
Ayyara mendengus kesal. Bagaimana tidak, setelah sampai di jogja, Gama malah asyik tertidur selama seharian penuh. Tidak mau dibangunkan, bahkan untuk makan pun dia tidak mau bangun.
Biarpun Ayyara sudah berusaha membangunkan suaminya itu. Gama tetap tidak bergeming. membuat Ayyara bertambah kesal saja.
baru setelah keesokan harinya. Gama lebih dulu terbangun daripada Ayyara. kemudian ia berolah raga dan membersihkan tubuhnya.
“sayang, bangun. ayo kita jalan-jalan.” ajak Gama. dia berbisik di telinga Ayyara. hembusan nafasnya membuat Ayyara bergidik geli.
“ku fikir kita akan tidur sepanjang waktu disini sayang.” sindir Ayyara. si bumil sama sekali tidak merasa bersalah.
“hehe, maaf. aku benar-benar lelah. nanti kita pulangnya naik pesawat saja ya..” rayu Gama.
sepertinya Gama memang lelah, Ayyara bisa melihatnya dari mata pria itu yang menghitam. perlahan dia menganggukan kepala tanda menyetujui permintan Gama.
cup.
mantra rutin pagi Gama mendarat di kening, mata, dan bibir istrinya.
jogja, kota yang penuh dengan kenangan bagi Gama. dimana dia harus merelakan wanita pertama yang memasuki hatinya diiliki oleh pria lain. Mala dan Micko, bagaimana kabar mereka ya? batin Gama.
“kemana kita hari ini sayang?” tanya Ayyara saat sedang duduk di meja makan.
“kau ingin kemana?” tanya balik Gama.
“emmm,,, ke Malioboro.” jawab Ayyara antusias. dia sudah menyusun daftar belanjaan difikirannya. juga daftar makanan tentu saja.
“boleh.”
“Raden butuh supir? biar saya panggilkan keponakan saya.” tanya pak Ito yang sejak tadi menguping pemicaraan kedua majikannya itu.
“tidak usah pak. biar saya setir mobil sendiri.’ jawab Gama. ia tak ingin ada yang mengganggu, dia ingin menghabiskan waktu liburan ini hanya bersama dengan istrinya saja. dia ingin menjadi suami normal bagi Ayyara. mengantarkan belanja, menjadi supir pribadi, dan menjadi pengawal pribadi untuk istrinya itu. Gama berniat akan memanjakan Ayyara selama mereka liburan. anggap saja sebagai pengganti bulan madu mereka yang tak masuk daftar.
“memangnya tidak lelah sayang?” tanya Ayyara.
“tidak.”
“kenapa tidak Afan saja sayang. o iya, ngomong-ngomong dimana si jomblo itu? dari kemarin tidak nampak batang hidungnya.” seloroh Ayyara.
“mungkin pulang kerumah orang tuanya. ini adalah bonus rutin yang kuberikan padanya. kalau aku sedang berada di jogja, entah itu urusan bisnis, maupun urusan pribadi, dia akan libur sepanjang waktu.”
“wah,, enak sekali jasi Arfan. ternyata suamiku ini hebat juga ya..” pujian Ayyara membuat Gama merasa bangga.
__ADS_1
seperti yang dijanjikan, setelah selesai sarapan, Gama dan Ayyara pergi ke kawasan Malioboro hanya berdua saja. rasanya aneh saat mereka hanya bredua saja di dalam mobil.
“apa yang ingin kau beli sayang?” tanya Gama.
“aku ingin membeli oleh-oleh untuk Mama dan Papa. Baju batik." jelas Ayyara
"baju batik? Mereka sudah punya banyak baju batik sayang."
"ya tapi kan beda sayang,, pemberian dari calon cucu mereka, pasti istimewa."
Gama hanya manggut-manggut. Membenarkan pemikiran Ayyara.
Hampir setengah hari Gama mengikuti istrinya berkeliling. Si bumil tidak punya rasa lelah. Sambil berjalan, Mata Ayyara jelalatan mencari makanan.
"sayang, apa kau tidak lelah? Kita istirahat dulu ya.." ujar Gama. Tubuhnya sudah mulai berkeringat. Matahari yang terik ditambah mereka sudah berkeliling cukup lama, membuat kakinya mulai terasa kebas.
"sayang, Bukankah itu Arfan?" kata Ayyara tiba-tiba. Ia memandang lurus ke seberang jalan. Gama segera mengikuti arah pandangan istrinya. Alisnya langsung mengkerut.
Diseberang, Arfan sedang sibuk memilih-milih sebuah pernak pernik yang dijajakan oleh pedagang. Bukan itu yang membuat Gama menaikkan sebelah alisnya, tapi ada seorang gadis yang sedang di genggam tangannya oleh si jomblo itu. Mereka nampak sangat mesra dengan sesekali tertawa.
"apa itu adiknya sayang?" tanya Ayyara teringat kalau Gama pernah bercerita tentang Arfan yang punya seorang adik.
Arfan belum menyadari kedatang Gama dan Ayyara di belakangnya. Ia terus saja berdebat kecil tentang pilihan pernak pernik yang harus di beli oleh si wanita. Ayyara sampai bergidik dan geleng-geleng kepala. Ternyata dibalik perawakan tegasnya, Arfan cerewet sekali.
"sudah. Yang itu saja. Itu lebih cantik dari yang lain." tiba-tiba Gama berkata di sela-sela mereka. Membuat Arfan dan si wanita langsung membalikkan badan mereka.
"tu.. an.." Arfan jadi kelimpungan. Wajahnya seketika memerah. Apalagi wanita yang bersamanya. Wanita itu langsung nyengir sambil terkekeh.
"hai Gama... Hehehe.." sapa wanita itu.
"aku menunggu penjelasan." ujar Gama kemudian.
Ayyara hanya mendengarkan mereka dengan tatapan bingung.
...****************...
Saat ini, mereka berempat sudah berada di sebuah cafe dan duduk saling berhadapan. Gama menyilangkan tangannya didada, menatap dua tersangka dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi. Sedangkan Ayyara hanya setengah tertarik. Ia terus mengunyah sate telur puyuhnya.
"apa ini?" tanya Gama dengan tatapan penuh selidik.
"tuan.. Itu.." Arfan terintimidasi. Kata-katanya tercekat di tenggorokan.
__ADS_1
"hei. Kau membuat kekasihku takut." sela si wanita. Membuat Gama mendelik. Wajah Arfan tambah memerah mendapat pembelaan itu.
"waahhh... Kekasih? Sejak kapan?"
"kenapa kau ingin tau? Bukan urusanmu Gama." hardik si wanita.
Ayyara masih tak tertarik dengan keributan kecil itu.
"Dewi.! Kalian ini benar-benar." Hardik Gama kembali. "tega sekali tidak memberitahuku soal kabar bahagia ini? sampai kapan kalian akan merahasiakan ini dariku?"
"sampai kami menikah. Mungkin..." kali ini Arfan yang memberanikan diri menjawab. Membuat Dewi langsung menoleh kearah kekasihnya itu.
"wahhh.. Arfan..." Gama yang mendengar itu terkejut dengan ucapan Arfan. Sekarang dia tidak bisa lagi memanggilnya si jomblo.
"sudahlah.. Dari tadi terus mengintrogasi kami. Kapan kau akan memperkenalkan istrimu padaku?" sela Dewi.
"oh,, iya. Aku sampai lupa. Sayang, kenalkan, ini Dewi temanku. Jangan bertanya soal hubungan mereka ya, aku saja baru tau." kata Gama kepada istrinya.
"hai. Aku Dewi." sapa Dewi memperkenalkan diri dengan ramah. Senyum terus mengembang dibibir mungilnya.
"Ayyara. Jadi kau kekasih si jomblo ini? Oh ya, aku tidak bisa lagi menyebutnya jomblo." jawab Ayyara dengan raut wajah kecewa. "sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"
"hampir dua tahun." jawab Dewi santai. Ia menyeruput minuman es teh di depannya.
"apa?!!! Sudah selama itu? Kalian ini benar-benar ya.!" bentak Gama.
"tuan, jangan membentak seperti itu. Nanti tuan muda junior terkejut." kekeh Arfan.
"wah.... Wah....." Gama tidak bisa berkata-kata. Ia ikut menyeruput es tehnya. Berharap bisa meredakan panas hatinya karna sudah dibohongi oleh Arfan.
"tega sekali kalian membohongiku." ujar Gama lagi.
"tuan, secara teknis, saya tidak pernah berbohong. Saya hanya belum memberitahu tuan saja." bela Arfan.
"itu sama saja.! Dasar kau ini." hardik Gama.
"sudahlah sayang. Aku turut bahagia mendengarnya. Semoga kalian bisa sampai di pajang di pelaminan ya.." doa Ayyara.
"trimakasih Yara." balas Dewi. ada tatapan bahagia di wajahnya melihat Gama yang akhirnya bisa menyingkirkan nama sahabatnya dari hati pria itu.
"saat itu tiba, aku akan memberi kalian hadiah yang Sangat mahal." janji Gama. Membuat mereka semua terkekeh.
__ADS_1