Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Jatuh Cinta Lagi.


__ADS_3

Dalam seminggu terakhir, Ayyara masih menikmati suka citanya karna hadiah luar biasa yang diberikan oleh Gama. Ia tidak bosan-bosannya berkeliling dan menatapi satu persatu barang-barang yang ada disana. Menyesapi setiap kenangan yang maaih menempel lekat di barang-barang peninggalan kedua orang tuanya.


Dia sedang menikmati waktu sendiri. Karna si kembar sudah masuk ke sekolah PAUD baru mereka dengan diantar oleh Dina dan Devi.


"Neng Yara. Ini Bibi buatkan semur telur puyuh ekstra pedas buat Neng Yara." kata Bi Sulis menghampirinya yang sedang duduk di gazebo taman samping rumah dengan membawa sepiring semur telur puyuh yang dulu menjadi camilan kesukaannya.


"Trimakasih ya, Bi." ujarnya sambil tersenyum senang.


Setelah meletakkan piring semur telur puyuh di atas meja, Bi Sulis pamit kembali kebelakang untuk melanjutkan pekerjaannya.


"sedang apa?" suara berat Gama membuatnya sontak menoleh ke belakang. Pria itu tersenyum sambil ikut duduk di sampingnya.


"sayang. Tidak ada. Sedang duduk-duduk saja." jawabnya.


"apa ini?" tanya Gama saat melihat semur telur puyuh yang masih mengepulkan asap.


"semur telur puyuh. Buatan Bi Lilis. Rasanya mantap. Cobalah."


Gama menyuapkan satu butir semur telur puyuh ke mulutnya. Dan. Etapa terkejutnya dia bahwa makanan itu ternyata sangat pedas. Sampai-sampai membuatnya mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


"u hah.! Pedasnya." serunya. Wajahnya jadi berubah merah padam.


Tapi entah kenapa rasa pedas itu justru membuatnya semakin tidak bisa berhenti untuk menjuputi satu persatu makanan itu dan kembali memasukkannya kedalam mulut.


Ayyara hanya terkekeh saja melihat suaminya yang wajahnya sudah semerah tomat.


Pasti Gama sangat kepedasan. Padahal menurutnya ini belum terlalu pedas. Karna lidahnya masih bisa mentoleransi rasa sakit yang diakibatkan oleh zat capcaisin tersebut.


"apa kau tidak jadi pergi ke kantor?" tanyanya demi melihat Gama masih memakai pakaian rumahnya.

__ADS_1


"sebentar lagi. Aku masih ingin berduaan denganmu." ujar Gama dengan kerlingan mata yang menggoda. Membuat Ayyara memukul lengannya dengan manja.


"apa aku boleh ikut? Aku merindukan Nia. Entah bagaimana kabarnya sekarang." Pinta Ayyara.


"dengan senang hati." Jawab Gama sambil mendaratkan ritual khasnya yang sempat terhenti selama 4 tahun. Dan baru mulai kembali sekitar seminggu ini.


Sebelum beranjak untuk mengganti pakaian mereka, Ayyara dan Gama lebih dulu menghabiskan sepiring semur telur puyuh yang ada diatas meja. Walaupun dengan wajah Gama yang semakin memerah.


Kemudian menenggak segelas susu untuk mengurangi efek pedasnya.


Ayyara sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Nia. Apa kabar gadis mungil itu sekarang ya?


Mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah gedung yang sangat asing bagi Ayyara. Ini bukan gedung GD Group yang sebelumnya, melainkan gedung baru yang letaknya sekitar 100 meter disebelah kanan gedung GD Group yang lama. Lebih luas, lebih besar, dan lebih tinggi tentu saja. Dengan sebagian besar kaca transparan yang melekat di dindingnya.


Fadil segera turun dari balik kemudi, dan langsung membukakan pintu mobil untuk Ayyara.


Beberapa dewan direksi nampak sudah berbaris di depan pintu lobi untuk menyambut kedatangan mereka. Karna hari ini adalah hari pertama Gama kembali mengelola perusahaan.


Para direktur itu langsung mengikuti langkah Gama di belakangnya.


"sayang. Kenapa kau membawaku kesini. Kau cukup menurunkanku di gedung lama saja." protes Ayyara. Ia mendengus karna tidak bisa langsung bertemu dengan Nia. Yang ia yakini pasti masih berada sikantornya, digedung yang lama.


Tapi Gama tidak mengindahkannya. Pria itu hanya menoleh sedikit kearahnya sambil tersenyum misterius dengan tidak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.


Semua mata orang yang berada di lobi langsung tertuju kepada Ayyara dengan tatapan terkejut. Dan hal itu membuat Ayyara merasa sedikit risih. Seperti mereka baru pertama melihat Gama menggandeng seorang wanita saja.


Tidak punya pilihan lain. Ayyara terus mengikuti langkah kaki suaminya sampai masuk kedalam lift yang khusus diperuntukkan untuk para petinggi perusahaan. Persis seperti yang ada di gedung lama. Bedanya yang ini terlihat lebih mewah dan lebih canggih. Juga lebih cepat. Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Ayyara.


Karna rasanya baru beberapa detik saja dan pintu lift sudah terbuka dengan tombol lampu berhenti di nomor 50.

__ADS_1


"ayo." kata Gama lagi sambil menarik tangannya ke luar dari lift. Ayyara sampai merasa tidak enak hati kepada Arfan yang juga berjalan bersama mereka. Untung saja Arfan sudah tidak jomblo lagi. Kalau saja Argan masih jomblo, sudah bisa dipastikan pria itu pasti akan mengutuki mereka dalam hati.


Seketika Ayyara tersenyum kaku kepada Arfan demi mengingat kejadian beberapa tahun silam. Dimana saat Gama tengah 'mengerjainya' di sofa kantor dan saat itu Arfan muncul tanpa pemberitahuan dan membuatnya malu setengah mati.


Suara knop pintu yang terbuka menyadarkan Ayyara dari kenangan memalukan itu. Ternyata mereka sudah sampai di sebuah ruangan yang di pintunya terdapat tulisan CEO.


"duduklah disini dulu sebentar." perintah Gama. Kemudian pria itu menghilang masuk kedalam ruangan lain yang ada di ruangan itu. Dan beberapa detik kemudian kembali keluar dengan memegang sebuah kotak berpita biru laut yang besar dan sebuket bunga yang tersusun dengan indahnya.


"untukmu." ujar Gama berlutut dihadapannya sambil menyerahkan kotak dan bunga itu untuk Ayyara. Seperti seorang pria yang sedang melamar kekasihnya.


"sayang. Kenapa kau begitu?" tanya Ayyara. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya. Ia kemudian mengambil buket bunga dan kotak itu dari tangan Gama.


"apa ini?" tanya Ayyara lagi? Ia memicingkan sebelah alisnya dan menatap kepada Gama.


"bukalah."


Dengan perlahan tangan Ayyara mulai menarik pita berwarna biru laut yang tersimpul di atas kotak. Kemudian setelah simpul itu terlepas seluruhnya, ia mengangkat tutupnya.


"sayang...." ujarnya lirih saat mendapati dua buah cincin yang sama persis seperti cincin pernikahan mereka dulu yang sedang di pegang oleh dua ekor beruang mungil. Satu beruang mengenakan tuxedo berwarna hitam, sedangkan satu beruang lagi mengenakan gaun selutut berwarna putih lengkap dengan sebuah pita yang bertengger di kepalanya. Menjelaskan bahwa itu adalah sepasang boneka beruang.


"aku lihat kau sudah tidak memakai cincin yang kuberikan dulu. Jadi aku memesan yang baru." jelas Gama singkat. Ia tersenyum simpul lalu mendudukkan diri disamping Ayyara.


"maafkan aku sayang. Aku menjualnya untuk modal membuka cafe." jelas Ayyara malu-malu. Dia bahkan sudah tidak pernah lagi mengingat tentang memakai cincin.


"tidak apa-apa. Sini aku pakaikan." kata Gama. Ia meraih satu buah cincin yang ada di tangan boneka beruang berpita kemudian menyematkannya di jari manis Ayyara. Kemudian ia mengambil satu lagi dan menyematkannya di jari manisnya sendiri.


Mata Ayyara berkaca-kaca demi menyaksikan tingkah Gama itu. Pria itu selalu saja membuatnya melambung. Selalu punya cara untuk membuatnya bahagia. Bahkan dengan hal-hal yang tidak pernah ia fikirkan sebelumnya.


"hei tuan Gama. Sepertinya aku jatuh cinta lagi padamu." seloroh Ayyara sebelum kemudian menghambur ke dekapan Gama.

__ADS_1


__ADS_2