
“Wah,,wah,,wah,, ada angin apa yang membawa Nyonya muda Gundala datang menemuiku?” Tanya maya dengan senyum sinisnya.
Walaupun sikapnya angkuh, tapi dia tetap terlihat anggun. “silahkan duduk,, Nyonya..” Kata maya lagi. Dia sengaja menekankan kata Nyonya.
Mendengar sindiran yang terus menghunjam telinganya, Ayyara memilih diam dan kemudian duduk di sofa.
“seperti biasanya, kau belum berubah Maya.” Balas Ayyara.
“aku sama sekali tidak berniat untuk berubah. Katakan, kenapa kau ingin menemuiku?” Tanya Maya, kali ini ia menatap Ayyara dengan tajam.
“pertemukan aku dengan adikmu, Dian.” Ayyara tak mau berbasa basi. Ia langsung saja mengatakan tujuannya menemui Maya.
“apa? Kenapa kau ingin menemuinya? Apa kau mau bersekongkol dengannya untuk melawanku?” Picik sekali fikiran Maya.
“aku hanya ingin meninju wajahnya, dan menuntut permintaan maaf darinya.”
“permintaan maaf? Apa dia melakukan sesuatu padamu?” Tatapan mata maya langsung berbinar, sudah lama ia mengharapkan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyingkirkan adik bodohnya itu. Sepertinya ini adalah kesempatannya. Ia menurunkan kakinya yang sebelumnya di silang, dan mencondongkan tubuhnya kearah Ayyara. Ia bersemangat ingin segera mendengarnya.
“dia sudah membunuh kedua orang tuaku.” Ucap Ayyara lirih. Menahan rasa marah yang bercampur sedih.
“bisa kau jelaskan lebih rinci?” Maya semakin bersemangat.
“aku tidak berniat memberitahumu rinciannya. Beritahu saja dimana dia?” Ayyara menekankan nada suaranya. Ia membalas tatapan tajam mata Maya.
“entahlah, aku juga tidak tau, kudengar dia sedang liburan keluar negeri.” Jawab Maya, ia kembali bersandar di sofa dan menyilangkan tangannya di dadanya. Sedikit informasi dari Ayyara itu sudah lebih dari cukup untuknya. Dia bisa dengan sangat mudah mencari tahu cerita selanjutnya.
Mendengar jawaban Maya yang nampak santai, Ayyara mengernyitkan dahinya. Kenapa dia tidak panik? Batin Ayyara.
“apa yang kau harapkan dengan menemuiku Yara? Apa suamimu tau kalau datang kemari?” Pancing Maya.
“tidak usah mengalihkan pembicaraan Maya. Aku datang hanya untuk bertemu dengan Dian. Jadi katakan saja dimana dia?”
__ADS_1
“Yara,, Yara, kau ini bodoh atau terlalu pemberani? Sepertinya kau juga tidak memberitahu Gama. Aku bisa membayangkan seperti apa suamimu jika dia tau kau datang kemari.” Maya terus saja memancing emosi lawan bicaranya.
Gigi-gigi Ayyara mulai gemeretakan. Maya terus saja mengalihkan pembicaraan. Dan Ayyara berusaha keras untuk tidak terpancing.
“Maya.!!” Bentak Ayyara. Kesabarannya hampir habis.
“baiklah,, baiklah,, dia ada dinegara B, sedang berlibur bersama dengan tunangannya. Aku tidak akan menyembunyikannya darimu Yara. Dengan senang hati aku akan membantumu jika menyangkut dengan Dian.” Maya tak bisa menahan senyumnya. Ia senang sekali.
“apa maksudmu?”
“aku juga membencinya, sama sepertimu. Aku ingin dia menghilang dari hadapanku. Trimakasih karna sudah memberiku alasan untuk menyingkirkan adik bodohku itu.” Dengus Maya bahagia. Dia adalah psikopat yang sesungguhnya.
Gila.! Itu hal pertama yang terlintas difikiran Ayyara. Lawan bicaranya itu benar-benar bukan wanita sembarangan. Auranya sangat mengerikan. Tatapannya, penuh dengan kebencian.
“kau benar-benar wanita yang mengerikan Maya.” Gumam Ayyara. Maya yang mendengar makian itu malah tertawa terbahak-bahak.
“hahahaha.. Apa kau baru menyadarinya sekarang? Aku juga bisa menyingkirkanmu. Apa itu juga kau baru menyadarinya?”
“dasar gila.! Kau tidak akan bisa mencelakaiku Maya. Aku jauh lebih berani dari dugaanmu.” Dengus Ayyara.
Sontak Ayyara memeluk perutnya sendiri. Ingin melindungi yang ada didalamnya. Dia sadar, sangat sadar, bahwa Maya bisa saja membahayakan dirinya dan janinnya. Keringat dingin mulai membasahi tengkuk Ayyara. Untuk sesaat, dia merasa ketakutan. Ia menatap tajam kepada Maya.
“aku berterimakasih karna kebodohanmu itu Yara. Dengan sukarela kau datang kesini. Apa kau sengaja ingin menunjukkan kelemahanmu itu? Dengan senang hati aku akan menanggapinya.” Maya tersenyum licik. Membuat bulu kuduk Ayyara berdiri.
“apa yang akan kau lakukan?” Ayyara semakin meringsut.
“hah.! Serahkan Gama padaku, dan aku, akan membiarkan dia melihat dunia..” Kata Maya seraya menunjuk ke perut Ayyara.
Semakin didengarkan, Maya semakin meracau tak jelas. Membuat Ayyara tidak bisa lagi membendung amarahnya. Dia bangkit berdiri dengan wajah yang merah padam.
Plak.!!!
__ADS_1
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Maya. Membuat wanita itu terkejut bukan main. Matanya melotot kearah Ayyara yang berdiri dihadapannya dengan wajah yang merah padam
“apa yang kau lakukan?!!! Berani sekali kau menamparku?!!” Maya berang. Dia marah dengan sikap tak terduga dari Ayyara.
“heh.! Apa kau fikir aku sebodoh itu Maya? Jangan melihatku dari luarnya saja. Aku sudah bilang padamu, Aku ini, jauh lebih berani dari yang kau kira. Kau bisa melakukan apa saja padaku? Tentu saja, mengingat kau wanita gila yang haus akan uang. Tapi kau harus tau, aku juga bisa melakukan hal yang serupa padamu. Aku bisa menjadi lebih kuat jika ada hal yang ingin kulindungi. Dia,, bukan kelemahanku, tapi kekuatanku.” Kata Ayyara mengelus perutnya.
“aku bukan wanita lemah yang bersembunyi di balik kekuasaan suamiku. Aku bisa menghancurkanmu sampai berkeping-keping. Aku juga bisa membuatmu kehilangan uang yang sangat kau puja-puja itu. Camkan hal ini baik-baik.”
Maya memegangi pipinya, sambil menggeretakkan gigi-giginya. Ia sangat marah dan merasa sangat terhina. Seharusnya dia yang menampar Ayyara, seharusnya dia yang membuat Ayyara ketakutan dengan ancamannya.
Tatapan mata Ayyara, sangat berbeda dari sebelumnya. Maya bisa melihat mata bulat bening itu dipenuhi dengan kewibawaan yang luar biasa. Entah kenapa dia merasa terintimidasi. Selama ini dia berfikir kalau Ayyara adalah wanita yang lemah. Tapi ternyata dia salah besar. Saat melihat tatapan dan nada bicara Ayyara yang penuh penekanan, sepertinya Ayyara sangat mampu melakukan apa yang baru saja dia ucapkan. Dan itu membuat Maya meringsut ketakutan.
Melihat sikap baik Ayyara yang keterlaluan, orang pasti akan mengira dia sedikit bodoh. Tapi tidak, dia hanya baik kepada kisah masa lalunya saja. Karna dia tidak mau memendam dengki dihatinya. Karna ia lebih memilih menjauhi masalah. Menyimpan dengki dihatinya hanya akan membuat hatinya terluka untuk waktu yang lama. Sedangkan Ayyara ingin segera sembuh bersama dengan masa depannya. Bersama dengan buah cintanya dengan sang suami, Gama.
Tapi akan berbeda kasusnya jika menyangkut dengan masa depannya. Apalagi Maya terus mengancamnya. Tentu saja dia tidak bisa tinggal diam.
“jangan terkejut seperti itu Maya.! Aku baru mengeluarkan separuh keberanianku. Jadi, jangan terus memancingku. Atau aku akan benar-benar membuatmu ketakutan karna kehilangan kekayaanmu. Kau pasti befikir kalau uang merupakan kekuatanmu kan? Karna kau bisa melakukan apapun dengan uang. Tapi aku tidak melihatnya begitu. Aku melihat uang merupakan kelemahan terbesarmu. Jadi kalau kau tidak ingin kehilangan semua itu, jangan berfikir lagi untuk menggangguku.”
Kata-kata tajam terus saja di lontarkan Ayyara. Dia sama sekali tidak meninggikan suaranya saat mengeluarkan ancamannya, tapi nada penuh penekanan itulah yang membuat wajah Maya semakin pucat pasi.
.
.
.
yeay.!!🎉💃💃💃
libur tlah tiba,, libur tlah tiba,, (gak usah ikut nyanyi..)😅
hari minggu yang dijanjikan.. selamat yaa buat pemenang top fans minggu ini.
__ADS_1
ayooo yang lain,,cepetan vote,like,komen, dan beri hadiah lagi..
otak mak udah siap keriting lagi nih..🙃🙃