Diperistri Tuan Muda

Diperistri Tuan Muda
Kejutan Luar Biasa.


__ADS_3

Selama satu malam mereka menginap di villa sebelum berpamitan untuk pulang kerumah mereka sendiri. Ana dan Jun lebih cepat kenal dengan Nenek dan Kakeknya daripada dengan Papanya sendiri. Bahkan semalaman si kembar tidur bersama Nyonya dan Tuan Gundala. membuat gama iri setengah mati.


“hati-hati dijalan. Sering-seringlah mampir kamari ya..” ujar Nyonya Dundala kepada Ayyara dan si kembar. Setelah itu Nyonya dan Tuan Gundala menciumi Ana dan Jun sebelum mereka masuk kedalam mobil.


“hei Jun.! hal apa yang paling kau inginkan?” tanya Gama saat mereka sudah ada didalam mobil. Dia brefikir akan memberikan Jun sogokan agar anak itu cepat akrab dengannya.


“huh.!” kata Jun kemudian memalingkan wajahnya kearah lain. Reaksi yang tidak diduga oleh Gama. Entah kenapa itu malah membuat Ayyara terkekeh.


Begitu sulitnya dia merayu putranya itu untuk lebih dekat dengannya.?


“Jun sayang, apa kau ingin membeli mainan baru?” akhirnya Ayyara yang turun tangan.


Jun nampak sedang berfikir. Kemudian dia menganggukkan kepala pelan.


“mobil lemot Ma...sama ikan yang besaaaaaalllll sekali.” ujar Jun kemudian.


Gama langsung sumringah mendengar jawaban itu. Ia merasa mendapat secercah jalan untuk rencananya.


“Jun, apa kau mau memeluk Papa? nanti dia akan membelikanmu sebuah mobil remot yang sangat besar. Dan juga ikan yang sangat besar seperti yang ada dirumah Nenek dan Kakek. Apa kau mau? lihatlah Papa sudah mau menangis.” rayu Ayyara.


Dengan pura-pura, Gama memasang wajah menangis.


Naluri anak-anaknya muncul. Jun melirik kearah Gama dengan ragu. Ia sungguh tidak ingin memeluk pria yang asing baginya itu, tapi rayuan mamanya sangat menggoda. Apalagi kalau dia bisa bermain dengan ikan raksasa seprti yang ada di rumah Kakek dan Neneknya.


Dengan perlahan, jun bergerak turun dari pangkuan Ayyara dan beralih mendekati Gama. kemudian ia merangkul leher pria itu sambil menepuk-nepuk punggung Gama. seolah ingin menghentikan tangisan Gama.


Gama langsung membalas pelukan Jun dengan sangat erat. Sampai membuat bocah itu merasa begah dan berusaha melepaskan diri dari Gama.


Untuk awal itu sudah cukup bagi Gama. Sepertinya Jun sudah mulai membuka diri padanya. Ia tersenyum senang dan tertawa terbahak-bahak.


Ayyara membuang pandangannya keluar jendela. Memandangi jalanan yang sedikit basah karna tersiram hujan deras beberapa jam yang lalu. Membiarkan Gama terus menggoda Jun dan Ana secara bergantian. Ia ingin memberikan ruang kepada mereka untuk lebih dekat dengan Papanya.


“lho, ini kan bukan jalan menuju kerumah. Kita mau kemana Sayang?” tanya Ayyara.

__ADS_1


apa Gama sudah pindah? batinnya.


“kerumah kita lah sayang. Kau pasti akan sangat senang.” ujar gama.


Oh, jadi Gama sudah pindah kerumah baru. Batinnya. Dalam hati ia bersemangat dan tidak sabar untuk melihat rumah baru yang akan mereka tinggali.


Mobil semakin membawa mereka ke jalan menuju perumahan elite yang tidak asing bagi Ayyara. Ia berkali-kali mengernyitkan keningnya setiap melewati rute yang dulu biasa dia lalui. Dan perasaannya semakin tidak menentu saat mobil mereka berbelok dan masuk ke sebuah rumah. Rumah yang sangat familiar baginya.


“Pak Totok?” gumamnya saat melihat seorang satpam yang membukakan pintu gerbang.


Pak Totok ada lah pria paruh baya yang dulu bekerja sebagai satpam di rumah kedua orang tuanya.


“Sayang. Kita sudah sampai. Ayo turun.” ajak Gama kemudian menggandeng Ana dan Jun di kedua tangannya.


Jun sudah mulai tidak takut kepada Gama. Pria mungil itu diam saja saat Gama menuntun tangannya turun dari dalam mobil.


“Sayang???” tanya Ayyara masih belum mengerti kenapa mereka berhenti di bekas rumahnya dulu.


perlahan Ayyara membuka pintu mobil dan menurunkan kakinya. Ia berdiri dengan menahan lutut yang gemetar di samping mobil. Matanya menelisik ke seluruh rumah megah yang ada dihadapannya. Rumah yang sangat dia rindukan.


“apa ini sayang? kenapa kita ada disini?”


“kejutan.!!” ucap Gama dengan senyum yang super lebar. Ia merentangkan kedua tangannya di hadapan Ayyara.


“ini rumah kita sekarang. Aku sudah membelinya satu tahun yang lalu.” jelas Gama singkat.


Netra Ayyara langsung berkaca-kaca. Menatap Gama tidak percaya. Kejutan ini sungguh luar biasa baginya. Dia sama sekali tidak pernah menduga kalau rumah baru yang dibicarakan Gama adalah rumah lamanya. Rumah yang dipenuhi oleh kenangan antara dia dan kedua orang tuanya.


Perlahan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya tumpah ruah. Ia berlari memeluk Gama dengan sangat eratnya. Gama sampai hampir terjungkang kebelakang dan membuat tangan pria itu terlepas dari gandengan Ana dan Jun.


“timakasih sayang.” ucapnya lirih.


“neng Yara?” panggil suara yang masih santar terdengar di telinganya.

__ADS_1


Ayyara menoleh setelah melepaskan pelukannya dari Gama dan mendapati Pak Totok yang kini sudah beruban di sebagian besar rambutnya berdiri di belakangnya. Pak Totok tersenyum kearah Ayyara yang masih berlinangan air mata.


“Pak Totok?” ia berjalan mendekati Pak Totok dan menyalaminya. Air matanya semakin deras mengalir. Ia memandangi wajah yang sudah kriput itu dengan perasaan haru. Wajar saja kalau pak totok sudah nampak semakin tua. Sudah hampir 9 tahun mereka tidak bertemu.


“Pak Totok apa kabar?” tanyanya kemudian.


“saya baik-baik saja Neng. Neng Yara apa kabarnya?”


“saya juga baik-baik saja Pak. Bapak dari dulu masih bekerja disini?” tanya Ayyara heran. apa mungkin pemilik rumah setelah ia menjualnya membiarkan pak totok tetap bekerja disana.?


“tidak Neng, baru sekitar setahun yang lalu saya kembali kesini. Tuan Gama yang meminta saya untuk kembali menjaga rumah ini.” jelas Pak Totok.


Ayyara langsung mengalihkan wajahnya kepada Gama. Pria itu tetap menjaga senyumnya seperti tadi.


“silahkan masuk Neng. Pasti Neng Yara sudah sangat merindukan rumah ini kan?” Pak Totok mempersilahkan.


Seakan belum berhenti kejutan yang diberikan oleh Gama, saat ayyara melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, Bi Sulis, pengurus rumahnya dulu sudah memamerkan senyumannya di depan pintu. Di sebelahnya, ada Dina dan Devi, mantan asisten pribadinya, juga ada Ervan yang dulu menjadi supir pribadinya. Mereka semua tersenyum sumringah menyambut kedatangan Ayyara.


Ayyara hanya bisa menutup mulutnya saja karna rasa terkejutnya. Sedangkan air mata yang tadi sudah berhenti mengalir kini kembali tertumpah. Ia menghambur memeluk tubuh Bi Sulis. juga Dina dan Devi.


“Bi.... hiks,, hiks,,” Ayyara menumpahkan kerinduannya kepada wanita yang kini juga sudah terlihat tua itu. Bi Sulis mengelus-elus punggung Ayyara.


“Neng Yara baik-baik saja kan?” tanya Bi Sulis setelah Ayyara melepaskan pelukannya.


“saya baik-baik saja bi.” jawab Ayyara.


Ayyara sudah tak mampu lagi bagaimana menunjukkan kebahagiannya karna bertemu dengan orang-orang yang mengurusnya dahulu.


Yang lebih mengejutkan ayyara adalah, kondisi rumah ini. Seluruh interior rumah ini masih sama persis seperti terakhir kali dia melihatnya. Perabotan, dan bahkan lukisan-lukisan koleksi ayahnya masih menempel ditempatnya. Membuat Ayyara kembali menerawang kenangannya bersama dengan kedua orang tuanya dulu.


Ayyara kembali memeluk Gama yang berdiri dibelakangnya. Entah, berapa puluh kali sudah dia mengucapkan kata terimakasih kepada pria itu selama 15 menit terakhir. yang jelas, dia benar-benar merasa sangat bersyukur.


kejutan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2