
"tolong lepaskan tangan anda tuan Dafa.!" nada suara Gama yang rendah dan berat tapi penuh dengan emosi membuat Dafa sontak melihat ke arah pria itu.
"tuan Gama?" tanya Dafa. ia langsung melepaskan cengkeramannya.
Gama berjalan perlahan mendekati mereka. Ayyara yang juga ikut terkejut bisa merasakan aura membunuh yang keluar dari tatapan pria itu.
"tolong jangan seperti itu lagi tuan Dafa. Anda menyakiti istriku. aku akan memakluminya kali ini. tapi tidak untuk yang seterusnya. aku harap Anda mengerti."
Dafa dibuat membisu oleh Gama. ia tak mampu membalas perkataan Gama sedikitpun. apalagi saat pria itu menyebut Ayyara sebagai istrinya. tiba-tiba ia merasakan lututnya gemetar. jadi benar Ayyara telah menikah dengan Gama? pertanyaan itulah yang pertama kali muncul di benaknya.
"sayang, maaf aku terlambat. jalanan sangat macet. ayo kita pulang sekarang." ajak Gama kemudian merangkul kedua pundak Ayyara. yang dirangkul hanya mengangguk pelan sambil mengikuti langkah kaki Gama.
setelah sampai di mobilnya, Gama langsung membukakan pintu mobil untuk Ayyara,.
deg.! deg.! deg.! deg.!
detak jantung Ayyara tak terkendali. membuat ia bernafas dengan cepat juga. apalagi saat Gama mengancingkan sabuk pengaman untuknya. wajah Gama yang berada dekat dengan wajahnya membuat pipinya merona. ia memegang erat tali tas dinpangkuannya. tak berani bergerak. seolah-olah kalau dia bergerak dia akan mati. Ayyara bahkan sampai menahan nafasnya.
Gama hanya tersenyum saja melihat Ayyara yang membeku. kemudian ia mengusap-usap kepala Ayyara dengan lembut. lalu melajukan mobilnya menuju keluar masement.
Dafa yang masih tidak percaya dengan pemandangan uwu yang baru saja ia saksikan masih tertegun ditempatnya. entah kenapa ia merasakan sakit di ulu hatinya melihat perhatian Gama untuk Ayyara. dengan langkah gontai ia berjalan kembali ke kantornya.
"kenapa kau melakukan itu?" tanya Ayyara memecah keheningan. ia melihat Gama yang sedang fokus menyetir.
__ADS_1
"melakukan apa?" tanya Gama. ia merasa tak melakukan apapun.
"kau tak perlu memanas-manasinya seperti itu. tapi aktingmu luar biasa. aku hampir tak bisa membedakannya." celetuk Ayyara.
"akting? aku tidak sedang berakting."
deg.!
"apa kau melihat semua perhatianku adalah sebuah kepura-puraan?" tanya Gama. tapi ia tetap melihat ke jalanan tanpa menoleh kepada Ayyara sedikitpun. sedangkan gadis itu menatap lekat kepada Gama.
"jangan begitu." kata Ayyara dengan suara yang bergetar.
"apa maksudmu?"
setelah itu, keduanya hanya terdiam. Ayyara sibuk menenangkan hatinya yang gundah. sedangkan Gama sibuk memikirkan perasaannya kepada gadis yang sedang duduk disampingnya.
setelah hampir satu jam perjalanan. akhirnya mereka sampai di sebuah villa mewah berpagar sangat tinggi. nampak ada beberapa penjaga yang berpakaian serba hitam di sekitar villa itu.
"ayo..." ajak Gama. ia menggenggam erat tangan Ayyara dan berjalan masuk kedalam rumah. dengan perasaan sungkan Ayyara berjalan di samping Gama. ia menundukkan kepalanya tak berani mengedarkan pandangannya. ia masih sibuk dengan sikap yang ditunjukkan Gama. sikap itu sangat asing baginya.
"oh.. kalian sudah datang?" sambut Nyonya Gundala dengan senyum yang mengembang. wanita paruh baya yang modis itu langsung memeluk hangat menantu satu-satunya itu.
"apa kabar Ma?" tanya Ayyara berusaha bersikap ramah."
__ADS_1
"tentu saja aku sangat kesepian. kenapa kalian jarang datang kemari? dasar kalian nakal." dengus Mama.
"hehe,, maaf nyonya Gundala. tapi kami sangat sibuk bekerja." jawab Gama.
Mama menuntun Ayyara untuk duduk disofa. ia terus saja menggenggam hangat tangan Ayyara. kehangatan itu mengalir ke dalam hati Ayyara. ia rindu orang tuanya.
"berapa lama kau pergi nak?" tanya Mama.
"besok sore aku sudah pulang kok Ma.. jangan terlalu merindukanku." goda Gama. sebenarnya godaan itu ia tujukan kepada Ayyara. tapi Ayyara tak cepat tanggap. gadis itu malah tersenyum saja melihat kehangatan ibu dan anak itu.
"bukan aku yang rindu. tapi istrimu." Mama ganti menggoda Gama. tapi malah Ayyara yang tersipu mendengarnya.
"dia tidak akan merindukanku." celetuk Gama. ia kemudian menatap Ayyara dengan tatapan sendu. sesungging senyum tipis muncul dari bibirnya yang seksi.
"pergilah. nanti kau bisa ketinggalan pesawat. jangan khawatir. aku tidak akan memakan istrimu." goda Mama lagi. membuat Gama tertawa malu.
Ayyara mengantarkan Gama sampai ke depan rumah. disana sudah ada Arfan yang menunggu bersama seorang supir.
"jangan khawatir, aku tidak akan lama." ucap Gama sebelum masuk kedalam mobil.
cup.!
sebuah kecupan mendarat di kening Ayyara. gadis itu langsung terperanjat dan membeku seperti biasanya. dia butuh waktu mencerna apa yang baru saja menyentuh keningnya. saat setelah sadar, ia sudah melihat Gama yang mulai menjauh didalam mobil sedan hitam mewah.
__ADS_1
kenapa Gama terus saja bersikap aneh seperti itu? apa dia berakting karna ada kedua orang tuanya disini? batin Ayyara.