
Selama empat tahun ini, Gama hanya menghabiskan hari-harinya untuk mencari keberadaan istrinya. Dia bahkan sudah berkeliling keseluruh penjuru Indonesia. Jika ada sedikit saja petunjuk tentang Ayyara, maka ia akan langsung pergi saat itu juga.
Ia telah meminta Arfan untuk membantu Papanya mengurusi perusahaan. Tuan Gundala tepaksa kembali dari pensiunnya karna ia tidak tega melihat putranya itu menghancurkan diri sendiri. Ia kembali memegang kendali perusahaan dan membiarkan Gama mencari istri dan anaknya kemanapun ia mau.
Keadaan Gama semakin berantakan. Ia sudah tidak mengurusi penampilannya lagi. Fokusnya adalah ia bisa segera menemukan istri dan anaknya.
Gama sedang berada di kota medan. Melanjutkan petualangan pencarian cintanya. Saat Arfan menelfon dan memberitahu kalau tuan Gundala sedang tidak enak badan.
"yasudah. Aku yang akan mewakilinya pergi ke acara itu." jawab Gama kemudian ia menutup telfonnya dan melanjutkan tidurnya dikamar suite hotel miliknya yang ada di kota itu.
Pagi-pagi sekali Gama menyuruh manajer hotel untuk mencarikannya sebuah tranportasi menuju ke sebuah kota kecil yang akan dia kunjungi menggantikan sang Papa. Tapi si manajer bilang bahwa hanya ada transportasi darat jika ingin pergi ke kota itu.
ah.. Benar juga. Kan bandaranya sedang dibangun. Gumamnya dalam hati.
"yasudah. Siapkan mobil dan supir untukku." perintah Gama lagi.
GD Group bekerja sama dengan pemerintah untuk pembangunan jalur transportasi udara di kota-kota yang terpencil. dan hal itu mewajibkan perwakilan dari GD Group harus datang di acara pembukaan bandaranya. Biasanya tuan Gundala yang akan menghadiri acara-acara tersebut. Tapi sekarang berhubung tuan Gundala sedang tidak sehat, jadi lah Gama yang harus pergi. Lagipula jaraknya dekat dengan dirinya saat ini. Hanya satu malam dengan naik mobil dari kota medan.
Seperti yang direncanakan. Ia pergi dengan mobil saat malam hari. Sepanjang perjalanan Gama hanya tertidur di kursi belakang. Bahkan Gama tidak menyadari saat mereka tiba di kota kecil itu. Tidurnya benar-benar nyenyak sekali.
Kedatangannya langsung disambut antusias oleh pejabat daerah setempat. Mereka mengenal siapa Gama. Dan mereka sudah menyiapkan hotel untuk ditinggali oleh Gama. Hotel paling mewah yang ada di kota ini. Tidak semewah hotel-hotelnya yang tersebar si seluruh penjuru negri sih, tapi cukup nyaman untuk beristirahat selama beberapa hari.
Acara peresmian pembukaan bandara baru akan dilaksanakan esok hari. Jadi hari ini Gama tidak ada jadwal. Jadi ia memutuskan untuk berkeliling mencoba kuliner yang ada di kota ini.
Ia dengar, yang paling terkenal dari kota ini adalah kopinya. Kopi Gayo yang sudah terkenal hingga ke manca negara. Gamapun tidak sabar untuk mencicipi kopi khas Gayo itu. Kemudian mengajak sang supir untuk berkeliling mencari cafe yang menyajikan kopi yang enak.
__ADS_1
Dan tibalah Gama di sebuah cafe yang lumayan besar. Dengan tulisan J & A Cafee. Entah kenapa cafe ini membuatnya tertarik. Padahal sudah puluhan cafe yang dia lewati dan tidak ada yang menarik perhatiannya.
"kita mampir di cafe itu. Pengunjungnya ramai sekali. Pasti enak." perintah Gama kepada supirnya.
Sang supirpun segera memarkirkan mobil di depan cafe. Gama segera turun. Ia membenahi kaca mata hitam dan topinya. Untuk menutupi rambut gondrongnya yang sudah malas dia urus.
Diapun segera ikut mengantri. Dan setelah 15 menitan mengantri, akhirnya Gama sudah bisa masuk kedalam Cafe itu. Salah seorang kayawan menunjukkan kursi yang bisa ia duduki. Sebuah kursi yang ada si pojok dekat dengan play ground khusus anak-anak untuk bermain. Iapun segera duduk disana sambil menunggu pesanannya.
"iya Pa. Aku sudah tiba.... Iya, mereka menyambutku dengan sangat baik disini.... Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Papa cepat sembuh ya." ucap Gama di telfon.
Setelah berbincang-bincang sedikit dengan Papanya, Gama menutup sambingan telfon itu dan menyimpan ponselnya di saku celananya.
"anda mau pesan yang lain tuan?" tanya seorang pelayan pria dengan perawakan yang tinggi dan berbadan besar itu sambil meletakkan segelas kopi di hadapan Gama.
Pandangan Gama terpaku pada asap kopi hitam yang mengepul dari gelas bening itu. Ia ingin segera meminumnya dan kembali ke hotel. Tapi rasanya kopinya masih sangat panas. Jadi ia mengurungkan niatnya dan menunggu kopinya agak dingin.
Ponsel Gama kembali bergetar. Itu telfon dari Maya. Ia hanya mendengus saja tanpa mempedulikan panggilan itu.
Ada apa lagi dia menghubungiku? Batinnya.
Ponselnya terus bergetar. dan akhirnya Gama terpaksa mengangkatnya. Maya benar-benar jadi pengganggu.
Maya dan keluarganya benar-benar hancur. Dian, adik Maya yang terlibat dengan kecelakaan kedua orang tua Ayyara kini sudah berada di balik jeruji besi. Maya sendiri yang menjebloskan adiknya itu ke penjara. berniat untuk menyingkirkan adik bodohnya itu selamany.
Ayah Maya juga sedang berada di penjara karna ia memanipulasi saham perusahaannya dan sudah menipu banyak orang. Tentu saja ini adalah pembalasan dari Gama.
__ADS_1
Dan Maya. Wanita iblis itu sudah menerima ganjarannya. Ia kehilangan statusnya sebagai putri keluarga Wira. Dia sudah benar-benar dibuang dari keluarga itu dan sekarang bekerja sebagai penyapu jalanan. Tapi dengan tidak tau malu, ia terus menemui dan menelfon Gama, memohon kepada pria itu untuk mengembalikan harta dan perusahaannya. Tentu saja Gama tidak akan pernah melakukan hal itu.
"ada apa?!" jawabnya ketus.
"Gama. Kok jawabnya begitu?" ternyata suara Mamanya yang ada diujung telfon.
"oh.. ma.." ralatnya kemudian. Ia melihat nomor yang tertera di layar ponselnya ternyata itu adalah nomor Nyonya Gundala.
"apa kau baik-baik saja nak?" tanya Nyonya Gundala dengan nada khawatir.
Ya. Sejak kepergian Ayyara, tidak ada seharipun dia tidak mengkhawatirkan putranya itu. Kondisi Gama benar-benar berantakan. Ia sudah menyuruh Gama untuk kembali ke villa. Agar ia bisa mengurus serta mengawasi putranya itu. Tapi Gama tidak mau dengan alasan ia tidak bisa meninggalkan rumah yang dipenuhi oleh kenangan bahagianya bersama dengan istrinya. Dan hal itu membuat Nyonya Gundala bertambah khawatir.
"aku baik-baik saja Ma. Tidak perlu khawatir."
Tidak. sebenarnya Gama tidak baik-baik saja. Rasa rindunya terhadap Ayyara kini sudah menggunung dihatinya. Entah bagaimana ia akan menghancurkan gunung itu agar ia bisa kembali bernafas.
"pulanglah. Kami merindukanmu nak." rayu Nyonya Gundala.
"iya Ma. Nanti kalau aku mau aku akan pulang." jawab Gama santai. Sedangkan Nyonya Gundala hanya mengelus dada mendengarnya.
Itu adalah jawaban rutin Gama jika orang tuanya menyuruhnya pulang.
"kamu ini. Hati-hati disana. Jangan sembarangan di tempat asing." pesan Nyonya Gundala.
"baiklah Nyonya Gundala. Aku mengerti. Sudah dulu ya. Kopiku sudah dingin." kata Gama lagi kemudian menutup telfonnya secara sepihak.
__ADS_1