
Ayyara sedang asyik mengerjakan pekerjaannya. ia nampak serius sekali memandangi layar laptopnya. sampai-sampai tak melihat kalau Nia sudah dari tadi berdiri si depan mejanya.
"serius amat kak.!" celetuk Nia mengejutkan Ayyara. sontak ia melihat kearah Nia.
"sejak kapan kau disitu?" tanya Ayyara heran, karna ia tak menyadari kedatangan Nia. namun cuma sebentar, Ayyara kembali melanjutkan pekerjaannya.
"kak Yara,, main yukk,, sudah lama kita tidak jalan-jalan." ajak Nia.
"tidak bisa Nia, aku sedang banyak pekerjaan." tolak Ayyara dengan halus.
"kak Yara belakangan sibuk sekali ya? apa kak Yara sudah pindah rumah? kenapa rumah kak Yara selalu kosong? beberapa kali aku kesana tapi kak Yara tak pernah ada dirumah. kemarin juga aku dari sana, dan kakak juga tak ada disana." selidik Nia.
"oh,, itu,, aku,, aku,,"
"apa yang kak Yara sembunyikan?" Nia menatap tajam kepada Ayyara. ia curiga karna Ayyara terbata.
Ayyara ingin sekali memberitahu Nia kalau dirinya sudah menikah. tapi ia tidak yakin.
"Nia.. sebenarnya... aku sudah menikah. dan tidak tinggal disana lagi. sekarang aku tinggal dirumah suamiku" bisik Ayyara.
"apa.??!!!!" Nia terkejut dan berteriak dengan lantang. membuat semua orang melihat kepadanya. ia jadi celingukan sendiri.
"ssssttt..."
"benarkah kak Yara sudah menikah? kapan? dengan siapa?" kali ini Nia ikut berbisik. ia menarik kursinya untuk mendekat kepada Ayyara.
__ADS_1
"sudah hampir 3 bulan."
"apa??!!!" lagi-lagi Nia berteriak. ia merasa dihianati. bisa-bisanya Ayyara menikah tanpa memberitahunya. menyadari banyak orang yang melirik tidak suka kearahnya, ia spontan menutup mulutnya dengan tangan.
"hehe,, maaf aku tidak memberitahumu."
"siapa suami kak Yara?" Nia sangat penasaran.
"nanti aku akan memperkenalkannya padamu. aku janji." kata Ayyara mengangkat dua jarinya.
"isshh..!" dengus Nia kesal. ia menangkupkan tangannya di dada dan menggeser kursinya kembali ke mejanya. sesaat ia melirik tajam kepada Ayyara.
Ayyara hanya menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai tanda meminta maaf.
hari sudah sore, sudah saatnya Ayyara pulang. Gama pasti sudah menunggunya di basement seperti yang dijanjikan tadi pagi. ia segera merapikan mejanya dan beranjak pergi.
sesampainya di basement, Ayyara mengedarkan pandangannya mencari sosok Gama. tapi ia tak menemukannya, mobilnyapun tidak ada. apa dia belum datang? batin Ayyara. akhirnya ia memutuskan untuk menelfon pria itu. tapi belum sempat ia menelfon, Dafa datang dan langsung menarik lengannya dan menyeretnya ke belakang sebuah mobil yang dekat dengan dinding.
"Dafa.! apa-apaan kau?!" teriak Ayyara. ia berontak ingin melepaskan tangannya dari cengkeraman Dafa.
"sstt..! Yara.!" Dafa menatap Ayyara dengan marah. nafasnya terdengar memburu.
Ayyara terdiam setelah Dafa membentaknya.
"lepaskan tanganku. apa yang kau lakukan Dafa?" tanya Ayyara takut. pasalnya tatapan mata Dafa benar-benar menakutkan.
__ADS_1
Dafa yang menyadari kalau sikapnya itu menakuti Ayyara, langsung melepaskan cengkeramannya di lengan Ayyara.
"ma,, maaf.. aku tidak bermaksud menyakitimu." jelas Dafa terbata.
"apa maumu?"
"aku ingin menanyakan sesuatu padamu. sebenarnya aku tidak bercaya dengan rumor yang kudengar. tapi aku terganggu. jadi aku ingin mendengar jawaban langsung darimu."
"kau ini bicara apa? rumor apa?"
"apa benar kau sudah menikah dengan tuan Gama? belakangan ini kabar tentang kalian santer terdengar. dan itu menggangguku."
"kenapa kau terganggu? aku ini bukan siapa-siapamu. hanya sekedar mantan istri saja. bukankah seharusnya kau tak perlu merasa seperti itu?
"aku tau. aku tau. jadi apa benar.?" Gama tetap menunggu jawaban.
"apa pedulimu? kalaupun kabar itu benar, memangnya kau mau apa?"
"Yara..."
"sudahlah Dafa. aku harus pergi. tolong jangan lagi menggangguku. kita sudah orang asing yang hanya berhubungan sebatas rekan kerja. aku tidak mau membuat masalah denganmu dan keluargamu lagi." kata Ayyara. ia langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Dafa yang masih tak percaya bahwa Ayyara akan menikah secepat itu setelah bercerai dengannya.
"Yara.!" Dafa kembali berlari dan mengejar Ayyara, ia menghentikan langkah gadis itu dengan memegang lengan Ayyara lagi.
"lepaskan Dafa.! bagaimana kalau ada yang melihat? apa kau tidak malu?" kata Ayyara. kali ini ia benar-benar marah dengan sikap Dafa.
__ADS_1