
Ayyara memicingkan matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Gama yang sedang terlelap. ia merasakan hangat di tubuhnya karna bersentuhan dengan tubuh polos milik Gama.
menyadari Ayyara bergerak, Gama malah semakin mengeratkan pelukannya. menenggelamkan wajah gadis itu di dada bidangnya.
"jangan bangun dulu.. nanti saja." rengek Gama dengan masih memejamkan matanya.. kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan di kening Ayyara.
"sayang,, sudah siang,, kau tidak pergi ke kantor?"
apa? aku tidak salah dengar kan? baru saja Yara memanggilku sayang? batin Gama. ia tersenyum senang..
“sebentar lagi,, aku masih lelah. apa kau tidak lelah?” tanya Gama.
ya lelah. Ayyara sangat lelah sebenarnya. setelah di gempur oleh Gama sampai beberapa ronde semalaman.
“kalau begitu aku berangkat kekantor duluan ya...” pancing Ayyara. ia berusaha melepaskan diri dari dekapan gama.
dengan memanyunkan bibirnya, Gama terpaksa ikut bangun. membuat Ayyara terkekeh karna tingkah lucunya. Ayyara memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya kembali, kemudian ia berjalan keluar dari kamar Gama dan kembali kedalam kamarnya. ia harus mandi dan bersiap pergi ke kantor. karna semua pakaiannya belum dipindahkan kekamar Gama.
setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Ayyara dan Gama keluar kamar hampir bersamaa. pria itu tersenyum sumringah kepada istrinya kemudian menggenggam erat tangan Ayyara dan berjalan menuruni tangga.
“selamat pagi Tuan dan Nona.” sapa Arfan. kali ini cara menyapanya lebih sopan. biasanya ia akan langsung masuk kedalam kamar Gama dan mengejutkan Tuannya itu karna sudah tiba-tiba ada di kamarnya. karna Gama sudah beristri, Arfan jadi tau diri.
__ADS_1
“pagi.” jawab Gama singkat. sedangkan Ayyara hanya menganggukan kepalanya saja.
suasana pagi ini dirumah tampak ramai, tak seperti biasanya. nampak beberapa orang berseliweran dengan menggunakan seragam pelayan dan engangguk hormat kepada mereka. membuat Ayyara mengernyitkan dahinya. siap mereka?
“sayang, kenapa banyak sekali orang? siapa mereka?” tanya Ayyara.
“mereka adalah pelayan dan pengawal dirumah ini. mereka akan bertugas untuk melayani kita. dan membantu kita untuk mengurus rumah ini. aku tak mau kau kelelahan karna mengurus rumah sendirian.”
“trus bi Ima bagaimana?”
“dia tetap bekerja disini dan bekerja sebagai kepala koki.”
“ooo...”
“dia ini pak Ito. kepala pelayan yang kubawa dari jogja.” kata Gama memperkenalkan pak Ito kepada Ayyara. (kalian masih ingat dengan pak Ito?)
“pak, tolong pindahkan semua barang-barang istriku ke kamarku ya..” perintah gama.
“baik Den..” pak Ito menjawab dengan sopan.
dimeja makan, sudah tersaji berbagai hidangan yang sangat lezat. Bik Ima tersenyum menyambut kedatangan kedua majikannya itu.
__ADS_1
“mulai hari ini saya akan tinggal disini dan melayani Tuan dan Nona. Nona Yara, kalau ingin apapun, bilang sama bibi ya,, bibi akan lngsung membuatkannya untuk Nona..”
Ayyara tersenyum. sekilas melintas kehidupan masa lalunya saat masih ada kedua orang tuanya. kehidupan seperti inilah yang dijalaninya setiap hari. dikelilingi oleh pelayan pribadi, koki pribadi dan pengawal pribadi. papanya yang merupakan seorang pejabat penting pemerintahan sangat memanjakan Ayyara. tapi setelah kematian kedua orang tuanya, hidupnya langsung terjun ke titik terendahnya. mengingat hari-hari itu membuat air mata Ayyara menggenang diujung matanya. ia hampir menangis sambil menatap piring sarapan yng ada dihadapannya.
“sayang, kenapa?” tanya Gama panik. ia melihat air mata Ayyara yang sempat menetes.
“tidak, tidak apa-apa sayang. aku hanya terharu saja..” elak Ayyara. gama kemudian menggenggam tangan Ayyara dengan hangat.
Ayyara dan Gama telah bersiap untuk pergi ke kantor. kali ini Ayyara ikut bersama Gama dalam satu mobil. Ayyara sudah tak perlu sembunyi-sembunyi lagi pergi kekantor. ia yakin kabar pernikahannya sudah menyebar melalui mak-mak sosialita itu. kali ini, apapun yang akan orang bicarakan tentang dirinya, ia tak mau ambil pusing. yang terpenting adalah hubungannya dengan Gama dan keluarganya baik-baik saja. Ayyara sudah semakin kuat. kejadian terakhir kali membuat hati Ayyara semakin kokoh dan tak mudah digoyahkan. kini ia telah mendapatkan kepercayaan dari Tuan dan Nyonya Gundala. jadi tak ada lagi yang perlu dia khawatirkan.
semua mata melihat kearah Gama yang sedang menggandeng mesra seorang wanita. mereka nampak saling berbisik-bisik. mulai hari ini, Gama tak lagi masuk melalui basement, tapi langsung lewat lobi. beberapa karyawannya nampak mengangguk hormat kepadanya. aura Gama hari ini tak seperti biasanya. hari ini, ia nampak lebih berwibawa dan wajahnya lebih cerah dari biasanya. ya iyalah, semalaman habis di cas, kan paginya langsung full..hehe.
Gama mengantarkan Ayyara sampai ke meja kerja Ayyara di kantor travel.
cup.
Gama mengecup kening Ayyara.
“selamat bekerja sayang. aku ada dilantai atas.” kata Gama mengingatkan.
beberapa karyawan nampak ternganga melihat pemandangan uwu itu. apalagi Nia, jiwa jombolnya langsung meronta-ronta. entah kenapa ia melihat Ayyara yang di kecup keningnya tapi wajahnya yang merona.
__ADS_1
Gama meninggalkan kantor Ayyara. sementara ada tatapan tajam yang penuh dengan kecemburuan sedang menatapnya dari balik ruangan kaca. Gama hanya melihatnya sekilas. ada senyum tipis yang timbul di sudut bibirnya. membuat Dafa menggeretakkan gigi-giginya. ia sangat membenci Gama. kenyataan kalau Gama adalah pria yang lebih baik darinya, dan mampu mendapatkan Ayyara membuat hatinya terbakar api cemburu. dalam fikirannya terbersit untuk merebut Ayyara kembali.