
Ayyara menceritakan semua kejadian yang dia lalui hari ini kepada Gama. Pria itu hanya manggut-manggut saja mendengarnya. Ia terus mendekap tubuh istrinya itu dalam lengannya sambil mengelus-elus kepalanya.
“apa menurutmu aku terlalu kurang ajar berani menggurui orang tua?” Tanya Ayyara.
“tidak. Kamu hebat sudah seberani itu. Ambil baiknya saja. Barangkali dia memang butuh disadarkan seperti itu.”
Tapi tetap saja. Ayyara merasa tidak enak hati.
“sayang, sudahlah. Jangan difikirkan lagi. Anggap saja itu sebagai sikap wajar yang memang seharusnya begitu.” Kata Gama menyadari kegelisahan istrinya.
“tapi sayang...”
“sssttt,, sudah. Tidurlah.” Kata Gama dengan mengeratkan pelukannya.
***
Pagi yang seperti biasa. Tapi terasa lebih istimewa karna kehadiran Tuan dan Nyonya Gundala dirumah mereka.
Ayyara sedang menyuapi Ana, sedangkan Gama sedang bermain bersama Jun di depan akurium raksasa. Dua pria yang paling Ayyara sayangi nampak sangat bahagia, dan akur tentu saja. Sementara Tuan dan Nyonya Gundala tengah menikmati secangkir kopi sambil membaca koran di teras samping.
“Nyonya..”
Suara Arfan mengagetkan Ayyara. Huh,, ia tidak suka ini. Saat Arfan datang kerumah mereka di hari libur begini, sudah bisa dipastikan tujuannya adalah ‘memaksa’ suaminya untuk bekerja. Memikirkannya saja sudah membuat Ayyara merengut sebal.
“Arfan. Bisakah kau biarkan suamiku libur hari ini? Kami sangat ingin menghabiskan waktu bersama. Anak-Anaknya membutuhkannya. Aku juga membutuhkannya.” Dengus Ayyara berlebihan.
Biar saja berlebihan. Dia benar-benar tidak bisa tinggal diam saja saat setiap hari libur si Arfan selalu merebut suaminya. Seolah dari senin sampai sabtu belum cukup untuk bekerja.
__ADS_1
Arfan hanya mengernyit heran. Tidak megerti dengan maksud Ayyara menyindirnya sedemikian rupa.
“hari ini kau mau mencuri suamiku lagi kan?” Hardik Ayyara masih menatap tajam kepada Arfan yang ternganga mendapat tuduhan sepihak dari Ayyara.
“ehm,, Nyonya. Saya,, saya..” Tatapan Ayyara membuat Arfan mati kutu. Membeku, tidak berani menjawab. Walaupun tuduhan Ayyara itu sama sekali tidak benar. Memangnya dia siapa sampai berani-beraninya mencuri Gama???
“kenapa Fan? Apa ada masalah lagi?” Tanya Gama menghampiri meja makan. Pertanyaannya mengakhiri perang dingin antara Arfan dan Ayyara.
“tidak Tuan, bukan itu. Saya hanya ingin memberi ini.” Kata Arfan sambil meletakkan sebuah kartu undangan yang berdesain elegan.
“undangan? Dari siapa?” Tanya Ayyara curiga. Ia langsung membuka undangan itu tanpa menunggu jawaban dari Arfan.
“apa ini??! Kau mau menikah?” Teriak Ayyara tidak percaya saat membaca nama arfan dan dewi tertera di sana. “minggu depan?!”
“minggu depan?” Taya Gama ikut tidak percaya. Masalahnya Arfan sama sekali tidak pernah memberitahunya tentang rencana pernikahannya
“waaah,, tega sekalikau Fan, baru memberitahu kami.” Dengus Ayyara tidak terima.
“menunggu kepulanganku? Apa hubungannya denganku?” Ayyara bertabah heran.
“karna sejak anda pergi, saya terlalu sibuk mengurusi perusahaan karna si empunya tidak mau mengurusi perusahaan dan meyerahkannya kepada saya,,, Tuan Gama terlalu berlarut-larut dalam keedihan.” Jelas Arfan lagi sambil melirik kearah Gama. “jadi saya belum punya waktu untuk mengurusi pernikahan saya sendiri.”
Gama yang mendengar penjelasan Arfan langsung melotot kepada arfan. Bola matanya hampir saja keluar dari tempatnya.
“sialan kau Fan.!” Maki Gama. Yang menerima makian hanya terkekeh saja.
“baiklah. Seperti janjiku padamu dulu. Aku akan memberikan kado pernikahan yang tidak akan pernah kalian lupakan. Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahanmu ya Fan, dan selamat datang di dunia kerepotan sekaligus kenikmatan yang menyenangkan.” Seloroh Gama sambil mengernyingkan sebelah matanya kepada Arfan.
__ADS_1
Arfan tidak mengerti apa maksud dari ucapan Gama padanya. Kerepotan sekaligus kenikmatan? Apa maksudnya?
“jangan menakut-nakuti calon pengantin baru sayang, nanti dia ketakutan dan malah kabur, bagaimana?” Ayyara tidak tinggal diam.
Seolah mereka tidak pernah puas untuk mengejek si calon pengantin baru. Membuat wajah arfan memerah.
"kalau begitu saya permisi dulu Tuan. Silahkan menikmati hari libur anda. Saya tidak jadi mencuri Tuan Nyonya, jadi anda bisa lega sekarang.” Balas Arfan.
Sebelum Ayyara melemparkan piring bekas makanan Ana, Arfan segera mengambil langkah seribu keluar dari rumah itu sambil terus terkekeh. Jarang-jarang dia bisa membalas ejekan dari mereka.
“dasar, si Arfan. Sayang, apa kau tidak bisa mengusirnya saja keluar negeri sana? Dia benar-benar membuatku kesal. Lama-lama dia itu menyebalkan.”
“jangankan keluar negeri, aku bahkan bisa mengirimnya keluar angkasa kalau ibu negara yang memberi perintah. Hehehehe”
“sayang....! Kau sama menyebalkannya!” Dengus Ayyara kesal.
Gama hanya tertawa senang mendengar kekesalan Ayyara. Baginya Ayyara nampak sangat lucu jika sedang marah. Apalagi saat wajahnya memerah karna menahan malu karna ejekannya.
“biarkan saja sayang. Sebentar lagi dia akan memasuki dunia dimAna dia pasti akan memohon ampun padamu. Kurasa dia belum tau betapa menyebalkannya si dewi itu.”
Ya, dalam hati Ayyara mengutuk Arfan. Semoga saja Dewi membalaskan kekesalannya nanti.
Hari itu mereka habiskan dengan bercanda dan bercengkerama di taman belakang. Mengajari Ana dan Jun berenang dengan instruktur renang yang sudah mereka minta datang kemarin.
Setelah ini, semoga saja tidak ada lagi yang mengganggu ketentraman keluarga kecil mereka. Semoga saja hanya akan ada kebahagiaan di depan mereka.
Membesarkan kedua buah hati mereka tanpa ada ganngguan dari orang-orang yang menaruh rasa iri kepada mereka. Sehingga mereka bisa terus merajut kegahagiaan ditengah kehangatan keluarga kecil yang tengah mereka bina.
__ADS_1
Sejuta harapan baik selalu terselip dalam doa Gama. Agar dia bisa terus membahagiakan istri dan buah hati mereka sampai maut memanggilnya. Dia akan terus memberikan yang terbaik bagi mereka. Memberikan cinta terbaik, perhatian terbaik, dan kehidupan terbaik pula. Hanya untuk keluarganya.
...*Selesai*...