
"apa yang kau lakukan?" tanya Gama. dia ingin mendapatkan kepastian dari Ayyara. apakah gadis itu benar-benar menerima penawarannya?
Ayyara terdiam. lantas ia mengeluarkan selembar kertas yang ia keluarkan dari tas nya kepada Gama. pria itu hanya menaikkan sebelah alisnya.
"bukalah..." perintah Ayyara. menyuruh membuka kertas yang terlipat dua itu.
dengan hati-hati Gama membukanya, itu adalah surat perjanjian pra nikah yang pernah ia berikan kepada Ayyara waktu itu. ia memicingkan matanya saat melihat sudah banyak coretan-coretan disana. di bagian paling bawah terdapat sebuah tulisan tangan Ayyara. itu adalah tambahan syaratnya.
Gama akan membantu Ayyara mengungkap kasus kecelakaan kedua orang tua Ayyara sampai tuntas.
"apa ini berarti kau menerima permintaanku?" tanya Gama tidak percaya. matanya berbinar nampak sangat antusias.
"aku sudah menanda tanganinya. dan,, ada satu syarat lagi, tapi tidak kutuliskan disana." jelas Ayyara.
"apapun itu? katakan saja." Ada raut kebahagiaan di wajah Gama.
apa dia sesenang itu? batin Ayyara.
__ADS_1
"aku minta pernikahan ini hanya di ketahui oleh orang-orang terdekatmu saja. Lagipula pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun kan?. Jadi kufikir tidak akan ada gunanya mengumumkannya pada semua orang"
Gama menangguk-anggukkan kepalanya. Perkataan Ayyara masuk akal juga. Fikir Gama.
sudah. tak ada lagi kata mundur. Ayyara sudah terlanjur menandatangani surat itu. di dalam hatinya hanya ada tekad untuk mengungkap kecelakaan kedua orang tuanya. entah, apa dia tak akan menyesali ini?
"baiklah. aku menerima semua syaratmu. trimakasih. aku pasti akan membantumu. tapi kalau boleh tau, kenapa kau mencoret point nomor 2? itu adalah kompensasi untukmu."
"aku tidak membutuhkannya. aku bisa mandiri dengan finansialku sendiri. aku hanya perlu tetap bekerja di perusahaanku."
"baiklah. apapun yang kau mau. aku benar-benar berterimakasih padamu."
"sama-sama. kalau begitu aku permisi dulu." kata Ayyara dan langsung bangkit berdiri, kemudian berjalan keluar ruangan Gama.
dimobil, sepanjang perjalanannya Gama terus saja tersenyum sumringah. malam ini ia akan pergi ke rumah orang tuanya untuk menjelaskan semuanya.
sesampainya dirumah kedua orang tua Gama nampak sedang menunggunya, mereka langsung tersenyum saat melihat Gama datang.
"benarkah gadis itu adalah kekasihmu?" cecar Mama.
"iya Ma, benar.."
__ADS_1
"lantas bagaimana dengan Maya? dia berkata bahwa kalian akan menikah." kata Mama khawatir. ia menoleh kepada suaminya yang duduk di sofa di sampingnya.
"kenapa harus mengkhawatirkan itu? yang terpenting kan bagaimana perasaan Gama. jadi apa kau sudah memutuskan akan menikahi siapa?" papa menambahi.
"aku akan menikahai Ayyara pa. papa dan mama silahkan mencari hari terbaik, kami akan menikah dihari itu. tapi ada satu syarat. aku mau, kalau pernikahan ini tidaak perlu di umumkan ke publik."
Mama dan Papa yang mendengar itu mengernyitkan keningnya dan saling pandang.
"tapi kenapa Gama? padahal mama sudah sangat bersemangat dan ingin menggelar pesta pernikahan yang paling mewah untuk kalian. kami ingin mengumumkan pernikahan ini agar seluruh dunia tau." tanya mama. tentu saja, Gama sudah menebaknya.
"tidak perlu Ma, calon istriku tidak suka hal semacam itu. kami akan menikah dengan sederhana saja, dengan hanya mengundang beberapa orang dari keluarga kita. itu sudah cukup bagi kami. bukankah yang terpenting adalah akad nikahnya? pestanya tidak penting ma.." rayu Gama. sejak tadi ia berfikir keras bagaimana cara untuk menjelaskan semuanya. dan akhirnya itulah yang keluar dari mulutnya.
maafkan aku ma, pa, aku terpaksa membohongi kalian. batin Gama trenyuh. sebenarnya ia tak tega, tapi ia tak punya pilihan lain.
"yasudah, terserah kalian saja. jadi bagaimana dengan persiapannya?"
"mama tenang saja. aku yang akan mengurus semuanya. mama tidak perlu repot."
"baiklah nak, mama percaya sama kamu. yang penting kamu menikah, dan calon istrimu sepertinya gadis yang baik."
"tentu saja. dia gadis yang sangat baik."
__ADS_1
Gama menarik nafas lega. awalnya dia takut kalau mama tak mau melepaskan tangan dari pernikahannya, tapi untungnya keluarganya adalah keluarga yang sangat bijaksana.