
“Aku masih berharap kali ini kembar tiga.” Seloroh Gama dengan wajah panik. Ia sedang menunggui istrinya yang sedang diperiksa oleh dokter kandungan didalam ruangan. Sedangkan Gama ditemani oleh Arfan dan Dewi yang menunggu diluar ruangan.
“Dasar tidak tau diri. Apa kau fikir melahirkan itu segampang mengeluakan air seni?” Dengus dewi yang mulai terpancing emosi karna melihat tingkah Gama yang sudah seperti setrikaan. “Kalau kembar kan sudah sejak awal dibilang kembar. Udah setengah jalan masih saja. Harapanmu itu sia-sia Gama.”
Arfan yang mendengar itu langsung menyenggol lengan istrinya untuk memperingatkannya kalau ucapannya itu tidaklah sopan.
“Apa? Dia itu menyebalkan sekali. Lihat itu. Mondar mandir tidak jelas seperti itu.” Dewi masih emosi jiwa. “Gama. Bisakah kau berhenti bersikap seperti itu? Kau membuatku pusing.” Dewi tidak menggubris peringatan suaminya.
“Tuan, anda bisa masuk jika anda mau.” Saran arfan.
“Tidak, tidak. Aku tidak bisa mengendalikan diriku.” Jawabnya. Dia tidak pernah merasa secemas ini sebelumnya.
Dewi dan arfan hanya bisa menghela nafas saja.
Namun tiba-tiba Ayyara membuka pintu dan melihat aneh kearah Gama.
“Oh? Sayang? Kenapa? Kau butuh sesuatu?” Tanya Gama sigap.
“Apa kau tidak ingin ikut masuk bersamaku?” Tanya Ayyara.
“Ehm...” Gama terlihat ragu.
“Ayo masuk. Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Ujar Ayyara dengan tatapan memaksa. Ayyara benar-benar sudah berani menunjukkan dominasinya kepada Gama.
Dan benar saja. Dengan patuh Gamapun ikut masuk kedalam ruangan mengikuti Ayyara.
“Kau ini kenapa sayang? Sikapmu aneh sekali. Padahal kau yang sangat menginginkan Anak ini.” Bisik Ayyara kepada suaminya itu.
“Entahlah, aku benar-benar gugup sekarang. Aku bahkan tidak segugup ini saat tau kau mengandung Ana dan Jun.”
Penjelasan Gama itu justru membuat ayara tertawa. Ia kemudian menggenggam tangan suaminya itu untuk menenangkannya. Dasar sikap Gama berlebihan. Seperti dia saja yang sedang hamil.
Dengan wajah yang nampak serius, Gama mendengarkan setiap penjelasan dari dokter kandungan yang memeriksa istrinya. Dokter mengatakan bahwa kondisi janin dan ibunya dalam keadaan yang sangat baik. Jadi Gama tidak perlu merasa cemas.
__ADS_1
Mendengar penjelasan itu, Gama menghela nafas lega. Ia mengelus perut Ayyara yang belum terlalu besar itu dengan lembut.
Wajah Gama kembali berbinar saat dokter berkata bahwa Anak mereka berjenis kelamin perempuan. Dengan tiba-tiba Gama langsung saja memeluk Ayyara dengan erat. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Trimakasih dokter.” Ujarnya.
Kemudian mereka keluar dari ruangan itu dengan disambut oleh Dewi dan Arfan. Dewi langsung menyerobot menghampiri Ayyara.
“Laki-laki atau perempuan?” Tanya dewi langsung.
“Perempuan.” Jawab Ayyara.
“Waahh,, apa dia akan secerewet Ana? Aku sudah tidak sabar menunggunya lahir.” Kata Dewi yang juga ikut merasakan kebahagiaan keluarga itu.
“Aku harap begitu. Karna aku tidak bisa membayangkan jika Anak ini nantinya akan jadi pendiam seperti Jun. Itu akan sangat membosankan.” Balas Ayyara yang spontan menimbulkan tawa bagi mereka semua.
Memang benar, sikap Jun yang terlalu pendiam membuat Anak itu tidak punya banyak teman. Dia lebih memilih bermain sendiri ketimbang bermain dengan banyak orang. Jun adalah tipe orang yang pemilih dalam bergaul.
Saking bahagianya, Gama memilih bolos bekerja dan ingin bersantai saja dirumah. Arfan tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan tuannya itu.
“Baik, Tuan.”
“Kenapa sayang?” Tanya Ayyara bingung. Jarang sekali Gama bersikap seperti itu.
“Aku hanya ingin menjemput mereka. Lagipula kita akan melewati sekolahnya, jadi sekalian saja.”
Fadil menghentikan mobil disebuah sekolah internasional ternama, dimana Jun dan Ana bersekolah. Tidak menunggu waktu lama, Jun dan Ana nampak keluar dari dalam gedung sekolah dengan digandeng oleh Devi.
“Tuan, Nyonya.” Sapa Devi begitu melihat Ayyara dan Gama yang sedanng berdiri disamping mobil.
“Papa!” Teriak Ana yang langsung berlari menghambur kedalam pelukan Gama. Begitu juga dengan Jun. Pria kecil itu sudah mulai dekat dengan sang ayah.
“Devi pulanglah duluan. Biar mereka bersama kami saja.” Perintah Ayyara.
__ADS_1
“Baik nyonya.” Kemudian Devipun segera masuk kedalam mobil yang biasa di gunakan untuk mengantar jemput Ana dan Jun.
“Bagaimana sekolahnya hari ini sayang?” Tanya Ayyara kepada Ana. “Apa kau mempelajari sesutu?”
“Menyenangkan.” Jun yang menjawab. Sedangkan Ana sedang sibuk dengan dasi ayahnya.
“Ana, Jun. Apa kalian menginginkan seorang adik?” Tanya Gama tiba-tiba.
“Aku ingin adik laki-laki.” Jawab Jun dengan polosnya.
“Oh ya? Kenapa?” Tanya Ayyara. Jarang sekali Jun akan mengungkapkan antusiasmenya seperti itu.
“Supaya aku ada teman saat bermain pedang.” Jawabnya sambil melayangkan satu tangannya keatas.
“Aku ingin adik perempun.” Jawab Ana dengan ekspresi yang tidak peduli.
“Kenapa?” Tanya Gama.
“Entah.” Jawab gadis kecil itu santai.
“Hah?” Ayyara dan Gama sontak dibuat terkekeh dengan tingkah lucu Ana itu. Gama langsung memeluk gemas tubuh mungil Ana yang duduk dipangkuannya itu sampai ia memberontak.
Gama dan Ayyara menyadari kalau sikembar sebenarnya belum faham betul tentang kehadiran seorang adik. Tapi Gama tetap tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Aku sudah menyiapkan nama untuk calon bayi kita.” Ujar Gama tiba-tiba.
“Secepat itu?” Tanya Ayyara. “siapa?”
“Arsyla Rifana Gundala. Bagus tidak?” Tanya Gama meminta pendapat sang istri.
“Bagus. Aku menyukainya.” Jawab Ayyara girang.
Membayangkan calon adik Ana dan Jun yang tidak lama lagi akan lahir kedunia, membuat Ayyara bersemangat. Begitu juga dengan Gama. Ia akan menebus semua yang tidak bisa dia lakukan saat Ayyara melahirkan Ana dan Jun.
__ADS_1
Saat itu, dia tidak bisa berada disamping sang istri. Tapi sekarang, dia akan selalu berada disisi Ayyara. Untuk selamanya.