
Rasyid dan Nadin telah diserang gairah. Terdesak hasrat untuk saling memiliki. Terhimpit Rasa yang menggerogoti sanubari mereka.
Nadin dan Rasyid terlena, mereka tengah dimabok asmara.
Rasa cinta yang dimiliki Rasyid untuk istrinya, menuntun pria itu untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman dan pangutan.
Nadin pasrah. Tak sekalipun ia menolak perlakuan manis suami gagahnya. Meskipun ia tahu, bahwa kepasraannya sekarang akan mengubah statusnya dari gadis menjadi wanita dewasa, menjadi tidak suci lagi, menjadi istri lahir batin seorang Rasyid. Pria yang ia kenal hanya sebagai seorang satpam.
"Katakan stop jika kamu belum siap, Sayang. Aku pastikan akan berhenti jika kamu belum ingin," bisik Rasyid sembari terus meraba tubuh sang istri. Menjamah bagian tubuh sang istri yang ia inginkan.
Nadin menatap Rasyid. Menatap pria itu dengan penuh gairah. Jujur, saat ini Nadin pun berada di dalam dilema. Ingin lanjut tapi dia takut. Ingin berhenti tapi dia ingin. Dia ingin dimiliki oleh pria yang berhasil meluluhkan hatinya itu. Bukan hanya ingin dimiliki, namun juga ingin memiliki. Ya, Nadin ingin memiliki Rasyid. Sangat ingin.
Nadin tak menjawab bisikan Rasyid itu dengan kata-kata. Justru ia malah menangkup kedua pipi sang suami. Menatap mata indah itu. Lalu menyatukan bibir mereka. Kini Nadin berani. Berani mencium Rasyid terlebih dahulu. Nadin ingin menunjukkan kesungguhan hatinya. Nadim ingin membuktikan pada Rasyid bahwa apa yang ia ketik di chat mereka adalah sebuah kesungguhan. Kesungguhan Nadin untuk menjalin rumah tangga mereka. Atas dasar cinta, atas dasar rasa saling memiliki.
Nadin mulai bisa mengimbangi pengutan penuh cinta bibir sang suami. Mereka sama-sama terlena dalam surga dunia.
Kini, mereka sama-sama tak memakai sehelai benang pun. Sebelum melakukan penyatuan, Rasyid kembali bertanya pada sang istri. "Apa kamu yakin dengan ini, Istriku?" tanya Rasyid.
Nadin menatap Rasyid, lalu menjawabnya dengan anggukan.
"Ini akan sedikit menyakitimu. Apa kamu siap?" tanya Rasyid lagi.
"Aku ikhlas, Mas," jawab Nadin lirih. Terdengar sangat pelan. Namun, itu serasa amunisi bagi Rasyid. Sebuah dorongan untuk menuntaskan hasrat yang ada.
Rasyid senang. Rasyid bahagia.
__ADS_1
Jika sudah begini, tak ada alasan lagi bagi pria tampan itu untuk mundur.
Pelan namun pasti, Rasyid pun langsung menyelesaikan tugasnya dengan baik. Menyatukan raga mereka. Dengan cinta, dengan kasih sayang, dengan penuh perasaan tentunya.
Suara gemercik air hujan bersama tamaramnya malam menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Beberapa kali terdengar rintihan kesakitan Nadin. Namun sayang Rasyid terlanjur egois. Ia sama sekali tak mau menenangkan Nadin dalam peperangan ini. Tujuannya hanya satu, yaitu menang. Menang membawa Nadin kepuncak kenikmatan.
Rasyid tersenyum bahagia ketika ia telah meletakkan benih ketampanannya di tempat yang seharusnya. Begitu pun Nadin. Wanita itu juga tersenyum dalam rasa yang sulit ia gambarkan. Mereka sama-sama tersenyum, karena mulai detik ini, mereka telah dah mengikat jiwa dan raga mereka menjadi satu untuk menuju pernikahan yang sempurna.
"Terima kasih, Honey. Titip benih ku ya, semoga mereka cepat tumbuh di sini," ucap Rasyid sembari mengelus lembut perut sang istri.
Nadin mengangguk malu. Namun tak dipinggir bahwa ia juga sangat bahagia.
"Terima kasih udah ngasih aku kepercayaan dan pengalaman yang luar biasa, Sayang. Aku berjanji akan terus menjagamu, sampai akhir hayatku," ucap Rasyid sembari menyelimuti tubuh telanjang sang istri.
"Aku tak akan menghianatinu, Honey. Tapi aku punya masa lalu, aku takut kamu nggak bisa menerimanya," jawab Rasyid, jujur.
"Masa lalu? Apakah masa lalumu menyedihkan? Atau?" tanya Nadin serius.
"Menyedihkan iya, memalukan juga iya, apa kamu ingin tahu?" tanya Rasyid.
"Tentu saja, jika kamu nggak keberatan," jawab Nadin.
"Tentu saja aku nggak keberatan. Bagaimana kalo kita menemuinya besok. Kamu mau nggak ketemu seseorang yang itu?"
"Siapa? Mbak mantan?" tanya Nadin, sedikit kesal.
__ADS_1
"Ih, kok jadi cemburu begitu. Nggak, seseorang itu bukan mbak mantan. Tapi bagian darinya. Seseorang yang belum bisa aku bawa ke publik. Karena banyak sekali pertimbangan yang aku pikirkan. Bahkan nenek pun tak tahu soal dia," jawab Rasyid, mulai sedikit demi sedikit terbuka soal Xian.
"Nenekmu nggak tau, lalu? tunggu... aku mikir dulu. Dia adalah seseorang yang merupakan bagian dari masa lalumu, tapi bukan mantan. Bolehkah aku menduganya?" tanya Nadin, mengira-ngira.
"Boleh, silakan!" jawab Rasyid.
"Emm, apakah dia sangat berarti untukmu?" tanya Nadin.
"Tentu saja. Dia adalah separuh napasku. Sepertimu," jawab Rasyid jujur.
Nadin menatap pria itu. Mencari jawaban atas apa yang ia pikirkan. Mencoba menduganya, tapi takut salah.
"Sebenarnya aku tidak suka menduga-duga, tapi kali ini aku harus menebaknya. Apakah... seseorang itu adalah istri tuamu?" tanya Nadin, sedikit bercanda, tapi sebenarnya ia tak suka Melontarkan jawaban itu. Sebab jika benar, maka dirinya akan masuk ke dalam tim Pelakor. Bukankah ini mengerikan.
"Ih, ya bukan. Masak istri tua. Istriku cuma satu honey, yaitu kamu. Demi Allah, aku nggak ada istri lagi selain kamu," jawab Rasyid, dengan senyum menahan tawanya.
"Huuufff, syukurlah... aku tak masuk tim Pelakor. Lalu, siapa yang kamu sembunyikan dariku, dari nenekmu dan dari publik?" tanya Nadin penasaran.
"Apakah kamu akan marah jika tau kalo kamu bukan yang pertama bagiku?" tanya Rasyid, serius.
Nadin menatap Rasyid, lalu ia pun menjawab, "Kamu saja tidak peduli masa laluku, masak aku se egois itu nggak mau terima masa lalu kamu. Bagiku, yang terpenting adalah kamu bisa melepaskan masa lalumu dan menggandeng tanganku menuju masa depan. Karena masa depanmu adalah aku. Kamu sudah berani menggandeng tanganku, maka aku tak akan memaafkanmu jika kamu berani melepaskannya. Apa lagi memilih kembali pada masa lalumu, itu sangat tidak bisa aku maafkan. Aku bersumpah kalo soal itu," jawab Nadin tegas.
Rasyid tersenyum mendengar jawaban posesif sang istri. Dari perbincangan mereka kali ini, Rasyid yakin, jika Nadin pasti bisa menerima Xian. Seperti Xian bisa menerima dirinya.
Bersambung...
__ADS_1