Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Takut Mati.


__ADS_3

Brak..!!!


Tendangan gama berhasil membuat pintu yang sudah terlalap api itu terbuka. Percikannya bahkan sampai mengenai lengannya sendiri.


Ia menajamkan penglihatannya, mengeratkan handuk basah yang menutupi mulut dan hidungnya. Ia mencari sosok ayyara ditengah kobaran api dan asap yang mengepul memenuhi ruangan itu.


“yara.!! Sayang.!!” Teriaknya. Berharap ayyara menjawab panggilannya.


Dadanya semakin bergemuruh panik saat tidak terdengar suara ayyara.


“yara.!!!!”


“to... Long...” Sayup-sayup terdengar suara orang meminta tolong. Gama segera mencari sumber suara. Dan ia melihat sosok ayyara yang sudah tergeletak lemah.


“sayang.!!!” Pekik gama. Ia kemudian berlari dan langsung membopong tubuh lemah istrinya itu.


Warga yang melihat gama keluar dari dalam kobaran api langsung menolongnya dan merebut ayyara dari gendongannya. Pihak pemadam kebakaran dan para medis yang sudah tiba beberapa menit yang lalu langsung ikut menolong dan membaringkan ayyara di dalam mobil ambulance. Mereka menyuruh gama untuk berbaring di mobil ambulance lain, tapi gama tidak mau. Ia ingin mendampingi istrinya itu dan berada di dalam satu ambulance dengannya.


Tidak ada waktu untuk berdebat. Akhirnya mereka mengalah dan memilih segera melarikan keduanya kerumah sakit.


Sepanjang perjalanan, gama terus menggenggam tangan ayyara yang tak sadarkan diri. Dia bahkan tidak peduli dengan luka bakar yang ada di lengan dan kakinya. Ia belum merasakan sakit. Padahal luka itu melepuh dan terlihat sangat meyakitkan.


Sesampainya dirumah sakit, dokter segera memberikan tindakan kepada mereka berdua. Ia tidak ingin melepaskan tangan istrinya itu bahkan untuk sedetik saja. Tapi mereka harus di baringkan di ranjang yang berbeda sehingga mau tidak mau gama terpaksa melepaskan genggamannya. Kemudian ia dibimbing oleh salah satu perawat untuk berbaring di ranjang di sebelah ranjang istrinya.


Wajahnya tak lepas dari istrinya. Ia terus saja melihat semua tindakan yang dilakukan oleh dokter kepada istrinya itu. Hatinya terasa sangat sakit saat dokter menusukkan jarum infus di punggung tangan ayyara. Perlahan air matanya meleleh.


***


“ahhh...” Lirih ayyara mengeratkan matanya. Ia merasa sangat pusing. Telinganya terus saja mendengar isak tangis seseorang.


“sayang. Kau sudah bangun? Apa kau mengenaliku?” Tanya gama dengan raut wajah lega.


“sayang...” Ucap ayyara lirih. Ia menggigit bibirnyasaat merasakan perih di tenggorokan. Matanya juga terasa sangat perih.


“bagaimana dengan bayiku?” Hal pertama yang ayyara tanyakan adalah kondisi kandungannya.


“dia baik-baik saja. Tidak usah khawatir.” Jawab gama sambil mengusap rambut istrinya.


Ayyara menghembuskan nafas lega sambil mengusap pelan perutnya. Ia sempat khawatir tadi.


“tanganmu...” Kata ayyara saat melihat perban di lengan suaminya.

__ADS_1


“aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil.” Jawab gama menenangkan ayyara yang nampak khawatir. “kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit?”


“aku baik-baik saja. Hanya kepalaku sedikit pusing.”


“istirahat saja. Aku akan menjagamu disini.” Ucap gama sambil mengecup pelan kening istrinya.


Kehangatan yang disalurkan oleh gama membuat ayyara meneteskan air matanya. Gama yang melihat itu langsung mengusapnya dengan telapak tangannya.


“sssttt,,, sudah, jangan menangis.” Seolah tau apa yang sedang ayyara fikirkan. Istrinya itu pasti merasa sangat ketakutan semalam.


“maafkan aku sayang. Aku sudah membahayakan diriku dan anak kita..” Kata ayyara.


“jangan bicara seperti itu. Yang penting kalian baik-baik saja. Aku memang khawatir, tapi sekarang sudah tidak lagi.” Jelas gama menenangkah istrinya.


Mendengar hal itu, bukannya berhenti menangis, tangis ayyara malah semakin menjadi-jadi. Dia meraung-raung dengan sangat keras. Suaranya sampai memenuhi seluruh ruangan vvip tempatnya dirawat.


Mendengar istrinya meraung-raung, gama langsung mendekap tubuh istrinya kepelukannya. Sambil terus mengelus kepalanya untuk menenangkannya


“sudah,, sudah,,”


“aku fikir aku akan mati. Huaaaaa...!”


“hei, jangan bicara seperti itu. Kau membuatku sedih.” Kata gama. “sayang, kenapa sampai kau tidak tau ada api?” Akhirnya gama menanyakan hal yang menurutnya sangat ganjil.


“setelah selesai membersihkan seluruh rumah, aku mandi dan kemudian tertidur. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa.”


“apa kau minum dan makan sesuatu?” Tanya gama menyelidik.


Karna menurut keterangan dokter, ditemukan jejak obat bius di tubuh ayyara. tentu saja Gama tidak akan memberitahu Ayyara tentang hal itu.


“oh,, aku membeli air mineral dingin dari seorang penjual keliling. Karna aku kelelahan dan merasa haus.” Jelas ayyara mengingat-ingat kejadian itu.


Sialan.! Maki gama dalam hati.


“kenapa sayang?” Tanya ayyara yang merasa aneh dengan pertanyaan suaminya.


“tidak, tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja.” Gama tidak ingin membuat istrinya bertambah khawatir, jadi dia berbohong.


“oo...”


“sekarang istirahatlah. Aku akan keluar sebentar.”

__ADS_1


Bersamaan dengan keluarnya gama. Tuan dan nyonya gundala datang dengan tergopoh-gopoh.


“gama? Bagaimana dengan yara?” Tanya nyonya gundala. Mereka berpapasan di depan ruangan.


“sudah siuman ma.” Jawab gama.


“syukurlah. Bagaimana dengan kandungannya?” Tanya tuan gundala kemudian.


“kandungannya juga baik-baik saja pa. Kalian tidak usah khawatir.”


“kami senang mendengarnya. Kau mau kemana?” Tanya tuan gundala. Sedangkan nyonya gundala langsung nyelonong masuk untuk menemui menantunya itu.


“keluar sbentar pa. Ada yang harus aku bahas engan arfan.”


“apa itu seperti apa yang papa fikirkan? Tadi papa sempat mengobrol dengan wulan.”


Tentu saja. Tuan gundala pasti sudah mendapat cerita selengkapnya dari bawahannya itu. Lagipula rumah sakit ini miliknya. Jadi tidak ada yang tidak dia tau.


“hati-hati. Jangan gegabah.” Peringatan tuan gundala.


“iya pa.”


Kemudian gama mengajak arfan untuk pergi ke atap rumah sakit.


“bagimana? Sudah ada hasilnya?” Tanya gama kepada arfan.


“maafkan saya tuan. Tapi saya belum menemukan titik terang.”


Jawaban arfan membuat mata gama terbelalak.


“ada apa denganmu? Tidak biasanya kau bekerja selambat ini.” Dengus gama.


“maafkan saya tuan.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut arfan


Gama membuang nafasnya dengan kasar. Sepertinya kali ini musuhnya sangat pintar dan teliti. Dia tidak berani menduga-duga siapa dalang dibalik kebakaran itu. Karna polisi juga sedang menyelidiki penyebabnya. Yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu hasil dari penyelidikan dengan terus memperketat penjagaan di sekitar ayyara.


Didalam ruangan, nyonya gundala masih mengeratkan pelukannya kepada menantunya itu. Hatinya ikut merasakan sakit saat dilihatnya luka bakar di lengan ayyara.


Di televisi, terlihat berita yang menampilkan perihal kebakaran semalam. Saat melihat sisa-sisa asap yang mengepul dari bekas rumahnya yang sudah menjadi arang, ayyara kembali menangis dipelukan sang ibu mertua. Ia teringat akan figura kedua orang tuanya yang apsti sudah menjadi abu.


“mama... Hiks,, hiks,,” lirih ayyara.

__ADS_1


“iya sayang. Mama disini. Sudah, jangan sedih lagi ya.cup, cup,” ujar nyonya gundala mencoba menenangkan ayyara yang menangis seperti anak kecil.


__ADS_2