
Selepas selamat dari maut, Nadin duduk termenung di teras rumahnya. Lalu kembali membuka galeri ponselnya.
Mencoba mengingat kembali wajah wanita yang digandrungi oleh suaminya itu. Seperti pernah melihat, tapi di mana?
"Huff, kenapa aku jadi inget-inget wajah putri duyung itu. Tapi... aku pernah lihat loh, tapi di mana ya? Suaranya juga mirip," gumam Nadin, masih mencoba berpikir keras tetang wanita yang mengancamnya tempo hari.
Masih dalam usahanya mengingat, Violeta datang.
"Non, napa di mari? Nglamun aja, lagi hamil. Ntar kenapa-napa aja!" ucal Violeta mengingatkan.
"Enggak, aku cuma nginget inget wajah cewek yang nglabrak kita tempo hari. Keknya pernah lihat akunya," ucap Nadin, masih berusaha keras mengingat.
"Benarkah? Coba Non ingat-ingat lagi. Kalo pun pernah bagus dong. Kita bisa bicara baik-baik ama dia. Setidaknya Non masih bisa bernegosiasi dengan baik gitu," ucap Violeta seraya menaruh tas tangannya di sofa kosong.
"Sebentar, tapi aku nggak yakin sih. Habis penampilannya beda banget," ucap Nadin sembari mencari foto-foto di galeri nya.
"Ya kan ada Yoga, kita bisa tanya dia nanti," jawab Violeta, memberi ide yang cukup cemerlang untuk Nadin.
"Bener juga itu. Sebentar, aku coba cari sambil inget-inget ya. Soalnya udah lama banget aku nggak lihat ni cewek. Terakhir sih pas... nggak taulah. Mirip siapa ya ni cewek. Eh, Yoga ada sebut nama tu cewek nggak?" tanya Nadin, siapa tau dengan mengetahui nama dia bisa ingat siapa sebenarnya wanita itu.
"Ada kan, dia sendiri juga nyebut nama dia Anisa... Anisa siapa ya? Anisa Villarreal... " jawab Violeta.
__ADS_1
"Astaga, iya... sangking fokus ama buah dada ama pantai balonnya aku jadi nggak ingat yang lain. Oke, sebentar, aku coba ingat-ingat dulu. Em, Yoga ada kasih tau nggak? Rumah dia di aman, sekolah di mana? pokoknya info tentang dia gitu?" cecar Nadin.
"Rumahnya ya, sebentar... aku ingat-ingat dulu. Kalo nggak salah rumah orang tuanya di Kembangan situ. Tapi dia juga pernah tinggal di Singapura juga katanya. Ahhh, nggak ngerti aku," jawab Violeta.
"Kembangan? Pernah tinggal di Singapore. Sebentar, aku ingat... tapi aku sih berdoa, Anisa yang itu bukan Anisa yang aku kenal. Yang ini sikapnya barbar banget. Ngeri aku!" ucap Nadin sembari terus mencari foto seseorang yang ia curigai.
Hingga akhirnya, jarinya berhenti di satu titik. Di sebuah foto yang pernah Rasyid tanyakan padanya.
"Wait.... " pekik Nadin ketika mengingat Rasyid pernah bertanya padanya perihal foto wanita ini.
"Pa'an?" tanya Violeta bingung.
"Coba kakak lihat ini!" pinta Nadin, sembari menyodorkan foto itu pada Violeta.
"Mirip kan? Cuma yang ratu siluman itu badannya lebih isi. Dada ama pantatnya lebih seksoy. Rambutnya pula beda. Hidungnya yang tadi lebih mancung. Bibirnya lebih tipis. Tapi tatapan matanya sama. Itu yang bikin Nadin curiga, Kak. Udah gitu namanya sama Anisa, cuma yang ini aku nggak tau nama panjangnya," ucap Nadin, jujur.
"Bener juga ya. Mungkin dia banyak duit, jadi dipermak sana sini. Tapi, anehnya, kok dia nggak ngenalin kamu?" tanya Violeta heran.
"Gimana mau ngenalin, Kak. Orang kita cuma ketemu cuma dua apa tiga kali. Itu pun nggak ngobrol, cuma say hello aja. Kan yang deket nyokap Nadin sama nyokap dia. Kami tim ngintil, jadi kek nggak penting gitu lah," jawab Nadin.
"Emmm, kalo kek gitu ceritanya ya wajar kalo kamu ama dia nggak saling kenal. Ku kira, kamu simpen-simpen foto ini karena deket ama dia," ucap Violeta.
__ADS_1
"Nggak sih, aku simpennya juga karena backgroundnya bagus aja. Eh, tunggu... satu lagi yang bikin aku curiga, Kak?" ucap Nadin, seriuss.
"Apaan?"
"Rasyid pernah nanya ini siapa tau? Mungkinkah?" Nadin menatap Violeta penuh tanya. Namun ia tak mampu bertanya.
"Hah? Benarkah. Kalo ceritanya macam itu, bisa jadi Rasyid udah tau kalo kamu kenal mantannya, Non!"
"Astaga! Licik sekali dia nggak mau kasih tau aku saat itu juga. Kalo begini kan, aku jadi riweh sendiri. Awas aja besok! Aku nggak bakalan mau ngomong sama dia. Dasar jerapah jelek menjengkelkan!" teriak Nadin kesal.
Violeta enggan menghiraukan kekesalan Nadin. Justru ia malah bersemangat mencari cara, bagaimana Anisa berhenti menganggu keponakannya ini.
***
Di sebuah pesta yang digelar oleh salah satu temannya, Rasyid datang dengan seorang wanita yang telah dipilihkan Nadin untuknya.
Rasyid sengaja tak mengajak Nadin karena ia sangat tau, betapa bahayanya pesta ini untuk istri tercintanya itu.
Meskipun sebelum berangkat, mereka sempat bersitegang, akhirnya dengan berat hati, Nadin pun mengizinkan dengan catatan, Rasyid tidak boleh pulang dalam keadaan mabok. Apa lagi sampai bermalam dengan seorang wanita.
Nadin bersumpah tidak akan memberinya maaf dan Rasyid sangat takut dengan itu.
__ADS_1
Kesalahan bodohnya saja belum termaafkan, bagaimana berani dia kembali mengambil resiko. Bisa-bisa Nadin akan semakin berlari menjauh darinya.
Bersambung....