
Hari yang sibuk. Bandara yang baru selesai dibangun itu akan diresmikan hari ini. Kabar kedatangan bapak presiden langsung membuat warga sekitar datang berduyun-duyun. Bahkan warga dari luar kota juga banyak yang datang. Dan itu berimbas kepada cafe milik Ayyara yang memang letaknya persis di samping bandara.
Ayyara tidak punya waktu untuk mendekat dan melihat langsung kedatangan bapak presiden. Walupun ia sangat ingin melihatnya secara langsung. Cafenya di buru pengunJung. Mereka sangat sibuk. Untung Risma dengan suka rela mau menjaga Jun dan Ana di rumahnya. Jadi Ayyara merasa sedikit lega.
Disela kesibukannya, ponsel Ayyara bergetar. Telfon dari Risma.
“iya Risma?” Jawab Ayyara dengan mengapit ponsel di antara telinga dan bahu. Sedangkan kedua tangannya sibuk menyeduh kopi untuk pelanggan.
“kak, bolehkah kami pergi ke bandara? Aku sangat ingin melihat pak presiden.” Pinta Risma di seberang.
“Anak-Anak bagaimAna?”
“tenang saja. Aku akan mengajak mereka.”
“apa tidak merepotkan? Antar saja mereka ke cafe.” Jawab Ayyara merasa tidak enak hati.
“tidak apa-apa kak. Kakak kan juga sibuk di cafe. Aku akan menjaga mereka dengan baik.” Kata Risma lagi meyakinkan Ayyara.
“baiklah. Hati-hati ya..” Pesan Ayyara.
Dan ia pun menutup telfonnya. Sebenarnya hatinya dipenuhi rasa khawatir. Ayyara menghawatirkan Risma. Gadis itu pasti akan kerepotan menjaga si kembar. Kalau Jun sih tidak jadi masalah, karna ia pendiam dan tidak mau melepaskan genggaman tangan orang yang menjaganya. Tapi yang jadi masalah adalah Ana. Gadis kecil itu suka menghilang sesukanya. Langkahnya cepat sekali menghilang dari pandangan. Bahkan Ayyara saja selalu dibuat kewalahan olehnya.
Tapi Ayyara berusaha menenangkan hatinya. Ia mempercayakan si kembar kepada Risma. Semoga mereka tidak membuat masalah untuk Risma. Tapi itu adalah kekhawatiran yang tiak bisa diabaikan oleh Ayyara.
Sampai saat sore tiba, Risma menelfonnya dengan suara yang terdengar panik.
“kak.. BagaimAna ini?” Ucap Risma sambil terisak.
“kenapa ma? Kenapa kau menangis begitu.?” Tanya Ayyara. Ia memikirkan sesuatu yang memang sedang terjadi. Pasti ada masalah dengan si kembar. Batinnya.
“kak. Ana kak..” Jelas Risma sambil terus menangis.
“kenapa dengan Ana?” Tanya Ayyara.
“dia menghilang. Aku sudah mencarinya kemAna-mAna. Tapi belum menemukannya. Hiks, hiks,” jelas Risma kemudian.
__ADS_1
“apa?! BagaimAna bisa?!” Tanya Ayyara. Walaupun ia sudah menduganya, tapi ia tetap saja terkejut.
“bagaimAna ini? Hiks,, hiks,,” ujar Risma lagi. Gadis itu ketakutan luar biasa. Ia merasa bersalah karna ia tidak bisa menjaga Ana dengan baik.
“kau dimAna? Aku akan segera kesAna.” Kata Ayyara. Kemudian ia memberitahu Riski dan segera berlari keluar dari cafenya dan masuk ke dalam bandara.
Ayyara terus mengedarkan pandangannya mencari Ana. Dilautan manusia sebanyak ini bagaimAna ia akan menemukan Ana?. Ah.. Dia menyesal. Seharusnya ia memaksa Risma untuk mengantarkan si kembar ke cafe saja. Tapi apapun yang ia sesali, sama sekali tidak bisa membantu untuk menemukan Ana.
“Ana...” Lirihnya. “dimAna kamu nak?” Ucapnya irih. Ia terus membelah lautan manusia. Satu harapannya. Semoga Ana baik-baik saja.
Yang Ayyara lakukan pertama kali adalah menemui Risma. Gadis itu sedang menangis terisak –isak dan dikelilingi oleh panitia dan beberapa anggota polisi. Sepertinya Risma sudah melaporkan hilangnya Ana kepada mereka.
“Risma.!” Panggil Ayyara sambil mendekati gadis itu.
“kak yara.!” Ujar Risma. Ia langsung menghambur memeluk Ayyara.
“sudah. Tidak apa-apa. Kita pasti akan menemukannya.” Kata Ayyara mencoba menenangkan Risma yang terus saja menangis. Padahal hatinya sendiri dipenuhi rasa khawatir yang luar biasa.
“mama..” Kata si kecil Jun yang langsung menghampiri Ayyara. Ayyara langsung menggendong Jun di punggungnya.
Mereka segera berpencar untuk membantu Ayyara mencari Ana. Dengan Jun yang masih berada di gendongan, Ayyara terus berkeliling ke semua tempat sambil memperhatikan setiap ada Anak kecil yang lewat.
Hatinya semakin diliputi oleh rasa was-was. Saat sampai menjelang malam ia tidak juga menemukan Ana. Satu persatu pengunJung acara peresmian sudah pulang. Tidak banyak lagi orang disAna. Dan itu membuat perasaan Ayyara semakin tidak menentu.
Sudah hampir jam 9 malam. Dan mereka belum menemukan si kecil Ana. Hal itu membuat air mata yang sejak tadi dia tahan tumpah seketika. BagaimAna jika Ana tidak ditemukan?
“kak yara.!” Panggil Riski yang baru datang bersama dengan dua karyawannya yang lain untuk ikut mencari Ana. “bagaimAna?”
Ayyara menggeleng dengan linangan air mata di pipinya. “bagaimAna ini ki? BagamAna jika kita tidak bisa menemukannya?” Tanya Ayyara mulai menangis.
Dia tidak akan sanggup kehilangan putrinya. Luka dihatinya masih menganga, dan jika ia kehilangan Ana kali ini, entah bagaimAna dia akan menjalani hidupnya. Entah bagaimAna dia akan menebus kesalahannya pada gama.
Ah,, gama. Disaat seperti ini. Ayyara sangat membutuhkan sosok itu. Sempat terlintas difikirannya tentang bagaimAna bodohnya dirinya.
“kak yara jangan berfikir begitu. Disaat seperti ini, kak yara harus berfikiran positif. Kita pasti akan menemukannya.” Ucap Riski meyakinkan. Dia tidak tega melihat air mata yang terus mengalir dipipi wanita itu.
__ADS_1
“tapi sampai sekarang kita belum juga menemukannya. BagaimAna jika terjadisesuatud engan Ana? Apa yang harus kulakukan? Hiks,, hiks,,”
“kak yara tenangkan dirimu.!” Bentak Riski sambil mengguncang pundak Ayyara. “kita pasti akan menemukannya.” Riski menatap dalam netra Ayyara untuk meyakinkan wanita itu. “kalian bantu kami mencari ya.” Pinta Riski kepada dua karyawan Ayyara yang lain. Dan mereka segera mengangguk kemudian berjalan menjauh.
Ayyara dan Riski kembali berpencar. Jun yang ada di gendongan Ayyara sudah mulai mengantuk dan terlelap di punggung mamanya.
Ayyara terus saja berjalan tak tentu arah. Beberapa kali ia berpapasan dengan polisi, panitia, kedua orang tua Risma dan Riski yang kebetulan memang berada di sana. Dan kini Ayyara sudah berada di tempat parkir yang mulai sepi. Hanya ada beberapa mobil disAna. Ia terus saja mengedarkan pandangannya. Hatinya tak putus berdoa. Ia sudah tidak merasakan lututnya yang gemetar. Rasa khawatir menambah tenaganya untuk terus memacu langkah kakinya dan menajamkan indra penglihatannya.
“Ana!!” Panggilnya. Berharap gadis kecil itu menyahut. “Ana.!!” Panggilnya lagi.
Si kecil Jun yang sudah tertidur di gendongan Ayyara mendadak terbangun karna teriakan Ayyara. Dan hal itu membuatnya menangis.
“maafkan mama sayang. Cup.. Cup.. Cup..” Kata Ayyara mencoba menenangkan Jun.
“ma.. Pulang...” Pinta Jun dengan suara beratnya. Ia ingin tidur di rumah. Di kasurnya yang nyaman. Tertidur di punggung Ayyara sangat tidak nyaman. Karna mamanya itu terus saja berjalan sehingga membuat tubuhnya terguncang-guncang.
“iya, setelah kita menemukan Ana, mama janji kita akan pulang, ya.” Kata Ayyara.
“hmmm...” Jawab Jun. Kemudian ia kembali mendaratkan pipinya di punggung Ayyara.
.
.
.
Para pemirsah yang budiman.😘😘
maaf Mak baru bisa aplot. dan untuk hari ini 2 episode dulu yaa,,
Mak lagi bed rest nih. kayaknya otak Mak masih keriting deh makanya jadi sakit,,🤭🤭🤭
nanti Mak bakalan crazy up kalau otaknya udah lurus alias udah sembuh.
love you all..❤❤❤❤
__ADS_1