
Hari ke 4 berada di jogja...
Hari ini mereka berencana pergi pantai parang tritis. Ayyara minta pergi sejak pagi, tapi Gama tidak mau.
"kita wisata kuliner saja dulu ya, kita ke pantai nanti sore. Sekalian lihat sunset." rayu Gama.
Mendengar kata kuliner, Ayyara langsung mengangguk dan tersenyum senang. Padahal tadi dia sempat cemberut.
Gama mengemudikan mobilnya kearah prambanan. Ia ingin mengajak Ayyara ke salah satu tempat makan sup ayam yang sangat terkenal.
Mata Ayyara langsung sumringah. Dia melihat pucuk candi prambanan dari jalan raya.
"sayang, nanti saja kita makannya, ayo kita kesana dulu." tunjuk Ayyara kearah candi.
"memang. Rencanaku juga begitu." sahut Gama. Karna tempat makan yang ingin dia datangi berada tidak jauh dari candi.
Gama langsung membelokkan mobilnya ke komplek candi prambanan. Setelah memarkirkan mobilnya, dengan romantisnya Gama membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Setelah membeli tiket, Gama kembali menggandeng mesra tangan Ayyara. Dan merekapun memulai petualangan di komplek candi prambanan.
Tangan Ayyara sibuk mengambil foto disana sini. Gama tak kalah sibuk, dia juga sibuk memotret istrinya itu di setiap sudut candi Dengan kamera yang ia bawa. Terkadang mereka berfoto bersama dan meminta tolong kepada siapapun untuk memotret mereka.
Cuacanya lumayan panas. Bahkan payung yang mereka sewa pun tak bisa sepenuhnya melindungi mereka dari sergapan hawa panas.
"sayang, haus." lapor Ayyara. Tenggorokannya sudah kering.
"tunggu disini, aku akan membelikan sesuatu untukmu." Gama sigap menanggapi.
Tatapan mata Ayyara mengikuti punggung suaminya yang mulai menjauh. Dia menyapu pandangan kesekitarnya, dan melihat ada kursi di bawah sebuah pohon yang cukup teduh. Ada seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi yang lebih dulu duduk disana. Bayi itu terus menangis. Mungkin karna ia merasa kepanasan, sehingga bayi itu menangis.
"sendirian mbak?" tanya wanita muda itu dengan masih menenangkan bayinya yang rewel.
"tidak, saya dengan suami. sedang membeli minuman." jawab Ayyara. "adek bayinya sepertinya kegerahan." jawab Ayyara lagi.
"iya. Entah kenapa hari ini cuacanya panas sekali." jawab si ibu bayi.
"situ sendirian?"
"tidak. Saya bersama rombongan orang tua dan mertua saya. Saya lelah, jadi istirahat disini. Suami yang mengantar mereka berkeliling."
"o.. Adek bayinya siapa namanya? laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan, namanya Meutia tante.." jawab si ibu dengan mengecilkan suaranya, seolah anaknya yang sedang bicara.
__ADS_1
"cantiknya namanya,, sama seperti orangnya.." Puji Ayyara.
Ayyara pun mengajak si Meutia kecil berbicara. Dan memegang tangannya. Anehnya, bayi itu langsung terdiam dan tertawa sambil menggenggam erat jari-jarinya. Dan langsung mengoceh seperti menanggapi perkataan Ayyara.
"uuhh... Pintarnya.. lucu sekali sih kamu. berapa umurnya?" tanya Ayyara.
"11 bulan mbak."
"aku juga punya. Tapi masih didalam sini." jelas Ayyara sambil memegang perutnya.
"o. Benarkah? Selamat menghadapi kerepotan yang menyenangkan ya mbak." ucap si ibu. "sudah berapa bulan?"
"jalan 4 bulan."
Keduanya pun langsung menceritakan pengalaman masing-masing selama mereka hamil. Sesekali mereka nampak tertawa dengan mata yang antusias.
Gama kembali dari membeli minuman. Ia menenteng kantung plastik yang berisi air mineral dan beberapa kemasan jus. Tak lupa dia juga membeli beberapa camilan untuk istri tercintanya.
Semenjak hamil, Ayyara susah sekali berhenti mengunyah. Bawaannya lapar, katanya. Sehingga membuat pipi Ayyara mulai nampak berisi. Tapi tentu saja Gama tidak berani membahas itu didepan istrinya. Yang penting istri dan anaknya sehat. Itu adalah prioritasnya.
Langkah Gama terhenti tiba-tiba di tempat yang tak jauh dari tempat duduk Ayyara. Ia melihat istrinya itu sedang berbicara dengan seseorang. Jantungnya berdegup tak terkendali. Ia melihat sosok masa lalunya sedang duduk bersama sang istri. Dan mereka terlihat sangat akrab dan tertawa-tawa.
"Mala..." sebutnya lirih. Akan tetapi kedua wanita itu mendengarnya.
Kedua wanita itu langsung menoleh ke arah Gama yang ada dibelakang mereka.
"Kau ada di jogja? Kapan datang? Dengan siapa? Kudengar kau sudah menikah? Aku melihatnya di tv. Apa kau datang bersama istrimu?" Mala langsung memberondong Gama dengan pertanyaan tanpa memberi jeda kepada pria itu.
Perlahan Gama berjalan mendekati mereka. Sedangkan Ayyara masih mencoba mencerna.
"iya. Aku sudah menikah. Ini istriku, Ayyara." kata Gama memperkenalkan istrinya kepada mantan gebetannya itu.
"apa? Jadi mbak ini istrimu? Wah, kebetulan sekali." kata Mala dengan senyum khasnya.
Senyum yang dulu bisa membuat Gama tak bisa tidur.
"apa kabar Mala? Itu pasti hsil perbuatan Micko." kata Gama menunjuk Meutia kecil dengan dahunya.
"suah pasti. Dia adalah tersangka utamanya. Hahaha.."
Keduanyapun langsung tertawa lepas.
Apa dia wanita itu? wanita yang namanya masih tersimpan rapi disudut hati Gama? Ayyara hanya bisa membatin saja. Tapi ada rasa nyeri di ulu hatinya.
__ADS_1
"dimana dia? Aku sudah tidak sabar ingin meninju wajahnya."
"hei.. Jangan jadi orang pendendam. Aku dengar kau juga sudah jadi pelaku." jawab Mala sambil melirik kearah perut Ayyara. "selamat untuk kalian berdua."
"dimana Micko?" Gama mengulangi pertanyaannya.
"sedang mengantar para orang tua kami. Kapan kalian sampai?"
"empat hari yang lalu."jawab Gama.
Ada rasa canggung di hati Ayyara. Dia tidak bisa bersikap biasa saja seperti Mala. Bersenda gurau dengan mantan dihadapan Ayyara.
Gama menyadari kecanggungan itu. Karna nampak jelas di wajah Ayyara yang tiba-tiba terdiam dan membeku. Jadi Gama kemudian bergeser lebih dekat dengan istrinya itu.
"ini. Minumlah dulu. Aku beli beberapa jus buah juga." kata Gama penuh perhatian. Tapi itu tidak membuat wajah Ayyara berubah sumringah. Namun dia tetap menerimanya.
Setelah menarik nafas dan menghembuskannya, Ayyara sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya. Dia mulai memaksakan senyumannya untuk timbul. Ia berfikir akan sangat malu jika ia cemburu di situasi seperti ini. Malu kepada Mala. Dan harga dirinya tidak mengijinkan hal itu.
Tidak ada yang harus dicemburui dari masa lalu Gama. Sama seperti saat pria itu menerimanya dengan segala kisah masalalunya.
Memikirkan hal itu, membuat suasanan hati Ayyara berangsur membaik.
"kalian harus mampir ke ruamah kami ya. Mbak Yara.." ujar Mala berusaha mencairkan suasana yang sedikit menegang.
"o? ehh. Iya, kami pasti kami akan nerkunjung." jawab Ayyara.
"hei.! Brengsek.! Kapan kau datang?" suara seorang pria membuat Gama, Ayyara dan Mala langsung melihat ke sumbernya.
Micko berlari kecil menghampiri mereka bertiga.
"sialan kau.!" dengus Gama. Ia meninju lengan Micko pelan.
"apa dia istrimu? Hai. Aku Micko. Suami Mala." jelas Micko tanpa menunggu jawaban dari Gama.
"Ayyara."
"wah,, wah,, Tuan Gama kita pintar juga mencari istri yang cantik." seloroh Micko. Membuat pipi Ayyara sedikit merona.
"sudah pasti. Bukan cuma cantik. Tapi dia juga luar biasa." kata Gama merasa bangga.
"mampirlah kapan-kapan kalau kalian ada waktu." Micko menawari.
"pasti, tadi Mala juga sudah bilang begitu" jawab Ayyara. Masih memaksa senyumannya. "kami akan mampir sebelum kembali ke jakarta."
__ADS_1
Selebihnya, mereka mengobrol membicarakan apa saja. Setelah hampir satu jam. Micko dan Mala pamit karna keluarga mereka sudah menunggu.
Pertemuan yang tidak didangka-sangka.