
Ayyara mencoba menghubungi Gama dan meminta izin hendak pergi keluar bersama Nia. Gama mengijinkan, tapi dengan syarat, Toni harus ikut dengan mereka. ia tak mau kejadian waktu itu terulang lagi.
dengan terpaksa Ayyara mengiyakan syarat dari Gama. dari pada tidak jadi pergi, fikirnya.
setelah selesai berganti pakaian, Ayyara dan Nia keluar dari rumah. di luar Toni sudah menunggu, tapi tidak sendirian. ia membawa 4 orang anak buahnya. pengawal di rumah Gama kini sudah bertambah banyak. semata-mata hanya untuk melindungi Ayyara.
"pak Toni, tidak usah mengajak mereka. pak Toni saja pun sudah cukup." rayu Ayyara.
"maafkan saya nona. tapi ini perintah dari tuan Gama." jelas Toni. ia membukakan pintu mobil untuk Ayyara. dan dia yang akan mengemudikan mobil itu.
Ayyara dan Nia tak punya pilihan lain. kalau Toni sudah bilang perintah dari tuan Gama, tidak ada yang bisa mengubahnya.
"hufh.. ya sudah, tapi pak Toni dan anak buah pak Toni harus jauh-jauh dari kami ya.. jangan terlalu dekat. aku tidak mau orang-orang melihat kami dengan aneh." kali ini Ayyara mengeluarkan nada perintah.
"baik Nona."
__ADS_1
Ayyara, Nia dan Toni berada dalam satu mobil, sedangkan 4 orang anak buah Toni berada di mobil lain di belakang mereka. Ayyara merasa sangat ridak nyaman. ia terus melirik tidak suka kepada Toni. tapi pria itu nampak biasa saja mendapat tatapan tajam dari Ayyara.
setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di tempat tujuan. itu adalah salah satu pusat perbelanjaan milik GD Group. setelah mobil terparkir di basement, Ayyara dan Nia langsung turun dengan sumringah.
"ingat ya pak. jangan terlalu dekat" kata Ayyara memperingatkan.
"ya. baik Nona. saya dan anak buah saya akan berada agak jauh dari Nona."
Ayyara sangat puas mendengar jawaban dari Toni. yang benar saja ia harus dikawal kemana-mana. sangat tidak nyaman. tidak mungkin kan ia akan bertemu dengan Maya lagi? bahkan beberapa bulan ini wanita itu tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. dia tidak mungkin sedang merencanakan sesuatu kan? Ayyara tak percaya kalau Maya bisa sejahat itu. Maya mungkin sudah kapok berurusan dengannya.
"Nia. pilihlah apapun yang kau suka. aku akan membelikan 2 jenis barang yang sangat kau inginkan." ucap Ayyara.
"kak Yara jangan menggodaku ya."
"aku sungguh-sungguh. pilihlah."
__ADS_1
"benarkah? baiklah. dengan senang hati." kata Nia tertawa senang mendapat barang gratisan dari Ayyara.
Nia terus memilih-milih berbagai jenis tas dan sepatu yang ada dihadapannya. semuanya nampak sangat cantik, ia sampai bingung mau memilih yang mana. setelah lumayan lama menimbang-nimbang. akhirnya ia memilih sebuah Tas dan sepasang sepatu yang menurutnya paling cantik. dua barang itu adalah yang paling ia inginkan selama ini. harganya yang sangat mahal membuat Nia bertekad untuk menabung dan membelinya jika uangnya sudah terkumpul.
"apa ini terlalu mahal kak?" tanya Nia ragu. ia merasa tidak enak memilih dua barang yang harganya sangat fantastis itu.
"sudah, jangan fikirkan itu. aku kan sudah berjanji akan membayarkannya, berapapun harganya." jawab Ayyara. iya lah, sudah jadi Nyonya Gundala ini... hehe.
"trimakasih banyak ya kak." ujar Nia. ia tertawa bahagia. akhirnya ia mendapatkan tas dan sepatu yang selama ini ia inginkan.
setelah itu, mereka melanjutkan berkeliling lagi. kali ini Ayyara melihat-lihat perhiasan. ada sebuah kalung yang mencuri perhatiannya. ia meminta kepada penjaga toko untuk mengambilkannya. ia ingin mencobanya. setelah ia memakainya, itu terlihat sangat manis bertengger di lehernya yang jenjang. tapi Ayyara tak berniat membelinya. ia hanya ingin mencobanya saja setelah itu mengembalikannya kepada penjaga toko sebelum mereka keluar dari sana.
"kenapa tidak diambil kak?"
"tidak. aku hanya ingin mencobanya. kalung itu mengingatkanku pada sesuatu. dulu aku sempat punya satu yang sama persis seperti itu." jawab Ayyara.
__ADS_1
Nia hanya mendengarkannya saja. mereka terus saja keluar masuk toko-toko yang ada disana. Ayyara bahkan tak membeli barang apapun. ia hanya ingin melepas penat dan sekedar mencuci mata saja. yang ia beli hanya makanan dan camilan. mulutnya tak bisa berhenti mengunyah. ia merasa kelaparan sepanjang hari.