
Dada Maya bergemuruh. Emosinya sedang berada dipuncaknya. Belum hilang rasa malu dan marahnya kepada Ayyara, dan sekarang dia harus merasakan tajamnya tatapan Gama.
Seketika harga dirinya runtuh di hadapan pasangan itu. Dia sangat marah, tapi tak berani melakukan apapun. Ia merasa tubuhnya terkunci.
Tatapan marah milik Maya terus mengikuti bayangan Gama dan Ayyara yang pergi dari ruangannya. Dia mengatur nafasnya yang tadi terengah-engah. Kemudian ia membanting vas bunga yang ada di meja di samping sofa yang didudukinya.
“AAAAAAAAAAAAA..!!!!!!!!!!”
Teriaknya tak terkendali. Ia bernafas dengan kasar. Pundaknya sampai naik turun. Hari yang sangat tidak diharapkannya. Informasi tentang kelemahan adiknya harus ia bayar dengan sebuah tamparan dan tatapan menyakitkan. Benar-benar meruntuhkan harga dirinya.
Gama terus merangkul pundak istrinya keluar dari ruangan Maya. Sedangkan Ayyara terus terdiam. Ia takut saat merasakan kemarahan Gama. Walaupun pria itu tidak marah kepadanya.
Sesampainya di lobi, suasananya masih menegangkan seperti tadi. Anak buah gama masih terlibat adu dorong dengan pihak security. Bahkan ada diantara mereka yang adu jotos.
Melihat bos mereka sudah menampakkan batang hidungnya. Anak buah Gama langsung menghentikan aksi mereka.
“mundur.” Perintah Arfan. Dan merekapun langsung menurut kemudian mengikuti Gama di belakang mereka.
Setelah rombongan Gama pergi, orang-orang yang sejak tadi melihat kejadian itu langsung berkerumun dan membicarakannya.
“Fan. Putus semua kontrak kita dengan wanita itu. Dan cabut semua sponsor yang sudah kita berikan.” Titah Gama lagi.
Arfan yang duduk di kursi depan langsung meng iyakan. Dia memang berencana melakukan itu nanti.
Ayyara masih tak berani membuka mulut. Ia menyadari kalau ia salah karna sudah pergi tanpa memberitahu suaminya terlebih dulu. Hatinya di tutupi kekalutan dengan masalah kedua orang tuanya. Ia terus menundukan wajahnya bahkan sampai mereka tiba di rumah.
Ditambah Gama yang sama sekali tidak berbicara dengannya sepanjang perjalanan membuat Ayyara semakin takut. Ia belum pernah melihat Gama semarah ini sebelumnya.
Pak Ito dan Toni yang melihat kecanggungan itu hanya bisa bernafas lega.
Dengan wajah yang masih tertunduk, Ayyara mengikuti langkah kaki gama. Menjajaki anak tangga satu persatu dan masuk kedalam kamar mereka.
“sudah kubilang jangan membuatku khawatir. Atau kau akan menerima akibatnya.” Lirih Gama dengan suara yang bergetar. Dia masih berdiri memunggungi istrinya.
Bagaimana ini? Dia benar-benar marah padaku. Batin Ayyara.
Dia tidak tau kalau Gama akan nampak semenakutkan itu saat sedang marah.
__ADS_1
Apa yang harus kulakukan? Ayyara mencoba mencari cara.
“maafkan kau sayang, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.. Aku hanya ingin menemui Maya dan menc..........mmhh”
Ayyara tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya keburu di kulum oleh bibir padat milik Gama. Dengan nafas yang memburu, Gama terus melu**t dan mengaduk-aduk semua yang ada didalamnya. Membuat Ayyara melenguh merasakan kenikmatan itu.
Dengan sekali hentakan, Gama menarik tangan istrinya sampai ia terlempar ke ranjang. Gama segera memposisikan tubuhnya di atas tubuh Ayyara. Tangan kanannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah wanitanya itu. Dan kemudian membelai wajah Ayyara dengan lembut.
“kau akan menerima akibatnya karna sudah membuatku khawatir. Aku akan menghukummu.” Kata Gama dengan senyum penuh kemesuman.
Kalau hukumannya begini mah dengan senang hati aku akan menerimanya. Batin Ayyara senang.
Tak menunggu waktu lama, mereka langsung saja melakukan aksi yang menimbulkan suara lenguhan dan desahan itu, sampai mereka sampai kepada puncaknya dan merasakan tubuh mereka melemas.
Memeluk tubuh satu sama lain adalah yang mereka lakukan setelah itu. Gama terus menciumi rambut wanita yang sedang dipeluknya dari belakang itu. Mereka berdua tak mengenakan apapun.
“kenapa kau kesana?” Tanya Gama akhirnya. Ini saatnya dia tau ceritanya.
“aku mencari Dian.” Jawab Ayyara.
“Dian? Kenapa kau mencarinya?” Nada bicara Gama berubah khawatir.
“sayang,, dia itu pria yang berbahaya. Bagaimana kalu kau terluka? Tapi apa kau bertemu dengannya?”
“tidak, kata Maya dia sedang berlibur ke luar negeri.”
“apa yang kau katakan kepada wanita itu tadi? Dia nampak sangat ketakutan.”
“o? Emm,, aku hanya sedikit mengancamnya saja. Hehehe.”
“wah,, aku baru tau kalau istriku bisa mengancam juga rupanya.” Kata Gama. Ia mengeratkan pelukannya. Tangannya masih terus meremas dua benda kenyal kesukaannya.
“au.!” Pekik Ayyara tiba-tiba. Ia memukul pelan lengan suaminya yang ada di dadanya.
“pelan-pelan sayang. Sakit. Kalau kau meremasnya sekuat itu bisa pecah nanti.”
“hihihi,, habisnya aku gemas sekali sayang.” Bela Gama. Dia kembali mengeratkan pelukannya dengan gemas. Sampai membuat tubuh Ayyara terguncang.
__ADS_1
“kau sudah siap berkemas?” Tanya Gama lagi.
“sudah.. Oh,, ya ampun.. Jam berapa ini sayang? Bukankah kita harus bersiap-siap?” Tanya Ayyara panik. Dia tidak ingin ketinggalan kereta. Ayyara langsung bangun dan masuk kedalam kamar mandi.
Sedangkan Gama tak bergeming. Ia malas membayangkan naik kereta yang penuh sesak. Ia ingin naik pesawat, tapi ia tak punya keberanian membantah ‘ibu negara’.
“sayang,, bangun. Kok masih tidur sih..” Protes Ayyara saat melihat suaminya itu masih meringkuk di balik selimut.
“masih ada waktu dua jam lagi..” Sahut Gama dengan suara malasnya.
“iihh,,, bangun sayang... Nanti kita terlambat.” Ayyara memaksa tubuh suaminya untuk bangun dengan menarik lengan kekar itu.
Gama memaksakan langkahnya karna tubuhnya didorong oleh Ayyara masuk kekamar mandi.
“sayang,, ayo kita mandi bersama. Mungkin rasa malasku bisa menghilang” rayu Gama dengan tatapan mesum.
“ih. Aku udah cantik begini kok malah diajak mandi lagi sih. Sudah, cepat sana.” Kata Ayyara sambil menutup pintu kamar mandinya. Meninggalkan wajah cemberut milik Gama didalam sana.
Hehe,, ada-ada saja. Kemarin dia yang bersemangat mengajakku liburan. Kenapa sekarang malah terlihat malas? Papamu itu memang aneh sayang.. Lirih Ayyara mengajak bicara bayi dalam perutnya.
Lebih aneh mana dengan permintaan bumil?
Setengah jam kemudian, Gama keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut basah yang melambai-lambai di atas dahinya.
“wahhh,, bisa gawat ini. Kalau begini terus aku akan jatuh cinta padamu setiap hari..” Rayu Ayyara saat melihat tonjolan-tonjolan seksi di perut suaminya. Gama yang mendengar rayuan itu hanya terkekeh saja.
“sayang, berapa lama kita disana?” Tanya Ayara lagi.
“maunya berapa lama?”
“ya terserah. Aku sih ngikut.”
“paling cuma bisa liburan satu minggu saja sayang. Pekerjaanku banyak sekali, jadi kita tidak bisa lama-lama.”
“selama satu minggu itu, kira-kira kita mau kemana saja?” Tanya Ayyara masih penasaran.
“tenang saja, aku sudah menyusun rencana untuk kita. Kita akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, supaya kau tidak lelah. Kan ada tubuh lain di tubuhmu, jadi kita harus menjaganya dengan baik.” kata Gana tanpa tahu hal apa yang sedang menantinya.
__ADS_1
Ayyara memeluk Gama yang sedang memakai celana itu dari belakang. Rasa cintanya tumbuh setiap hari. Semoga bisa begini sampai kapanpun. Doanya dalam hati.