
"lihatlah wajahnya. Tampan sepertiku." ujar Gama sambil memperhatikan wajah Jun yang terlelap dengan liur yang mengalir dari sudut bibir mungilnya. Ada senyum bangga yang tersungging.
"aku tidak yakin kau setampan ini waktu kecil. Aku punya buktinya." jawab Ayyara dengan seringai kecil.
"apa maksudmu? Aku tampan. Kau tidak percaya?" Gama tidak mau kalah. Dia tetap percaya diri.
"iya,, iya,, aku percaya. Yaaa walaupun agak sedikit gempal sih." canda Ayyara. Ia masih teringat dengan foto masa kecil Gama yang dia lihat di villa dulu.
"dari mana kau tau?"
"rahasia." Ayyara tersenyum jahil.
"Apa aku segemuk itu?"
"tuan Gama yang tampan. Walaupun kau segemuk itu, Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Jadi tidak usah khawatir."
Gama tersenyum senang mendengar jawaban itu. Kini keluarga kecilnya telah berkumpul kembali. tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini. ia merasa nyawanya kembali utuh.
"tapi, sayang..."
Ah, panggilan sayang itu, selalu berhasil membuat hati Ayyara berdesir.
"bagaimana jika mereka tidak mau menerimaku?" Tiba-tiba hati Gama di selimuti kekhawatiran. Ia takut jika kedua malaikat yang sedang tertidur itu akan menolak kehadirannya.
"jangan berfikiran seperti itu. Biar bagaimanapun mereka itu darah dagingmu. Pasti akan ada ikatan walaupun sedikit. Tidak usah khawatir. Perlahan mereka pasti akan menerimamu sebagai Papanya." ujar Ayyara meyakinkan Gama.
Hufh.
Gama menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Ia mengamini ucapan Ayyara. Semoga saja.
"sayang, apa kau tidak lelah? Dimana kau menginap?" tanya Ayyara penasaran.
"aku menginap di hotel. Rasa lelahku sudah hilang sejak bertemu denganmu." jawab Gama dengan senyuman menggoda.
__ADS_1
"kalau begitu kembalilah ke hotel. Aku akan mengajak anak-anak pulang ke rumah." kata Ayyara sambil bangkit berdiri.
"hei.! Kok begitu?" tanya Gama merengut. "aku akan ikut pulang bersamamu." katanya lagi sambil mengambil langkah mantap.
"tidak bisa. para tetanggaku tidak pernah tau kalau aku punya suami. Nanti kita bisa kena masalah." tolak Ayyara.
"ayolahhh..." rayu Gama. Tapi Ayyara tetap menggeleng. "kalau begitu ayo kita tidur di hotel saja." ajak Gama kemudian.
"sayang..." akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Ayyara. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menyebutkan kata panggilan itu.
"ya? Ya? Ya?" Gama masih terus berusaha merayu. Kali ini ia memasang wajah memelas.
"nanti kalau kita dapat masalah bagaimana?" Ayyara masih saja khawatir kalau nanti tiba-tiba ada yang datang menggerebek mereka.
"tenang saja. Aku punya rencana." ucap Gama lagi dengan senyum liciknya. Entah apa yang dia rencanakan. Yang jelas dia sudah tidak sabar untuk memeluk Ayyara sepanjang malam. Seperti dulu.
Akhirnya, setelah banyak rayuan maut yang di lontarkan Gama, dan setelah banyak pertimbangan Ayyara menyetujui untuk pergi ke hotel di tempat Gama menginap. Hal itu tentu saja membuat Gama tertawa bahagia.
Ada kebahagiaan luar biasa yang sedang dirasakan oleh Gama. Ia merasa sudah menjadi suami dan ayah yang normal. Berada satu mobil bersama istri dan kedua anaknya. Sungguh perasaan yang luar biasa yang baru ia rasakan sekarang.
Bagi orang lain hal seperti ini memang nampak sepele. Tapi tidak bagi Gama. Ia terpisah dengan istri dan anak-anaknya cukup lama. Ini adalah kali pertama ia berada di dalam satu mobil bersama mereka. Dan itu benar-benar membuatnya sangat bahagia.
Setelah sampai dihotel, Gama segera menemui resepsionis untuk meminta kamar yang lebih besar, karna istri dan kedua anaknya ikut menginap. Awalnya sang resepsionis nampak ragu. Tapi setelah Gama terus menerus memohon, akhirnya mereka memberikan kamar lain yang lebih besar.
"tidak sesulit perkiraanku." bisik Gama saat mereka menaiki tangga untuk menuju ke lantai 4. padahal dia sudah menyeiapkam rencana cadangan tadi. kalau tadi tidak diizinkan, Gama akan memesan kamar yang ada disebelahnya, kemudian diam-diam dia bisa menyusup masuk kedalam kamar Ayyara. sungguh rencana yang sempurna bukan?
Hotel ini memang tidak memiliki lift, jadi mereka harus menapaki satu persatu anak tangga. Dan itu membuat Gama terus mengeluh sepanjang perjalanan. Rasanya dia pasti akan mengeluh saat kakinya melangkahi setiap anak tangga itu.
"aku akan membeli hotel ini. Dan aku akan membangun lift disini." dengus Gama saat mereka baru sampai di lantai tiga. Wajahnya sudah memerah karna lelah. Sepertinya keringat sudah mulai membasahi tubuhnya. Berkali-kali ia membenahi posisi Ana yang terus saja melorot. Karna kamarnya sebelumnya ada dilantai satu, jadi dia tidak harus menaiki tangga untuk kesana.
Bukan salah berat badan Ana yang hanya bebeberapa kilogram, tapi karna memang Gama tidak biasa membawa beban seberat itu. Berat badan Ana sudah membuatnya kewalahan menahan tangannya agar tidak terlepas.
Seperti inikah rasanya jadi orang tua? Melelahkan. Gumamnya dalam hati. Tapi ia bahagia bisa merasakan kelelahan ini walaupun mulutnya tak henti-hentinya mengomel.
__ADS_1
Ayyara yang mendengar omelah Gama hanya menggeleng sambil tersenyum saja. Lucu sekali rasanya melihat sisi cerewet Gama yang jarang sekali keluar.
Setelah perjuangan yang luar biasa berat, bagi Gama, akhirnya mereka sampai di kamar mereka. Membuat Gama bernafas lega. Dengan susah payah ia mengeluarkan kunci dari saku celananya. Ia berusaha bergerak seminim mungkin, karna ia tidak mau membangunkan Ana yang terlelap di bahunya.
Yang membuatnya kembali menggerutu adalah, kunci yang dengan susah payah ia keluarkan itu malah terjatuh ke lantai.
"biar aku saja." kata Ayyara sudah tidak sabar dengan sikap menggemaskan Gama. Ia meraih kunci itu dan dengan mudahnya membuka pintu dengan satu tangan. Sementara satu tangannya masih menahan Jun.
"Waow.." Gumam Gama. Ia takjub melihat Ayyara yang dengan satu tangannya itu mampu menopang berat tubuh Jun. Padahal dia sendiri merasa kewalahan dengan pengalaman barunya itu.
Mereka membaringkan Ana dan Jun dengan hati-hati. karna tidak ingin membuat si kembar terbangun. Setelah itu Ayyara membaringkan tubuhnya sendiri di pinggir tempat tidur. Ia juga merasa sangat lelah.
Ayyara tidak bisa memejamkan matanya. Karna tangan Gama mulai bergerilya di perutnya.
"sayang, apa kau tidak mau mandi?" tanya Ayyara mencoba mengusir Gama. Ia benar-benar lelah setelah mengurusi cafe yang sangat sibuk. Kemudian berlarian kesana kemari untuk mencari Ana. Tenaganya serasa sudah mau habis.
"tidak mau. air disini dingin sekali. Seperti es." tolak Gama. Tangannya terus saja menelusup ke dua benda kenyal yang sudah lama tidak ia sentuh.
"kan ada penghangatnya."
"tidak mau.."
Ayyara memilih diam saja dan tidak menanggapi Gama. Matanya semakin berat saja rasanya. Ia membiarkan Gama bermain dengan dadanya sepuasnya.
"sayang, apa kau sudah tidur?" tanya Gama.
"hmmm.."
"kau pasti sangat lelah."
Tidak ada jawaban. Perlahan Ayyara mulai bernafas dengan teratur. Sepertinya dia mulai masuk ke alam mimpi.
"tidurlah. Maafkan aku sudah membuatmu bekerja keras sendirian. Mulai saat ini aku yang benar-benar akan menjaga kalian. Aku akan membawa kalian pulang secepatnya. Ketempat kalian seharusnya berada." ucap Gama lirih. Kemudian ia mendaratkan kecupan hangat di kening Ayyara dan di kening si kembar. Lalu iapun mulai terlelap sambil membenamkan wajahnya di punggung Ayyara.
__ADS_1