
Gama terus saja menekuk wajahnya saat memasuki sebuah gerbong kereta api yang penuh sesak. Tapi dia tidak melepaskan tangan Ayyara dari genggamannya. Di depannya, Arfan sedang berjalan sambil mencari tempat duduk mereka. Di deretan paling belakang ada Pak Ito yang juga sedang mencari tempat duduk yang tertera di tiketnya.
Hufh.! Gama mendengus perlahan. Hawa panas mulai merasuk ke dalam gerbong. Suasananya sangat riuh sekali. Hembusan angin dari pendingin udara tidak mampu membuat Gama merasa nyaman.
Tapi tidak dengan Ayyara. Dia merasa sangat bersemangat. Walaupun tubuhnya mulai berkeringat, tapi dia tidak merasa terganggu dengan hal itu.
“Tuan, ini tempat duduk Anda.” kata Arfan memberitahu. Gama segera menjatuhkan diri di tempatnya. Dan disusul oleh Ayyara. Sedangkan Arfan duduk di bangku samping mereka bersama dengan Pak ito.
Ini akan jadi malam yang panjang... Gerutu Gama dalam hati.
Gerbong kereta ekonomi dengan segala keseruannya.
Mencoba mengalihkan perasaan tak nyaman, Gama memilih bermain dengan ponselnya. Sedangkan Ayyara memakan camilan yang dia beli di stasiun tadi.
Kursi di hadapan mereka kosong. Tidak ada yang menduduki. Itu sengaja dilakukan Gama untuk memberi mereka ruang, agar tak terlalu sempit dan nyaman untuk Ayyara.
Gerbong mulai bergerak. Gama berdoa dalam hati, mudah-mudahan malam ini cepat berlalu. Wanita disampingnya nampak semakin antusias sambil terus mengunyah.
“Sayang, kau mau?” Ayyara menawarkan sebungkus keripik kentang kepada suaminya.
“Tidak. Untukmu saja.” tolak Gama. Wajahnya masih saja masam.
“Yasudah kalau tidak mau.” dengus Ayyara kesal.
Gama meluruskan kakinya dengan menaruhnya di kursi di hadapannya. Ia berencana untuk memejamkan matanya saja. Hatinya benar-benar sedang kesal. Tapi ia tak berani menunjukkannya kepada ‘Ibu Negara’ yang duduk disampingnya. Takut kena semprot.
Sudah setengah perjalanan, tapi kantuk Gama tak juga datang. Usahanya untuk memejamkan mata malah membuat matanya perih dan memerah. Sedangkan si bumil, sudah terlelap dibahunya sejak tadi.
Saat matanya baru saja terlelap, tiba-tiba terdengar jeritan seorang bayi yang sangat kencang dan langsung membuat Gama terkejut dan gelagapan. Nyawanya seperti hampir melewati tubuhnya saat kembali. Nafasnya menjadi tidak teratur.
Setelah hampir setengah jam kemudian, si bayi sudah mulai tenang. Dan rasa kantuknya kembali datang. Tapi telinganya tak mau diajak kompromi. Walaupun matanya terpejam, telinganya masih saja mendengar segala suara.
Ayyara mengalihkan tubuhnya. Memeluk erat suaminya yang masih susah terpejam. Dan yang tidak diduga Gama adalah tangan Ayyara yang jatuh tepat diatas junior yang sedang tertidur lelap. Hal itu tentu saja membuat si junior terkejut dan langsung terbangun. Ditambah dua benda kenyal kesukaan Gama kini menempel di lengannya. Lengkap sudah penderitaan Gama malam ini.
Sialan.!
Makinya dalam hati. Dia mulai menoleh kesegala arah. Takut kalau aksi junior yang membengkak itu di lihat oleh seseorang. Untung saja orang-orang sudah terlelap. Kemudian ia menutupi junior yang membengkak di balik celananya dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Dengan perasaan geram Gama mencoba menenangkan junior dengan menarik nafas dalam-dalam. Bisa-bisanya junior terbangun dalam keadaan seperti ini? Ah,, ternyata penderitaan Gama belum cukup.
Setelah berhasil menidurkan junior, Gama kembali membuat tubuhnya nyaman dengan bersandar. Dan akhirnya ia berhasil masuk kealam mimpi.
Didalam mimpi, Gama seperti sedang berada disebuah atap gedung yang menjulang tinggi. Tapi tiba-tiba saja gedung itu berguncang dengan hebatnya. Membuat tubuhnya juga ikut terguncang. Dan ia merasa seperti ada sebuah benda yang mengenai kepalanya dan membuatnya terkejut.
Astaga.! Pekiknya dalam hati. Mimpinya itu terasa sangat nyata. Ia merasakan sakit dikepalanya. Kemudian ia mengusap kepalanya itu dengan tangannya.
“Sakit ya sayang? maaf. Habisnya kau tidak juga terbangun, padahal aku sudah mengguncang-guncang tubuhmu dengan keras.” jelas Ayyara dengan tatapan datar tanpa rasa bersalah.
Ternyata kepala Gama terantuk di jendela kaca kereta. Pantas saja sakitnya terasa nyata.
AAAAAAAAAAAAAAA.!!!! teriak Gama dalam hati.
Ulah si bumil ini memang tak ada habisnya. Batin Gama menahan geram. Dia hanya ingin tertidur dan terbangun saat sudah sampai di jogja. Begitu sulitkah?
“Ada apa lagi?” tanya Gama tak berani marah.
“Antarkan aku ke kamar mandi. Aku sesak pipis sayang..” pinta Ayyara dengan wajah polosnya. Dia tidak menyadari wajah sebal disampingnya.
“Kan bisa sendiri sayang. Kamar mandinya ada disitu.” jawab Gama sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang letaknya tak jauh dari kursi mereka.
“Kesitu saja kok tidak berani sih? lampunya terang benderang begitu.” tolak Gama dengan halus.
“Nanti kalau ada orang jahat bagaimana?” seloroh Ayyara kemudian.
Orang jahat darimana?! Gama bahkan bisa melihat pintu kamar mandi dari tempatnya duduk. Padahal dia sendiri yang meminta naik kereta api kelas ekonomi yang ramai. Kok sekarang malah takut ada orang jahat? fikiran bumil suka aneh-aneh.
“Mana ada orang jahat sih sayang. Aku akan mengawasimu dari sini. Ya?” Gama bernegosiasi. Menurutnya, ketakutan Ayyara sama sekali tak masuk akal.
"Tidak mau. Temani aku.." Ayyara memaksa Gama Dengan tatapan kesedihan khasnya.
Hufh.. Sabar.. Sabar.. Gama menyemangati diri sendiri.
Dia bangkit dari duduknya dengan mendengus terpaksa. Kemudian menuruti Ayyara dan mengikuti si bumil ke kamar mandi.
Dengan menahan rasa kantuk yang teramat sangat, Gama dengan setia menunggu di depan kamar mandi. Berkali-kali dia menguap. Matanya terasa sangat berat. Seperti Ada sesuatu yang bergelantungan dikelopaknya.
__ADS_1
Sudah hampir 20 menit, tapi Ayyara belum juga keluar dari kamar mandi.
Tok,, tok,, tok,,
"Sayang, kau baik-baik saja? Kenapa lama sekali?" bisik Gama dari luar pintu kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka, Ayyara muncul dari dalam dengan wajah yang masam.
"Kenapa?" tanya Gama.
"Sayang, aku sakit perut, tapi tidak bisa keluar. Bagaimana ini?"
"Kenapa bisa?"
"Aku tidak tau, didalam aku takut sekali, aku takut kau meninggalkanku dan kembali ke tempat duduk. Aku takut membayangkan disini sendirian"
Astaga.! Penderitaan Gama ternyata masih berlanjut.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menunggu disini. Masuklah lagi." kata Gama berusaha menyembunyikan suaranya yang bergetar karna Menahan jengkel.
Sepertinya ini akan jadi kali pertama dan terakhir dia naik yang namanya kereta api.
Dengan wajah yang khawatir, Ayyara menutup kembali pintu kamar mandi. Tapi sedetik kemudian dia membukanya lagi. Mengintip jika Gama masih ada disana. Dia langsung tersenyum saat melihat Gama masih berada ditempatnya.
Mata Gama semakin tak bisa ditahan. Ia bahkan sudah tak bisa membukanya dengan sempurna. Perlahan Gama tersuduk di sebelah pintu toilet karna Ayyara terus saja memanggilnya. Kemudian dia menekuk lutut dan melipat lengannya di atasnya.
Dan, tertidurlah dia.
Seorang Gama Maziantara Gundala, tertidur dengan posisi menyedihkan di samping pintu toilet sebuah gerbong kereta api kelas ekonomi.
Sungguh tragis.
.
.
.
__ADS_1
sambil ngakak+kasihan, dipersilahkan vote nya yaaaa...😘😘
💃💃🤣🤣