
"Nona Yara, bisakah anda membantu tuan Gama? tolong bantu dia dan tanda tangani surat perjanjian itu."
Ayyara hanya terdiam mendengar permintaan Arfan.
"bukankah tuan Gama berjanji akan mengungkap kasus kecelakaan orang tua anda?"
pertanyaan itu membuat Ayyara sontak menatap tajam kepada Arfan. lagi-lagi sisi sensitifnya di usik.
"tuan Gama bisa melakukan apapun. termasuk mengungkap kasus itu" tegas Arfan lagi.
"sebenarnya sampai mana kalian menyelidiki kehidupanmu? bahkan sampai lukaku pun kalian tau?" tanya Ayyara mulai memanas.
"tuan Gama bahkan bisa melakukan lebih dari itu. tolong jangan salah paham padanya. dia sama sekali tidak punya pilihan lain selain anda nona Yara, tolong rasakanlah ketulusannya. dia benar-benar membutuhkan bantuan anda. lagipula di dalam surat perjanjian itu, sama sekali tidak ada yang merugikan anda." Arfan masih terus merayu. "bukankah ini kesempatan yang baik untuk membalas mantan suami anda dan keluarganya?"
"aku bukan orang yang pendendam. aku tidak perlu melakukan hal itu."
__ADS_1
"tolong fikirkan lagi. anda bisa menambahkan syarat apapun kedalam surat itu. dan tuan Gama, akan mewujudkannya."
Ayyara berfikir keras. apa memang ini benar-benar kesempatan baginya untuk mengungkap kasus kecelakaan itu? memang kalau difikir-fikir, dia tidak bisa terus mengandalkan pihak kepolisian, karna memang tidak pernah ditemukan bukti apapun. dengan pengaruh yang dimiliki Gama, mungkin pria itu betul-betul bisa membantunya.
hanya satu hal itu yang ada difikiran Ayyara. dia sudah siap dengan resiko apapun kalau memang Gama bisa membantunya. dia tidak peduli seberapa banyak saham yang akan dia dapatkan, dia tidak tertarik dengan itu. lagipula dia sudah mencoreti point itu.
sebenarnya, Ayyara sudah menanda tangani surat itu. dan sudah menambahkan satu poin khusus yang menjadi syaratnya. namun ia masih ragu untuk menyerahkannya kepada Gama. ia ragu, apakah itu adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukannya?
lagipula ia merasa sebal karna sudah diteror oleh mantan suami dan ibunya, setiap hari mereka akan menelfon dan menanyakan perihal kejadian saat di pesta itu kepadanya. tentu saja Ayyara tidak pernah mengatakan apapun. tidak mengiyakan, ataupun membantahnya. jadi sekalian saja. fikir Ayyara. karna itu dia menanda tangani surat itu.
"apa-apaan kamu ini? tiba-tiba datang dan mengaku-ngaku sebagai kekasih dari calon suamiku?" hardik Maya dengan penuh amarah. sekelebat bayangan kegagalan muncul di benaknya.
"maafkan saya nona, tapi saya lebih dulu bertemu Gama sebelum Gama bertemu dengan anda.
kegigihan Ayyara membuat Maya semakin berang. ia meraih gelas berisi air putih dan langsung menyiramkannya keatas kepala Ayyara.
__ADS_1
"Maya.! apa-apaan kau.!" Gama berang. ia membentak Maya dengan nada suara yang tinggi.
"Maya..." Mama pun tak kalah terkejut. sikap Maya ini sama sekali tidak mencerminkan kewibawaannya sebagai seorang wanita.
"tapi dia ini wanita aneh ma... tiba-tiba datang dan mengaku-ngaku."
Mama tidak tau harus membela siapa. dia belum mendengar cerita utuhnya.
"kau tidak apa-apa?" tanya Gama. ia langsung berdiri dan melepas jas nya kemudian membalutkannya ke pundak Ayyara yang basah. Maya yang emosinya telah memuncak, semakin terbelalak melihat perlakuan Gama kepada gadis itu.
"Ma, tolong bawa Maya pulang. nanti aku sendiri yang akan menjelaskan kepada Mama." terang Gama.
"iya baiklah. Mama juga berfikir sebaiknya begitu. Maya, ayo kita pergi." ajak Mama. dengan menghentakkan kaki karna emosi, Maya mengikuti Mama keluar dari cafe itu. Ayyara sempat mengeluarkan senyum kemenangannya kepada Maya.
"ayo kita ke ruanganku. aku perlu penjelasan."
__ADS_1
Ayyara hanya terdiam saja saat Gama menyentuh bahunya dan menuntunnya ke dalam lift yang menuju ke lantai atas dimana ruangan Gama berada.