
Perasaan sebal Ayyara terhapus seluruhnya dengan pelukan sepanjang malam dari Gama.
Dan pagi ini, dia merasa segar saat bangun pagi. Apalagi wajah yang pertama di lihatnya saat baru membuka mata adalah wajah suami tercintanya. Itu sudah cukup untuk mengisi ulang mood cadangannya yang akan dia gunakan hari ini.
Setelah Gama pergi ke kantor, Ayyara praktis menghabiskan waktunya hanya dengan menonton tv, atau membaca beberapa majalah di taman belakang.
Sepi. Karna si kembar masih berada disekolah. Dengan ditemani Dina dan Devi. Jadi tidak banyak orang dirumah. Hanya ada Bi Sulis yang selalu sibuk di dapur.
"Mama.!" panggil suara khas milik Jun.
Ayyara langsung sumringah saat kedua bocah itu berlari menghampirinya. Mereka baru saja pulang dari sekolah.
"Jun, kalau kau berlari seperti itu, kau bisa terjatuh nanti." kata Ayyara memberi pengertian dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Ayyara masih saja merasa bosan walaupun si kembar sudah ada dirumah.
"sayang-sayangku, apa kalian mau pergi bermain di mall?" tanya Ayyara. Tiba-tiba dia mendapat ide untuk menyingkirkan rasa bosan.
Ana dan Jun tentu saja mengangguk senang. Mereka jadi antusias mendengar ajakan itu.
Dan akhirnya, Ayyara merealisasikan rencananya. Dengan mengajak serta Dina dan Devi untuk membantunya menjaga si kembar. Dia tidak mau kewalahan dan kehilangan salah satunya.
Apalagi Ana. Keingintahuannya sangat besar. Jadi gadis cilik itu selalu menghilang jika Ayyara tidak memperhatikannya terus menerus. Dan di dalam mall yang tentu saja ramai oleh pengunjung, Ayyara tidak mau kehilangan Ana. Lagi.
Saat mereka sudah sampai di mall, Ayyara langsung menuju ke lantai 3, dimana terdapat perlengkapan untuk anak-anak. Termasuk mainan.
Ana dan Jun nampak sangat antusias. Mereka mengambil apapun yang mereka lihat dan memasukkannya ke dalam troli yang didorong oleh Devi.
Sementara Ayyara hanya mengikuti dan mengembalikan sebagian besar mainan itu kedalam raknya.
Setelah dari toko mainan, Ayyara menuju ke lantai 4 untuk membeli beberapa hadiah untuk Dina dan Devi, juga Bi Sulis dan Pak Totok, serta Toni. Dia membeli hadiah untuk semua orang yang bekerja dirumahnya.
Ayyara sedang melihat-lihat di deretan kemeja yang akan dia hadiahkan untuk pak totok. Saat netranya menangkap sosok yag sangat dia kenal.
Di toko yang sama, tepatnya disudut ruangan, Rini sedang memilih-melih sebuah gaun. Jantung Ayyara langsung berdetak kencang. Entah kenapa ia harus merasa sepert itu. Padahal ia tidak punya salah kepada mantan ibu mertuanya itu.
Ayyara ingin sekali langsung kabur dari tempat itu. Tapi saat ia mulai membalikkan badan dan mulai melangkahkan kakinya, Rini melihat kearahnya dan langsung mengenalinya.
“yara?!” Panggil wanita paruhbaya yang udah mulai beruban itu.
Ayyara ingin melanjutkan langkahnya saja. Sungguh, dia sangat tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi. Wanita yang sudah menghancurkan hidupnya. Dia tidak ingin terlibat dengan orang-orang di masa lalunya. Karna hal itu akan membuat lukanya kembali terbuka.
“yara!!” Tiba-tiba Rini sudah ada di samping a dan mencegahnya untuk keluar dari toko itu.
__ADS_1
“wah, kau sudah kembali rupanya.” Sungut Rini. Tatapannya masih sama seperti dulu. Sangat menjengkelkan.
“maaf, saya harus segera pergi.” Ujar Ayyara mencoba untuk tidak mempedulikan Rini.
“hei. Yara. DimAna sopan santunmu. Pantaskah kau bersikap seperti itu kepada mantan ibu mertuamu?” Ujar Rini. Rupanya dia merasa tersinggung karna Ayyara tidak mempedulikannya.
Perkataan Rini membuat Ayyara melihat kearah wanita itu.
“permisi, bu. Ibu hanya mantan mertua saya. Tidak harus bagi saya untuk menghormati ibu. Permisi.” Ucap Ayyara. Dia berusaha untuk tidak terpengaruh dengan pancingan Rini.
“yara.! Tunggu dulu. Ada yang ingin kusampaikan padamu. Soal Dafa.”
Ayyara semakin mengernyitkan keningnya.
“lucu sekali. Kenapa ibu mau berbicara tentang Dafa padaku? Kami sudah orang asing. Sudah punya kehidupan sendiri-sendiri.”
“apa kau tidak penasaran bagaimAna kehidupannya?”
“aku sama sekalitidak penasaran. Itu bukan urusanku lagi. Jadi jangan membahas dia denganku yang sama sekali tidak ada hubungannya.”
Ayyara ingin seger apergi dari hadapan wanita itu. Berlma-lama berada di tempat yang sama dengan Rini, membuat kenangan menyakitkanlnya mulai muncul kembali di kepalanya. Padahalbelakangan ini hidupnya sudah nyaman, sudah tenteram, tanpa ada yang mengganggu kebahagiaan keluarga kecilnya lagi. Tapi sekarang ia malah bertemu dengan Rini diwaktu yang tidak pernah ia duga. Diwaktu yang tidak pernah dia harapkan sama sekali.
“mama...” Panggil Ana. Gadis kecil itu berlari menghampiri Ayyara sambil mengulum permen gagang berbentuk kaki di mulutnya. Begitu juga dengan Jun yang sedang di gendong oleh devi. Ayyara langsung mengangkat Ana ke dalam gendongannya.
“ia sayang. Kita pulang sekarang ya.”
Hati Rini bak disambar petir. Saat melihat dua bocah kecil yang memanggil Ayyara dengan sebutan ‘mama’. Matanya menatap tidak percaya kepada Ayyara. Tidak, lebih tepatnya dia tidak ingin mempercayai apa yang ia lihat saat ini.
“apa.... Mereka Anak-Anak mu? Yara?” Tanya Rini terbata.
Selama ini Rini selalu menyangkal kebenaran tentang Dafa yang tidak mau menyentuh Ayyara saat mereka masih menikah. Ia meyakinkan dirinya bahwa Dafa sama sekali tdak bersalah. Tapi Ayyaralah yang sudah membuat kebohongan itu untuk menutupi aibnya sendiri. Dengan mengatakan bahwa Dafa tidak pernah menyentuhnya.
Tapi sekarang seolah keyakinannya itu hancur seketika saat melihat dua bocah imut yang menghampiri Ayyara.
“ya. Mereka adalah Anak-Anakku.” Jawab Ayyara tanpa ekspresi. Ia mendekap erat tubuh Ana seolah ingin melindunginya dari tatapan tajam milik Rini.
Rini hanya ternganga mendengar jawaban Ayyara. Jadi selama ini benar? Ayyara bukan tidak bisa memiliki keturunan, tapi Dafalah yang tidak mau menyentuh Ayyara? Begitu?
Seoalah tubuhnya baru saja terjatuh dari ketinggian, lutut Rini mulai melemas. Tapi ia masih mampu untuk menopang tubuhnya agar tetap berdiri walaupun dengan kaki dan tangan yang gemetaran.
“jadi,,, jadi,,,” Rini tidak mampu lagi menerusakan kata-katanya. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan.
“kalau begitu saya permisi dulu bu.” Ucap Ayyara lagi dan mulai membalikkan badannya dan hendak melangkah keluar.
__ADS_1
Mata Rini mulai berkaca-kaca. Seketika rasa penyesalan yang luar biasa menyeruak masuk memenuhi dadanya. Sehingga membuatnya sulit untuk bernafas. Dia merasa sudah menyia-nyiakan Ayyara. Menyalahkan Ayyara tanpa ampun. Rasa penyesalan itu mendorong airmatanya untuk keluar.
“Dafa meninggalkanku.” Ucapnya lirih. Entah, kenapa kata-kata itu yang justru keluar dari mulutnya. Dengan tangan yang gemetar Rini menyeka air matanya.
Ayyara menghentikan langkahnya kembalai. Rasa penasaran kini mulai memenuhi otaknya. Rasanya tidak mungkin kalau Dafa meninggalkan ibu yang sangat disanjungnya. Pria itu bahkan rela terjun ke lubang kotoran demi ibunya.
Rasa penasaran itu membuat Ayyara membalikkan tubuhnya. Ia terkejut saat melihat bekas air mata di wajah Rini.
“Dafa meninggalkanku yara. Dia bahkan tidak mau lagi menemuiku. Dia lebih memilih celine dari pada aku.” Rini sudah menyingkirkan rasa malunya akibat penyesalan yang luar biasa. Bahkan ia tidak merasa malu karna harus menceritakan hal itu kepada mantan menantunya.
Ayyara tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam kepada Rini.
“dia lebih memilih istrinya dibanding aku. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Menyekolahkannya supaya jadi orang yang sukses seperti sekarang.”
“apa ibu yakin?” Ayyara tidak bisa menahan diri untuk tidak menjawab.
Membut Rini terkejut dan menatap heran kepada Ayyara. “apa maksudmu?”
“apa selama ini ibu memang membesarkannya dengan kasih sayang seperti yang ibu bilang? Bukan karna ambisi ibu kepada Dafa? Karna aku tidak pernah melihatnya seperti itu.”
“yara....”
“Bu, aku melihat Dafa sebagai alat untuk memenuhi mabisi ibu. Bukan sebagai Anak. Apa itu juga karna kasih sayang ibu?”
“kenapa kau berkata seperti itu?” Tanya Rini. Ia merasa sangat tersinggung. Entah, mungkin karna apa yang diucapkan Ayyara itu adalah benar. Bahwa dia membesarkan Dafa sebagai alat untuk mencapai ambisinya.
Sebenarnya Ayyara tidak punya hak untuk mengguruiibu mertuanya seperti itu. Tapi ia pertanyaan itu sudah lama ia pendam. Dulu pertanyaan itulah yang selalu ingin dia tanyakan.
“Bu. Maaf kalau aku lancang mengatakan ini. Tapi Dafa bukanlah alat untuk mencapai ambisi ibu. Dia adalah putra Ibu. Biarkan dia mencari sendiri jalan mAna yang ingin dia lalui. Tanpa campur tangan dari ibu. Apalagi sekarang dia sudah beristri. Biarkan dia befikir bagaimAna caranya untuk membahagiakan Ibu dan juga istrinya.” Entah, darimana keberanian itu muncul. Sehingga membuat Ayyara terus membuka mulut.
“Anak memang tidak selalu benar, tapi begitu juga dengan orang tua kan bu? Cobalah menerima Dafa dengan tangan terbuka. Karna Dafa yang sekarang, adalah hasil karya ibu sendiri.”
Rini hanya termenung saja mendengar ocehan Ayyara. Hatinya sepenuhnya menyetujui perkataan Ayyara. Hatinya membenarkan bahwa selama ini dia membesarkan Dafa sebagai alat, bukan sebagai Anak.
“maaf kalau bicaraku menyinggung perasaan ibu. Aku hanya mengatakan pandanganku terhadap Dafa. Padahal belum tentu juga aku membesarkan Anak-Anakku dengan baik.” Ayyara tetap tidak melupakan sopan santunyya kepada wanita paruh baya itu.
“tidak, yara. Kau benar. Selama ini akulah yang salah. Semua ucapanmu adalah benar. Dan sekarang, aku menyadarinya saat sudah kehilangan semuanya. Berkatmu. Trimakasih yara. Dan juga, aku minta maaf padamu.” Ujar Rini. Kemudian melangkahkan kakinya keluar dari toko dengan tatapan kosong.
Rini menyadari kesalahannya. Ia sangat tau mungkin tidak akan mudah bagi Ayyara untuk memaafkan dirinya. Mengingat betapa banyak fitnah dan ucapan kasarnya kepada Ayyara, yang sudah pasti sangat menyakitkan baginya.
Kehilangan, membuat manusia menyadari letak kesalahan yang pernah di lakukan. Jadi, jangan menunggu kehilangan dulu baru menyesal. Mulailah intropeksi diri sendiri. Jangan melulu menyalahkan orang lain. Tamparan yang sangat meyakitkan bagi Rini.
Ayyara menatap punggung lunglai Rini yang mulai menjauh. Entah, dia sendiri tidak yakin kalaukelancangannya menasehati mantan ibu mertuanya itu adalah tindakan yang tepat. Entah kenapa dia merasa tidak enak hati.
__ADS_1