setau saya anda cuma satpam," jawab Nadin, santai tanpa merasa rikuh sedikitpun.


"Kamu... ahhhh... kamu pasti bohong! Aku nggak percaya. Kamu pasti bohong. Kamu sengaja kan, nglamar di sini. Supaya kamu bisa meneror ku?" tuduh Rasyid kesal.


Rasyid hanya menatap dan memerhatikan sikap manja Nadin. Sikap yang sangat ia rindukan. Namun, ketika wanita itu diam dan tersenyum manja padanya, Rasyid sadar. Lalu ia kembali membawa jiwanya ke mode angkuh.


"Kamu... isshhhhh... siapa yang suruh ngomongnya manja-manja gitu. Kamu di sini kerja ya, kamu bawahan di sini, jadi bersikaplah seperti bawahan pada umumnya. Nggak usah centil-centil begitu!" ucap Rasyid kesal.


"Kok gitu, Tuan. Bukankah dari pertama kali nikah, anda memang suka kalo saya di bawah. Eh... maaf Tuan, keceplosan. Hehehe.. " jawab Nadin, asal.

__ADS_1


Spontan, mata Rasyid pun melotot. Sebab Nadin mengingatkan gaya bercinta mereka yang sangat Rasyid suka. Yaitu, Nadin berada di bawah tubuhnya. Nadin pasrah dan Rasyid akan sangat menyukai ekpresi wajah pemilik hatinya itu.


"Kamu!!!" Rasyid menunjuk Nadin dengan perasaan yang teramat sangat kesal. Andai ia tak ingat Nadin adalah seseorang yang pernah berarti dalam hidupnya, mungkin Rasyid susah merematnya.


"Sabar atuh, Tuan. Pan kita udah nggak ada hubungan apa-apa. Jadi slow aja. Saya janji akan berusaha sebaik mungkin bekerja pada anda. Melayani anda sebagai apa tadi... bawahan... ha, iya, sebagai bawahan. Tapi jangan ngeres lo, Tuan. Kan arti bawahan di sini lain dari yang itu, hihihi!" jawab Nadin dengan tawa renyahnya. Membuat Rasyid panas, kesal, emosi, uhhh... ingin rasanya ia melempar mahluk penggoda ini dari hadapannya. Tapi sayang. Dia kan cantik. Mana tega. Kan?


"Astaga! Nadiiiinnnnn... kamu kalo nggak diem. Bakalan aku lempar kamu dari sini, paham nggak?" ucap Rasyid emosi.


"Eh, baik, Tuan. Maap Tuan, ampun. Tapi ngomong-ngomong, nama saya di sini Danis, Tuan. Bukan Nadin. Nadin itu panggilan buat orang-orang yang deket sama saya. Kalo Tuan kan udah nggak deket, di sini posisi kita atasan dan bawahan, Tuan. Jadi harus ada jarak gitu... " jawab Nadin.


"Diam, Din, Diam... sumpah, kalo kamu nggak diam sekarang juga... aku bakal nglakuin sesuatu yang nggak akan kamu bayangin, serius ini!" ancam Rasyid kesal.


"Ampun, Tuan... ampun... Eh, sekarang udah jam tujuh, Tuan. Saatnya anda ke ruang rapat. Mari!" ucap Nadin, seraya bersikap hormat pada suami sekaligus bosnya itu.


Rasyid kembali menatap tajam ke arah wanita yang sanggup membuat moodnya sangat buruk ini. Rasyid merapikan jasnya, lalu ia pun melangkah terlebih dahulu. Agar wanita menyebalkan ini tidak terus mempermainkan emosinya.


Di lain pihak, Nadin mengembuskan napas kuat-kuat. Bagaimana tidak? Dia baru saja selamat dari maut. Seandainya waktu rapat ini tidak datang tepat waktu. Mungkin, bisa saja peia itu akan melakukan hal di luar dugaan. Mungkin menciumnya paksa. Atau memperlakukannya sebagai bawahan dalam hal begitu. Entahlah, sepertinya Nadin harus lebih berhati-hati dalam menghadapi Rasyid.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2