
Ayyara terus saja berjalan tak tentu arah. kakinya sampai lecet dan berdarah karna high heels yang ia pakai. tapi ia tak merasakan sakit sedikitpun. hatinya jauh lebih sakit dari kakinya yang terluka. ia terus menangis di sepanjang jalan. ia tak lagi mempedulikan orang-orang yang berpapasan dengannya menatapnya heran.
udara dingin mulai menyeruak menusuk sampai ke tulang-tulangnya. gaunnya yang tanpa lengan membuatnya merasa sangat kedinginan. ia mencoba menghangatkan lengannya dengan mengusap-usapkan kedua telapak tangannya. ia tak tau harus kemana, tak tau harus bagaimana. ingin pulang ke rumahnya sulu, tapi jaraknya terlalu jauh. bisa-bisa besok pagi ia baru sampai kesana dengan berjalan kaki.
Ayyara tak membawa apapun, tak membawa dompet, bahkan ponselnya pun tertinggal di villa. dadanya masih terasa sakit. ia merasa sangat marah kepada Rini. kemarin Dafa, dan hari ini Rini. kenapa ibu dan anak itu terus saja mengganggunya? kenapa mereka tak mau melepaskan Ayyara dan membiarkannya menjalani hidupnya dengan tenang? kenapa mereka selalu saja mengusik Ayyara? padahal Ayyara sudah lepas dan tak mau berhubungan lagi dengan mereka. keluarga Gundala pasti sangat marah dengannya. sekarang apa yang harus ia lakukan? ia bahkan tak tau sedang ada dimana saat ini.
Ayyara menghentikan langkahnya di sebuah jembatan. ia memandangi air sungai yang mengalir dengan derasnya. ia sangat membenci Rini, ia juga sangat membenci Dafa. ia membenci keluarga itu.
sudah larut malam. Ayyara tak tau harus kemana lagi. ia masih berdiri di tepi jembatan. menggenggam pagar pembatas jembatan dengan sangat kuat. seolah ia ingin melampiaskan kemarahannya.
Gama... apa dia juga akan membenciku? batin Ayyara lirih.
perlahan air matanya mulai mengalir kembali. ia tergugu. lututnya terasa lemas. tubuhnya jatuh lunglai di samping jembatan. bolehkah ia marah kepada takdir?
__ADS_1
Ayyara memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di antara lengannya. ia merasa sangat lelah dan kedinginan. pori-pori dilengannya bahkan terbuka semua.
...****************...
Gama Asyik memandangi sebuah foto di ponselnya. foto seorang gadis yang mengenakan gaun pemberiannya. gadis itu nampak sangat anggun dengan rambut panjangnya yang tergerai.
berkali-kali Gama berniat menelfon Ayyara dan memberitahunya bahwa ia sudah tiba diindonesia, tapi berkali-kali pula ia membatalkan niatnya itu. ia ingin memberi kejutan untuk Ayyara. tapi apa gadis itu akan senang? tiba-tiba Gama ragu.
"Ma, apa Yara sudah tidur?" akhirnya Gama menelfon Mamanya. ia sedang ada di dalam mobil dan sedang menuju ke villa.
"apa?!" Gama sangat terkejut dengan cerita Mama. tiba-tiba ia merasa sangat panik.
Gama mencoba menghubungi Ayyara tapi tak diangkat. Gama bertambah panik. ia membentak supir untuk melajukan mobilnya dengan cepat. dan memerintahkan Arfan untuk melacak keberadaan Ayyara.
__ADS_1
sesampainya di villa, Gama segera berlari ke kamarnya, ia memanggil-manggil Ayyara, mencarinya di setiap sudut. ia mendapati ponsel gadis itu tergeletak di atas nakas. ia terus berteriak seperti orang kesetanan. ia berharap kalau Ayyara hanya bersembunyi di sekitar villa. dengan emosi Gama menyuruh semua pekerja yang ada di villa untuk mencari Ayyara sampai ketemu.
berkali-kali Gama mengusap wajahnya dengan kasar. ia berkacak pinggang dan berjalan mondar mandir di ruang tamu. Mama dan Papa juga tak kalah khawatir.
"apa Yara tak membawa ponselnya?" tanya Mama dengan ekspresi cemas. ia khawatir terjadi apa-apa dengan menantunya itu.
"tidak Ma, ponselnya ada dikamar. Yara... dimana kamu..."
Mama dan Papa trenyuh melihat Gama yang nampak sangat gundah mengkhawatirkan istrinya. sepertinya putranya itu sangat mencintai Ayyara. batin mereka.
"kenapa bisa perempuan itu datang Ma?"
"Mama juga tidak tau kalau dia adalah mantan ibu mertua Ayyara. wanita itu terus saja mengoceh tak karuan. menghina Ayyara dengan kata-kata busuknya. istrimu pasti sakit sekali hatinya. dimana dia kira-kira? apa kau tidak punya ide dia akan kemana?"
__ADS_1
"sial.!! Ma, Pa, aku pergi dulu kerumah lama Yara. mudah-mudahan dia ada disana." harap Gama.