
hari ini hati Ayyara sedang berbunga-bunga. ia terus bersenandung sambil membereskan meja kerjanya yang baru. ia telah menyingkirkan semua hal yang berbau Dafa dari ruangan itu.
drt,,drt,,
ponsel Ayyara berbunyi.
"siapa ini?" gumamnya saat melihat nomor yang tidak dikenal tertera dilayar ponselnya.
"halo..." sapanya.
"halo, Yara. ini aku, Celine." jawab suara wanita dari seberang.
Celine? batinnya.
"ada apa?" tanya Ayyara penuh dengan kecanggungan.
"bisakah kita bertemu? aku sedang berada di kafe di lantai 1. ada hal yang ingin aku ceritakan." jelas Celine.
"baiklah." jawab Ayyara. kemudian ia menututup telfonnya
Ayyara berdiri di eskalator, matanya beredar mencari sosok Celine. ternyata wanita itu duduk di dekat jendela. Ayyara segera menghampirinya.
melihat kedatangan Ayyara, Celine berdiri dan mengangguk. ia memaksa senyumnya.
__ADS_1
suasananya sangat canggung. kedua wanita itu duduk saling berhadapan. berkali-kali mereka saling membuang pandangan. tak berani menatap satu sama lain.
"kenapa kau ingin menenuiku?" tanya Ayyara memecah keheningan.
"aku ingin meminta maaf padamu." kata Celine. ia memberanikan diri menatap mata bulat yang teduh milik lawan bicaranya itu.
"apa maksudmu?" tanya Ayyara bingung. setaunya, Celine tak punya salah dengannya.
"secara tidak langsung, aku telah menyakitimu melalui Dafa. sekarang aku tau rasanya. sangat menyakitkan menikah dengannya." ada rasa sesal di kalimatnya.
"kalian baik-baik saja?" jiwa kepo Ayyara meronta-ronta .
"kami baik-baik saja. yang tidak baik adalah hubunganku dengan Mamanya."
Ayyara menatap Celine dengan terkejut. bagaimana bisa? ia menunggu Celine bicara.
"aku baru saja bertengkar hebat dengan Mama. aku lelah, terus ditekan soal kehamilanku. jadi kali ini aku melawannya. aku tidak bisa membiarkan hatiku terus tersakiti dengan kata-kata tajam Mama. bukan salahku kalau aku tidak bisa hamil. ini salah Dafa. dialah masalahnya." jelas Celine mulai terisak.
mendengar penjelasan mengejutkan dari istri mantan suaminya, Ayyara tak tau harus bersikap bagaimana. sesama wanita, hatinya tentu saja ikut merasakan kesedihan Celine. karna dia sangat tau bagaimana sikap mantan ibu mertuanya itu. mungkin Rini adalah jenis ibu mertua yang sangat langka. ia terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya. semua serba diatur. kehidupan anak dan menantunya harus sesuai skenarionya.
"Celine..." hanya itu yang mampu keluar dari mulut Ayyara.
wajah Celine semakin nampak tirus. wanita itu sepertinya lebih kurus dari saat mereka bertemu di restoran waktu itu. dan entah kenapa, hal itu membuat Ayyara jadi ikut sakit hatinya. ia fikir Dafa dan Celine akan hidup bahagia, ternyata tidak. kehidupan pernikahan Celine tak jauh berbeda darinya.
__ADS_1
"Aku dan Dafa tidak masalah kalaupun pernikahan kami tidak dikaruniai buah hati. kami akan tetap saling mencintai. kami akan tetap bahagia karna memang takdirnya seperti itu." lirih Celine lagi.
apa?! berarti Celine tidak tau kalau Dafa pernah meminta Ayyara untuk kembali padanya? benar-benar si Dafa ini. bang**t. maki Ayyara dalam hati.
"aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu Celine. aku juga pernah merasakannya. memang seperti itulah Mama. kuatkan hatimu ya, yang penting Dafa selalu mencintaimu dan selalu ada untuk mendukungnu. itu sudah cukup."
ya, karna dulu Ayyara tak mendapatkan hal itu dari Dafa.
"iya. bahkan beberapa hari ini, sikap Dafa terasa berbeda, dia lebih memperhatikanku dan terus berada didekatku. dia juga membelaku di depan Mamanya. dan itu sedikit banyak membantu menguatkan hatiku. aku senang bisa mendapatkan dukungan dari Dafa. aku dengar kau sedang hamil? selamat Yara.. aku turut berbahagia." ucap Celine mengalihkan pembicaraan. tapi ada rasa nyeri dan iri didalam hatinya tentang kehamilan itu.
Celine tidak tau, bogem mentah Gama lah yang sudah menyadarkan suaminya.
"ya. trimakasih Celine." jawab Ayyara kemudian ia meneguk jus terung belanda kesukaannya.
"Mama sudah mendengar tentang kehamilanmu. entah bagaimana dia bisa tau, tapi yang jelas, mulut Mama semakin tak bisa dikendalikan. sepertinya Mama sangat marah dengan kehamilanmu Yara. dan aku yang menjadi imbasnya." jelas Celine lagi. ia kembali membahas masalah Rini si biang kerok hancurnya rumah tangga mereka.
mendengar hal itu, Ayyara hanya bisa menghembuskan nafasnya saja. geram sekali dia. sikap Rini memang sangat keterlaluan. mulutnya itu tak ada remnya.
"aku berencana pindah kerumah lain, tidak satu rumah dengan Mama, dan Dafa mendukung rencanaku, kami sedang mencari rumah untuk kami tinggali. sekarang Dafa sedang sibuk dengan bisnis barunya. dia membuka perusahaan travelnya sendiri." Celine memberitahu tanpa diminta.
"kalau masalah itu, bantulah dia Celine. karna kau lebih handal mengurus bisnis dari pada dia. dia tidak pandai mengurus perusahaan, apalagi kalau Mamanya sudah ikut campur. dia tidak akan bisa berkutik. sebisa mungkin, jauhkan Mama dari urusan perusahaan. karna aku sudah mengalaminya, aku hanya memberitahunu untuk berjaga-jaga saja. karna aku tulus mendoakan kebahagiaan kalian berdua." ucap Ayyara tulus.
netra bening milik Ayyara menyalurkan semangat kepada wanita yang duduk dihadapannya. dengan sesungging senyum, Celine menghapus bekas air matanya dan membalas tatapan Ayyara dengan penuh rasa teimakasih. Ayyara wanita yang baik. tapi sayang, Dafa dan Mamanya buta akan hal itu.
__ADS_1