
Assalamu'alaikum... hay hay beb say terzeyenk😍😍😍Masih setia kan menanti kelanjutan kisah babang satpam tampan heemmm☺
Emak sorry banget ya, hari ini agak repot. Ada tamu plus lagi kena flu, jadi agak telat update😍😍
***
Karena tidur terlalu larut, Rasyid pun kini masih terlelap. Sedangkan Nadin, kini senyum-senyum sendiri, sembari memerhatikan pria tampan yang telah dah menjadi suaminya ini.
Kamu tampan, Syid. Sayangnya aku tidak menyukaimu, puji Nadin dalam hati.
Keasikkan memerhatikan sang suami, Nadin jadi lupa, bahwa saat ini dia adalah seorang istri, yang seharusnya menyiapkan sarapan untuk pria yang kini masih terlelab itu.
"Ah, bodo ah, siapa suruh dia menikah denganku. Dia kan tau aku nggak bisa ngapa-ngapain. Biarin aja dia lapar," gumam Nadin seraya beranjak dari pembaringan, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan di ranjang, masih ada Rasyid yang sibuk dengan kebahagiaannya. Ternyata, Rasyid tau, bahwa Nadin memerhatikannya tadi.
"Aku pasti bisa meluluhkan hatimu, Nad. Aku janji, aku pasti bisa," gumam Rasyid.
Ternyata indah sekali memiliki istri. Apa lagi istri semanis Nadin. Kadang galak. Kadang manis. Namun tak jarang juga kadang menggemaskan.
Lima belas menit berlalu, terdengar pintu kamar mandi dibuka. Sepertinya Nadin telah selesai mandi.
Rasyid masih berpura-pura terlelap. Sehingga Nadin merasa aman untuk melakukan apapun.
Rumah mungil yang di desain tanpa ruang ganti ini, memaksa Nadin untuk mengganti pakaian di ruangan itu juga.
Sebelum ia membuka handuk penutup tubuh itu, Nadin terlebih dahulu memeriksa dan memastikan keadaan Rasyid Apakah pria itu masih tenggelam dalam mimpi? Ataukah ada hawa-hawa sudah hendak terjaga.
"Dia masih terlelap," gumam Nadin.
Merasa aman, wanita cantik ini pun langsung membuka handuknya. Memakai bra dan c*lana d*lam. Setelahnya barulah ia memakai pakaian luarnya.
Sayangnya, Nadin yang lugu sama sekali tidak menyadari bahwa predator berwujud manusia itu, sedang tersenyum senang sambil terus mencuri pandang, memerhatikan apa yang ia lakukan.
Pria licik itu berkali-kali bersyukur dalam hati. Meski Nadin tidak mau memberikan pemandangan indah itu secara langsung, tetapi keberanian Nadin sudah menunjukkan bahwa ia menerima pernikahan ini. Entah benar atau tidak, itulah penilaian Rasyid untuk saat ini.
Nadin masih asik dengan dirinya. Memanjakan wajah dan tubuhnta dengan beberapa produk kecantikan.
__ADS_1
Aroma dari produk kecantikan itu, jujur... kini membangkitkan jiwa kelelakian Rasyid.
Ingin rasanya ia bangun, lalu menerkam wanita cantik itu. Namun, lagi-lagi ia tak tega. Ia takut, Nadin akan tersinggung dan tidak mempercayainya..
Di detik berikutnya, Rasyid pun teringat masalah yang ia hadapi saat ini. Perihal Horizon. Perihal niat pria itu. Tak terkecuali tentang ide gila Yoga kemarin.
Tidak, aku adalah pria terhormat, sampai kapanpun aku nggak akan pernah bertindak se anarkis itu, apa lagi pada Nadin, apa lagi pada seseorang yang sedang dalam fase terluka seperti Nadin. Nggak, jangan Syid. Jangan lakukan itu, batin Rasyid.
Ya, semalam Rasyid sudah tidur karena memikirkan ide gila itu. Dan kini, Rasyid sudah memutuskan. Bahwa dia tidak akan pernah melakukan tindakan bodoh itu. Atau dia akan kehilangan kepercayaan Nadin untuk selama-lamanya.
Rasyid yakin, jika Nadin memang ditakdirkan menjadi miliknya, maka tidak akan pernah terjadi apapun pada hubungan mereka.
Rasyid ingin, hubungan sakral itu terjadi antara suka sama suka. Antara mau sama mau dan yang terpenting ada ikhlas sama ikhlas. Bukankah itu akan lebih indah rasanya.
***
Nadin keluar kamar, berarti dia sudah selesai dengan aktivitasnya merawat diri. Kini giliran Rasyid beranjak dari pembaringan. Sebelum itu, ia pun merapikan ranjang miliknya. Rasyid tahu, jika Nadin pasti belum terbiasa melakukan ini. Terlebih, ia sengaja mengajak memperkuat Nadin dalam kesederhanaan hidup. Sebelum nanti ia akan membuka kebenaran tentang dirinya.
Selesai membersihkan diri, Rasyid pun keluar kamar dengan pakaian santai.
Di dapur, terlihat Nadin sedang kebingungan. Sepertinya wanita cantik itu lapar. Tapi tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Spontan, Nadin pun terkejut. "Ahhh... kebiasaan deh! Selalu aja ngangetin!"
"Ngagetin apa toh? Kan aku cuma nanya, mau ngapain?" jawab Rasyid dengan senyum tampannya.
"Aku lapar, pengen makan, tapi nggak ngerti mesti ngapain!" jawab Nadin jujur.
Rasyid tersenyum. Namun ia tetap memahami itu.
"Kalo laper ya masak lah, itu ada telur, ada daging, ada ikan. Biar bujang, kulkas ku selalu full makanan," jawab Rasyid, sedikit bercanda.
"Aku tau, tapi aku nggak bisa," jawab Nadin, lugu.
"Astaga, Tuan Putri! Baiklah, duduklah... kali ini aku yang masak. Kamu pengen dimasakin apa?" tanya Rasyid, bersahabat.
"Emmm, serius. Kamu bisa masak emang?" Nadin menatap Rasyid dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Ya, kalo cuma ceplok telor sama goreng sosis, bisa lah," jawab Rasyid.
"Emmm, maukah kamu mengajariku?"
Rasyid menoleh, menatap istri cantiknya, speechless saja. Seorang tuan putri seperti Nadin, mau belajar memasak. Tanpa rasa jijik pula.
"Mau tidak?" tanya Nadin lagi.
"Emmm, mau.. oke! Mau diajarin masak apa?"
"Omlet, boleh?"
"Boleh," jawab Rasyid, kali ini malah dia yang gugup. Rasyid membalikkan tubuh, membuka kulkas sambil menyembunyikan senyum kebahagian. Ternyata punya wife itu sangat indah. Rasyid bahagia.
Dengan tenang, Nadin menunggu Rasyid menyiapkan bahan-bahan untuk mereka memasak. Ia juga diam-diam menunggu perintah Rasyid, apa yang mesti ia kerjakan.
"Apakah susah membuat omlet, kenapa bahannya sebanyak ini?" tanya Nadin ketika Rasyid mulai memotong bahan-bahan yang telah ia siapkan.
"Tidak, mudah kok. Kamu perhatikan saja," jawab Rasyid sembari melirik sang istri yang terlihat begitu antusias belajar memasak bersamanya.
"Apa aku boleh belajar memotong?" tanya Nadin.
"Tentu saja, cobalah!" Rasyid memberikan pisau dan sosis yang ia pegang.
Dengan senang hati, Nadin pun menerima pisau dan sosis itu. Lalu mulai memotong.
Sayangnya, Nadin kurang hati-hati, sehingga ia memotong jarinya sendiri.
"Ahhh.... " pekik Nadin terkejut.
"Apa? kenapa? Astaga, Yang. Kenapa nggak hati-hati. Sini... sini!" Rasyid langsung meminta pisau itu lalu menarik tangan sang istri dan memasukkan jari yang berdarah itu ke dalam mulutnya. Tentu saja untuk menghentikan pendarahan di jemari itu.
Nadin tak kuasa menolak. Bahkan ia malah terkesima dengan aksi heroik sang suami, yang terlihat begitu khawatir terhadapnya. Nadin, tak percaya... mungkin kah kepedulian Rasyid terhadapnya ini nyata? Ataukah hanya....
Suara hati Nadin berkecambuk dalam asa. Antara ingin ikhlas dengan pernikahan ini atau tetap bersikeras menuruti prinsipnya selama ini. Sungguh, Nadin bingung.
Ah entahlah!
__ADS_1
Bersambung....