
Ayyara masih merasa kikuk saat ada seorang dokter wanita yang sedang melepas infusnya. dia bukan canggung dengan dokter itu, bukan. dia canggung kepada dirinya sendiri. ia masih malu mengakui perasaannya kepada Gama. malu kalau dia juga menikmati ciuman itu. ya, Ayyara wanita normal yang juga membutuhkan sentuhan dari suaminya.
"masih ada yang tidak nyaman Nona?" tanya dokter Wulan.
"tidak dokter,, saya sudah baik-baik saja. trimakasih karna sudah merawat saya..." ujar Ayyara.
"sama-sama Nona. tapi saya hanya sebatas memasang infus dan memberikan obat. orang yang benar-benar merawat anda..." kata dokter Wulan sambil mengarahkan pandangannya kepada Gama yang sedang duduk di sofa dan sibuk dengan ponselnya.
perkataan dokter Wulan membuat Ayyara tersipu malu. setelah menyelesaikan pekerjaannya, dokter Wulanpun segera undur diri.
sepeninggal dokter Wulan, Ayyara bingung mau bagaimana. ia hendak memanggil Gama, tapi pria itu nampak sedang fokus dengan ponselnya. Ayyara tidak tau, bahwa Gama sedang memandangi fotonya yang sedang mengenakan gaun kemarin. entah kenapa Gama tak mau merasa puas memandangi foto itu.
Ayyara juga ingin bermain ponsel, tapi ponselnya tertinggal di villa. dia bingung. mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya di ranjang, menggoyang-giyangkan kakinya, melihat kesana kemari. intinya dia terus bergerak untuk membuat Gama memperhatikannya. tapi pria itu tetap tak bergeming.
hufh.! ia mendengus perlahan kemudian turun dari ranjang dan keluar dari kamar Gama.
"au.!" pekiknya. ia merasakan tumitnya yang terluka semalam terasa perih sekali. padahal sudah di perban dan diobati. sepertinya lukanya kembali terbuka saat ia bawa berjalan.
Gama yang mendengar rintihan Ayyara sontak memalingkan wajahnya dari ponsel. ia melihat Ayyara yang sedang meringis sambil memegangi tumitnya
"kau tidak apa-apa?" tanya Gama saat sudah berada di samping Ayyara. ia merengkuh kedua pundak Ayyara dan membantunya berdiri.
"aku tidak apa-apa. aku ingin kembali kekamarku." pinta Ayyara.
"tidak boleh.!" seketika Gama meninggikan suaranya. membuat Ayyara sedikit terkejut.
__ADS_1
"oh,, eh.. maaf. aku tidak bermaksud membentakmu..." jelas Gama.
"kenapa aku tidak boleh ke kamarku?"
"mulai sekarang kau akan tidur disini, bersamaku."
"apa??!!" Ayyara terbelalak mendengar jawaban dari Gama.
"kenapa? tidak mau? apa kau tidak suka tidur denganku?"
"tidak, bukan itu maksudku..."
"jadi kau tidak mau tidur denganku?"
"bukan.. aku..."
"tidak.! aku tidak membencimu, aku sangat menyukaimu..."
ups.
Gama tersenyum senang. ia sudah mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
"jangan menolakku,, dan jangan membantahku..." bisik Gama di telinga Ayyara. kemudian merengkuh tubuh Ayyara untuk menempel di tubuhnya. matanya menelisik setiap sudut wajah gadis di hadapannya itu.
tok,,, tok,,, tok,,,
__ADS_1
suara ketukan pintu itu menjadi kesempatan bagi Ayyara untuk melepaskan diri dari Gama. kalau lebih lama dia dalam posisi itu, jantungnya akan benar-benar meledak. ia mengatur nafas dan berusaha menenangkan diri.
"Tuan muda.. Tuan dan Nyonya besar sedang menunggu dibawah." pekik Toni dari luar kamar.
Mama dan Papa? kenapa mereka datang kesini? batin Gama.
"kau tunggu disini. jangan keluar. mengerti?" Gama menatap lurus ke netra Ayyara. ia seperti mengkhawatirkan sesuatu.
saat Gama hendak melangkah keluar kamar. ia dihentikan oleh Ayyara. gadis itu memegang lengannya.
"aku ikut..." kata Ayyara.
"sayang,, kau disini saja. aku akan menjelaskan kepada orang tuaku. mereka pasti punya banyak pertanyaan tentangmu."
mendengar kata 'sayang' keluar dari mulut Gama, membuat Ayyara membeku sesaat. namun ia segera sadar kembali.
"justru itu, mereka akan bertanya tentangku. maka aku yang harus menjelaskannya sendiri. aku yang akan menjelaskan semuanya kepada mereka."
"tapi sayang..."
sepertinya Ayyara mulai terbiasa dengan panggilan sayang.
"percayalah padaku. kumohon..." pinta Ayyara. ia menatap dalam kepada Gama. melalui tatapan itu, ia ingin meyakinkan Gama kalau ia bisa mengatasi masalah ini. melalui tatapannya ia mengisyaratkan, kalau semua akan baik-baik saja.
"kumohon..." pinta Ayyara sekali lagi karna melihat Gama yang tak berkutik. ada kekhawatiran di netra pria itu.
__ADS_1
"baiklah. tapi aku akan menemanimu. kau boleh berbohong apa saja. aku akan mengiyakannya."
"tidak. itu tidak perlu. kita harus menjelaskan semuanya kepada mereka dengan jujur. Mama dan Papa adalah orang yang bijaksana. mereka pasti akan mengerti." ucap Ayyara meyakinkan.