
"mau kuantar?" tanya Gama saat Ayyara berpamitan hendak pergi menemui Nia di gedung lama.
"tidak usah sayang. Aku sendiri saja. Kau pasti sibuk." Jawab Ayyara dengan bola mata mengarah ke tumpukan berkas yang setia menunggu untuk ditanda tangani diatas meja kerja Gama.
"he he. Yasudah. Hati-hati." kata Gama mendaratkan ritualnya.
"tidak usah khawatir. 4 orang pengawal sudah cukup untuk menjagaku." seloroh Ayyara sambil menyambar tas selempangnya dari atas sofa.
Ya. Gama sudah memberitahu Ayyara bahwa akan ada 4 orang pengawal yang akan terus menjaganya dimanapun dia berada. Bukan Toni, karna kepala keamanan itu kini diserahi tanggung jawab untuk menjaga si kembar Ana dan Jun. Dengan beberapa anak buahnya tentu saja.
Gama mebalas senyuman Ayyara sambil terus memandangi punggung yang mulai berjalan hingga menghilang di balik pintu.
Tidak seperti tadi, saat Ayyara baru saja masuk dengan Gama yang terus menggenggam tangannya, sekarang orang-orang yang berpapasan dengannya langasung berhenti dan mengangguk hormat padanya dengan memasang senyum paling ramah milik mereka. Dengan ramah pula ia harus membalas menyapa.
"Nyonya mau pakai mobil?" tanya salah seorang pengawalnya yang bernama Rudi saat Ayyara sudah berada di luar gedung.
Rudi memiliki perawakan yang paling gagah dan tegap dibanding tiga rekannya yang lain. Apalagi dengan mengenakan kaus lengan pendek berwarna hitam yang ketat, sehingga semua orang bisa melihat otot bisep yang menyembul dari kedua lengannya. Juga kaca mata hitam yang terlihat selalu menempel di wajahnya, membuat kesannya semakin sangar sekaligus gagah.
"tidak usah. Jalan kaki saja. Dekat ini." jawab Ayyara kemudian langsung mengambil langkahnya ke arah gedung GD Goup yang lama.
Cuaca sedikit terik. Membuat Ayyara berkali-kali memicingkan matanya karna silau akibat dari pantulan sinar matahari yang mengenai kaca. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya dan menunjukkan waktu 11.05.
Ayyara terus saja masuk kedalam gedung lama. Beberapa orang nampak ternganga saat melihatnya. Menatapnya seperti melihat hantu. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya menganggukan kepala sekilas, atau tersenyum simpul sebagai tanda keramahan. Sampai ia tiba di eskalator yang membawanya naik kelantai 2.
Pemandangan di depan matanya membuat Ayyara terkejut. ia sudah tidak menemukan kantor kecil miliknya yang dulu. Kantor itu berubah menjadi besar dengan menggabungkan beberapa kantor yang ada disana. merobohkan tembok untuk membuat satu ruangan yang sangat besar. Hampir memenuhi seluruh lantai 2. Hal itu dapat ia lihat dengan jelas karna dinding luar ruangan itu sebagian besar terbuat dari kaca.
bruk.!
Seorang anak laki-laki menabrak tubuhnya sampai membuat anak itu terjatuh di sampingnya.
"aduh.!" pekik si Anak.
"kau tidak apa-apa? Sini aku bantu." kata Ayyara sambil membantu si Anak untuk berdiri.
Seorang wanita yang nampak berjalan tergopoh-gopoh baru keluar dari ruangan dan langsung menghampiri si Anak.
"Anda tidak apa-apa?" tanya wanita itu kepada Ayyara. Ia nampak panik kalau-kalau anaknya membuat Ayyara terluka.
"saya tidak apa-apa." jawab Ayyara dengan menyunggingkan senyum.
"cepat minta maaf.!" bentak si wanita itu kepasa Anaknya. Yang langsung di sambut dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"saya minta maaf tante." ucap pria kecil yang mungkin berumur sekitar 7 tahun itu dengan wajah yang tertunduk.
"tidak apa-apa. Jangan takut." jawab Ayyara.
Si Ibu dan Anak itu lantas pamit kepada Ayyara dan langsung turun kebawah.
Ayyara memantapkan niatnya untuk melangkah masuk kedalam ruangan itu. Sekilas dia masih bisa melihat karyawannya yang dulu sedang sibuk mondar-mandir sambil membawa tumpukan berkas ditangan mereka. Ayyara bersyukur ternyata dia tidak salah masuk.
"maaf, ada yang bisa kami bantu, Bu?" Tanya seorang pria muda yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Dengan bet nama bertuliskan 'KARYAWAN MAGANG'
"oh. Ehmm.. Saya mencari Nia. Ada?"
"oh, Bu Nia. Ada, ada. Dia mungkin sedang berada diruangannya. mari saya antar." kata pria itu lagi dengan ramah.
setelah menangguk, Ayyara mengikuti pria muda itu di belakangnya.
Dan setelah sampai di depan sebuah pintu bercat coklat, pria itu langsung mengetuk kemudian membuka pintu sedikit dan berkata,
"Bu Nia, ada tamu yang mencari Ibu." kata Pria itu.
"suruh masuk saja." jawab suara seorang wanita dari dalam ruangan.
"silahkan.." kata pria muda itu mempersilahkan Ayyara untuk masuk. Sementara dirinya segera pergi untyk kembali mengerjakan pekerjaannya.
Tok.. Tok.. Tok...
Ayyara mengetuk pintu yang sudah terbuka.
"mari silahkan duduk." kata Nia tanpa menatap siapa yang mengetuk pintu.
"wah,, sepertinya ada yang sedang sibuk nih." seloroh Ayyara siap dengan sesungging senyum di bibirnya.
Suaranya sontak membuat Nia yang sedang sibuk membaca sebuah dokumen langsung mendongakkan kepalanya. Dan matanya langsung terbelalak saat melihat siapa yang sedang berdiri di pintu. Ia langaung berdiri dari duduknya.
"hai..." sapa Ayyara dengan mengangkat satu tangannya. Tersenyum sumringah kepada gadis yang matanya sudah hampir keluar dari tempatnya itu.
Nia tidak berucap satu katapun. Dia terus berjalan mendekati Ayyara dengan mata yang tidak berkedip sama sekali.
Setelah sampai di depan Ayyara. Kedua tangannya langsung terulur kearah wajah Ayyara. Dan langsung meraih kedua pipi Ayyara dengan kuatnya.
"au.!" pekik Ayyara saat merasakan sakit di kedua pipinya akibat cubitan dari Nia.
__ADS_1
"aaa!!!" mendengar Ayyara berteriak, Nia malah jadi ikut berteriak dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Menatap tidak percaya kepada Ayyara. seperti sedang melihat mantan yang sedang berjalan dengan gebetan baru saja.
"aku nyata. Bukan halusinasi."
"kak Yara? Ini benar-benar kak Yara?? Astaga. Aku tidak percaya ini.!" pekik Nia yang langsung menghambur memeluk tubuh Ayyara dengan sangat erat. bahkan sampai membuatnya sulit bernafas.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Terdengar Nia malah jadi sesenggukan. Ayyara lantas mencoba menenangkannya dengan mengelus-elus pundak Nia.
"kok malah menangis? Aku fikir kau akan bahagia kalau melihatku." goda Ayyara. Membuat Nia kemudian melepaskan pelukannya.
"aku bahagia Kak. Sangking bahagianya sampai menangis." jawab Nia di tengan tangisannya.
"kak Yara apa kabar? Kenapa tidak pernah memberi kabar sama sekali.?" serang Nia.
"aku baik-baik saja. Kau sendiri apa kabar? Kenapa tidak ada yang berubah darimu, Nia?" Tanya Ayyara sambil menelisik keseluruhan tubuh gadis mungil itu. "tidak tambah gemuj, juga tidak tambah tinggi."
Keduanya langsung tergelak.
"perhatikan lagi yang teliti kak." kata Nia dengan mengelus perutnya yang memang sedikit buncit.
"kamu???"
Nia mengangguk antusias.
"dengan siapa? Jangan bilang dengan...." tanya Ayyara merujuk kepada pacar brondong yang terakhir kali ia tau.
"bukan kak. Bukan dengan itu. Tapi orang lain. Nanti aku akan mengenalkannya kepada kak Yara."
"syukurlah.. Aku senang mendengarnya. Selamat ya. Nanti kadonya menyusul."
Tapi Nia langsung menggelengkan kepalanya. "tidak kak. Kembalinya Kak Yara adalah kado yang terindah. Aku tidak butuh apapun lagi." tolak Nia dengan halus.
"mana keponakanku?" tanya Nia dengan mencari di sekitar belakang Ayyara.
"sedang sekolah. Jadi aku tidak mengajak mereka."
"mereka?" tanya Nia mengernyitkan dahinya. Setahunya kata 'mereka' itu merujuk kepada lebih dari satu orang. "apa keponakanku ada dua? Atau bahkan tiga?"
"hahaha. Dua. Perempuan dan laki-laki. Ana dan Juna. Kapan-kapan aku akan membawa mereka kemari."
__ADS_1
Dan merekapun menghabiskan waktu berjam-jam dengan mengobrol. Saling menceritakan kehidupan mereka masing-masing selama 4 tahun terakhir.